Selasa, 01 November 2016

KAOS KAKI INEZ

(Agnes Krisantin Kusumawardani)

“Bu, Inez berangkat dulu ya!” seru Inez pada ibunya yang sedang menyiram tanaman di depan rumah.
      “Seragam untuk besok sudah kamu siapkan?” tanya ibunya.
“Ah, gampang, Bu. Bisa diatur nanti!”
            Ibunya hanya bisa geleng-geleng melihat tingkah laku Inez.
            Hari Minggu ini Inez bersama teman-temannya pergi tamasya ke Jatim Park yang terletak tak terlalu jauh dari rumahnya.
            Selesai menyiram bunga, ibu Inez menuju kamar Inez untuk mengecek seragam dan kaos kaki yang akan dipakai Inez besok di sekolah. Benar saja, 3 pasang kaos kaki  yang masih kotor menumpuk di sudut kamar bersama dengan seragam yang juga  kotor.
            Sambil menarik napas panjang, ibu Inez mengambil seragam kotor milik Inez, tapi tak seperti biasanya, kali ini ibu Inez membiarkan saja kaos kaki-kaos kaki tersebut tetap di tempatnya. Ibunya ingin memberi pelajaran pada Inez.
            Inez memang anak yang jorok dan malas. Ibunya berkali-kali mengingatkan supaya meletakkan pakaian kotor di tempatnya, tapi Inez tetap bandel. Kamarnya dipenuhi baju-baju kotor yang berserakan.
      Keesokan paginya, Inez mencari-cari kaos kakinya.
            “Mana ya kaos kakiku yang warna putih? Kok yang ada hanya warna hitam saja?” gerutu Inez sambil mengaduk-aduk isi lemari. Beberapa menit kemudian, dia belum juga menemukan kaos kaki yang dicari.

KABUT HAGENG WINANGOEN

(Agnes Krisantin Kusumawardani)

Bagian I
Malam itu bulan bersinar terang. Hanya sesekali awan tipis membelai perlahan. Tapi seakan enggan untuk menodai kecemerlangan cahaya bulan, sang awan pun segera menarik dirinya dan kembali mengembara di lautan angkasa.
Sosok lelaki tinggi kecil itu menghela napas panjang. Sambil menyenandungkan tembang yang sangat indah berpadu dengan desau angin malam yang semilir ;
"Wengi wis lumingsir jero
Tumiyung mangulon mapag tekane gagat raina
Mung swarane jangkrik sesahutan ngumbar lelagon
Nepsu-nepsu panguripan uwal saka nala
Gumanti impen-impen kang endah mbuntel panjangka urip
Cahya warna abang rampak-rampak
Pratandha ngjak jalma miwiti makarya
Ngobahake raga
Ngudi rejeki ngluru pangupajiwa
Sakwuse madhep kiblat
Ing tengahing pedhut manjing subuh
Nyeyuwun nugrahaning kang Maha Rat"..
Aduhai indahnya tembang itu. Maknanya seakan lebur dengan suasana malam itu.  Kalau sudah begini, apalagi yang dicari manusia. Hanya keserakahan semata yang membutakan terhadap segala karunia yang terpampang di depan mata.
Lagi-lagi lelaki itu menghela napas.

GURU BARU CAZA

(Agnes Krisantin Kusumawardani)

   Ada guru baru di sekolah Caza. Cantik, lembut, dan sabar. Ternyata cara mengajar beliau pun menyenangkan, sehingga semakin disukai oleh siswa. Teman-teman Caza segera berebut mencari perhatian sang guru. Mereka semua ingin bisa dekat dengan sang guru. Tak terkecuali Caza.
   Suatu hari, teman sekelas Caza yang bernama Guntur datang pagi-pagi di sekolah sambil membawa bungkusan besar. Teman-temannya sangat penasaran
   "Wah, apa yang kamu bawa itu?"
   "Hehe, lihat aja sendiri nanti " jawab Guntur.
   Tak berapa lama bel masuk pun berbunyi. Para siswa segera berbaris dengan rapi. Caza, sang ketua kelas memimpin barisan. Satu persatu, murid pun memasuki kelas.
   Bu Dewi, sang guru baru akhirnya memasuki kelas.
   Tiba-tiba Guntur maju ke depan kelas sambil membawa bungkusan yang besar itu.
   Bu Dewi yang sedang merapikan buku terlihat kaget. "Ada apa, Guntur?"
   "Eh, anu Bu. Ibu saya menitipkan ini buat Bu Dewi, oleh-oleh dari Jogja."
   "Lho, kenapa harus repot-repot? Apa ini?"
   "Ini makanan khas Jogja, Bu."

Selasa, 25 Oktober 2016

Udun



 (Moch. Cholis)

Udunen kali ini tidak sesederhana seperti udunen2 yg pernah saya alami. Seperti pesawat siluman F 16, datangnya tidak terdeteksi. Berawal dari bintik kecil di area betis yang awalnya tampak manis. Muncul seperti gadis lugu nan ayu. Tidak ada sama sekali tanda2 bahwa dia membawa bom atom atau virus yg bisa meledak tiba2.

Seperti biasa, ketika muncul bintik kecil tanda2 udun itu, upaya preventif saya lakukan. Kalo dulu saya tempeli *upil* spt nasihat orang2 tua dulu. Tapi krn zaman semakin maju dan tuntutan modernitas, maka saya coba tutupi dg plester. Asumsi sy bahwa yang penting tidak memberi kesempatan pada si udun kecil untuk bernapas. Cara ini telah berhasil menjinakkan setidaknya setengah lusin bibit ranjau udun yang tertanam di badan saya.

Riba



(Moch. Cholis)

Masalah Riba memang jelas, dalam Islam Allah swt melarangnya. Riba dalam arti sistem _renten_. Orangnya disebut _Rentenir_.

Yang menjadi perdebatan di kalangan para ulama adalah soal bunga bank. *Apakah bunga bank sama dg riba?* Itu yg debateble. Mayoritas ulama memang mengharamkan bunga bank krn menganggapnya sama dg riba. Jika pun halal, krn adanya kondisi darurat, spt pembayaran ONH dll. Tapi, ada juga ulama2 spt Syekh Al-Azhar (univ kairo Mesir), Sayyid Muhammad Thanthawi, Dr. Ibrahim Abdullah an-Nashir, dalam buku Sikap Syariah Islam terhadap Perbankan, Dr.Alwi Shihab dalam wawancaranya dengan Metro TV bbrapa waktu lalu, dll.

Rabu, 07 September 2016

Doa


(Heny Arifatur Rahmaniah)

Siang terik sepulang sekolah
Setiap langkah kecil
adalah doa dari bunda

Bersabarlah
Anakku sayang
ini adalah perjuangan

Jumat, 24 Juni 2016

Misteri


(Moch. Cholis)

Misteri biarlah tetap misteri
Keindahannya tersimpan sembunyi di balik kulit ari
Kenangan tak kan bisa membaca
Analisa selalu bersuamikan batasnya

Ketika tak ada cahaya yang mampu menjangkaunya
Kau akan temukan rahasia penciptaNya

Kamis, 19 Mei 2016

Ruang

(Moch. Cholis)

Tanpamu aku akan tetap terjaga
Menulis cerita disela sela sempitnya jarak yang tersisa
Memahat kisah cinta disisa sisa batang kayu yang termakan rayap

Bayanganmu menyelinap di kilau pisau pahatku
aroma rambutmu tercium di kopi pahit yang menemani malamku

Ketika aku terusir dari surga itu
Jiwaku telah siap menghirup derita
Sepanjang mana
Seperih apa
Selama kapan

Sabtu, 14 Mei 2016

Harmoni Pagi


(Moch. Cholis)

Burung-burung terbangun
Mengepakkan sayap terbang menyapa
Pagi

Wajah mentari berseri indah menebar
Nyala merah menyongsong hari

Darah-darah mendidih mengalir
Mendegupkan jantung menyambut
Perjuangan dengan penuh gairah

Pagi ini
Tumbuh-tumbuhan bersemi

Sabtu, 30 April 2016

Fatamorgana

 (Moch. Cholis)

Setiap terlintas bayanganmu
Getaran halus menyelusup
Di sebelah kiri rongga dadaku
Menyelinap di antara celah sempit
Lapisan epidermis
Masuk menusuk
Merasuk menuju kalbu

Berasa melihat angsa putih cantik
Berenang-renang di atas telaga nirwana
Yang bulu-bulunya diusap cahaya

Tinta Air Mata

(Moch. Cholis)

Waktu kuajukan rasaku pada langit
Dia tak sanggup jadi kanvas
Luasan tujuh lapis tak bersisa tepiannya
Begitupun samudera
Volumenya tak cukup dijadikan tinta

Pohon-pohon yang kurencanakan jadi pena
Bertumbangan ambles ke bumi
Menghindar tak terkejar
Tak sanggup mereka berkoordinasi
Melukis rasaku ini

Kamis, 21 April 2016

Rembulan Yang Tersandera


(Moch. Cholis)

Di antara wajah sendu
Yang sedang menunggu ketukan palu
Ingin aku menjadi lautan
Yang menampung semua air mata
Yang belum, sudah, dan akan tumpah

Angin yang berhembus
Di sela-sela bulu kudukku
Membawa cerita berbagai keluh-kesah manusia

Nafas-nafas yang tersengal kelelahan
Berpacu dengan derita
Yang tak berkesudahan

Selasa, 05 April 2016

Gumam Sang Kepompong



(M. Falikhul Isbah)
   
Kita pernah meniti licinnya
Batang kehidupan
Kita pernah terkepung para
omnivora pemangsa keadaan
Menyembunyikan jiwa putih
di balik hijaunya daun kebaikan

Dalam kepompong ini
Kita tidak berdiam diri
Namun bergerak meraup
wawasan

Sakit Gigi



(Moch. Cholis)

Aku benci sakit gigi
Aku benci gigiku yang sakit
Aku benci diriku yang dikalahkan
Sakit gigi

Aku benci diriku yang membenci
Diriku yang sakit gigi
Aku benci diriku yang membenci
Diriku sendiri yang sedang benci
Sakit gigi

Kosmik Kehidupan



(Himmah Mufidah)

Ketika pagi berganti siang
Bukan berarti diam
Ketika siang beranjak menjadi malam
Bukan tanpa pergerakan

Bukan detik, menit atau jam
Melainkan hari
Untuk menjadi sempurna

Dengan memahami dari dalam
Dengan menyelami diri
Diammu adalah yang utama
Meski bukan yang pertama

Kepompong



(Moch. Cholis)

Sebuah ruang yang tampak
diam dari kejauhan  bagai telaga
yang diterpa sinar penguasa
malam

Ruang tanpa sekat tempat ulat
ulat lama bertemu saling
bertukar bulu

Ulat-ulat yang lahir dari telur
yang sama
Menjadi tak tetap sama dalam
eraman ruang waktu yang
mengukir warna pada bulu bulu
mereka

Sabtu, 02 April 2016

Tentang Kami

Sekumpulan jiwa-jiwa yang terus mencari ridha-Nya, di antara penuh sesak kehidupan dunia yang terus .

Paradoks



(Moch. Cholis)

Rembulan merah semakin merah
Di tengah awan mega gelap yang
bekerja untuk cahaya

Paradoks yang indah
Kontras yang seimbang

Terang memuji gelap yang
membuatnya semakin terang
Bahagia memuji sedih yang
membuatnya semakin indah

Jumat, 01 April 2016

Masjid Jami’ Sumenep

(Masjid Tertua Berarsitektur Cina Simbol Peradaban di Timur Madura)

(Ahmad Baihaqi)

Masjid Jami’ Sumenep Jawa Timur merupakan satu diantara sepuluh masjid tertua berarsitektur unik di nusantara. Tembok bagian depan masjid dibangun kokoh dengan arsitektur Cina. Masjid yang kini berusia 235 tahun ini dibangun oleh arsitek Cina dan menjadi simbol pembauran antara budaya Islam dan Cina di Madura pada masa lampau.
  



Masjid Jami’ yang terletak di Jalan Trunojoyo nomer 6 Kelurahan Bangselok kecamatan Kota  Sumenep Jawa Timur ini dibangun pada tahun 1779 hingga 1787 Masehi oleh Panembahan Sumolo yang memerintah kerajaan Sumenep waktu itu.

Sabtu, 26 Maret 2016

Jilbab



(Ahmad Baihaqi)

Pak polisi
Kalau aku salah jangan kau tangkap
Pak jaksa
Kalau aku salah jangan kau tuntut
Pak hakim
Kalau aku salah jangan kau hukum

Aku masih kecil
Jiwa halusku lahir delapan belas tahun
setelah aku dilahirkan
Aku belum bisa apa-apa

Nona yang kemarin ada di depanku
sekarang meringkuk dalam puisiku
bercucuran keringat
dan bercucuran tanda tanya