Tampilkan postingan dengan label Puisi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Puisi. Tampilkan semua postingan

Rabu, 07 September 2016

Doa


(Heny Arifatur Rahmaniah)

Siang terik sepulang sekolah
Setiap langkah kecil
adalah doa dari bunda

Bersabarlah
Anakku sayang
ini adalah perjuangan

Jumat, 24 Juni 2016

Misteri


(Moch. Cholis)

Misteri biarlah tetap misteri
Keindahannya tersimpan sembunyi di balik kulit ari
Kenangan tak kan bisa membaca
Analisa selalu bersuamikan batasnya

Ketika tak ada cahaya yang mampu menjangkaunya
Kau akan temukan rahasia penciptaNya

Kamis, 19 Mei 2016

Ruang

(Moch. Cholis)

Tanpamu aku akan tetap terjaga
Menulis cerita disela sela sempitnya jarak yang tersisa
Memahat kisah cinta disisa sisa batang kayu yang termakan rayap

Bayanganmu menyelinap di kilau pisau pahatku
aroma rambutmu tercium di kopi pahit yang menemani malamku

Ketika aku terusir dari surga itu
Jiwaku telah siap menghirup derita
Sepanjang mana
Seperih apa
Selama kapan

Sabtu, 14 Mei 2016

Harmoni Pagi


(Moch. Cholis)

Burung-burung terbangun
Mengepakkan sayap terbang menyapa
Pagi

Wajah mentari berseri indah menebar
Nyala merah menyongsong hari

Darah-darah mendidih mengalir
Mendegupkan jantung menyambut
Perjuangan dengan penuh gairah

Pagi ini
Tumbuh-tumbuhan bersemi

Sabtu, 30 April 2016

Fatamorgana

 (Moch. Cholis)

Setiap terlintas bayanganmu
Getaran halus menyelusup
Di sebelah kiri rongga dadaku
Menyelinap di antara celah sempit
Lapisan epidermis
Masuk menusuk
Merasuk menuju kalbu

Berasa melihat angsa putih cantik
Berenang-renang di atas telaga nirwana
Yang bulu-bulunya diusap cahaya

Tinta Air Mata

(Moch. Cholis)

Waktu kuajukan rasaku pada langit
Dia tak sanggup jadi kanvas
Luasan tujuh lapis tak bersisa tepiannya
Begitupun samudera
Volumenya tak cukup dijadikan tinta

Pohon-pohon yang kurencanakan jadi pena
Bertumbangan ambles ke bumi
Menghindar tak terkejar
Tak sanggup mereka berkoordinasi
Melukis rasaku ini

Kamis, 21 April 2016

Rembulan Yang Tersandera


(Moch. Cholis)

Di antara wajah sendu
Yang sedang menunggu ketukan palu
Ingin aku menjadi lautan
Yang menampung semua air mata
Yang belum, sudah, dan akan tumpah

Angin yang berhembus
Di sela-sela bulu kudukku
Membawa cerita berbagai keluh-kesah manusia

Nafas-nafas yang tersengal kelelahan
Berpacu dengan derita
Yang tak berkesudahan

Selasa, 05 April 2016

Gumam Sang Kepompong



(M. Falikhul Isbah)
   
Kita pernah meniti licinnya
Batang kehidupan
Kita pernah terkepung para
omnivora pemangsa keadaan
Menyembunyikan jiwa putih
di balik hijaunya daun kebaikan

Dalam kepompong ini
Kita tidak berdiam diri
Namun bergerak meraup
wawasan

Sakit Gigi



(Moch. Cholis)

Aku benci sakit gigi
Aku benci gigiku yang sakit
Aku benci diriku yang dikalahkan
Sakit gigi

Aku benci diriku yang membenci
Diriku yang sakit gigi
Aku benci diriku yang membenci
Diriku sendiri yang sedang benci
Sakit gigi

Kosmik Kehidupan



(Himmah Mufidah)

Ketika pagi berganti siang
Bukan berarti diam
Ketika siang beranjak menjadi malam
Bukan tanpa pergerakan

Bukan detik, menit atau jam
Melainkan hari
Untuk menjadi sempurna

Dengan memahami dari dalam
Dengan menyelami diri
Diammu adalah yang utama
Meski bukan yang pertama

Kepompong



(Moch. Cholis)

Sebuah ruang yang tampak
diam dari kejauhan  bagai telaga
yang diterpa sinar penguasa
malam

Ruang tanpa sekat tempat ulat
ulat lama bertemu saling
bertukar bulu

Ulat-ulat yang lahir dari telur
yang sama
Menjadi tak tetap sama dalam
eraman ruang waktu yang
mengukir warna pada bulu bulu
mereka

Sabtu, 02 April 2016

Paradoks



(Moch. Cholis)

Rembulan merah semakin merah
Di tengah awan mega gelap yang
bekerja untuk cahaya

Paradoks yang indah
Kontras yang seimbang

Terang memuji gelap yang
membuatnya semakin terang
Bahagia memuji sedih yang
membuatnya semakin indah

Sabtu, 26 Maret 2016

Jilbab



(Ahmad Baihaqi)

Pak polisi
Kalau aku salah jangan kau tangkap
Pak jaksa
Kalau aku salah jangan kau tuntut
Pak hakim
Kalau aku salah jangan kau hukum

Aku masih kecil
Jiwa halusku lahir delapan belas tahun
setelah aku dilahirkan
Aku belum bisa apa-apa

Nona yang kemarin ada di depanku
sekarang meringkuk dalam puisiku
bercucuran keringat
dan bercucuran tanda tanya

Rangkul Aku



 (M. Falikhul Isbah)

Aku hanya berkelakar
Tak maksud berkoar
Apalagi menjarah egomu
Atau merambah sisi kepekaan
Nalurimu

Apa perlu aku bersujud
Inginku hanya mengapit tanganmu
Menancapkan akarmu agar kau
Tumbuh
Memecahkan batas-batas kata yang
Beku

Jumat, 25 Maret 2016

Matahari Baru



(Moch. Cholis)

Anganku melayang menyusuri pematang
awan gelap angkasa

Menunggu dalam rindu
matahari baru

Tak puas rasa hanya bercengkrama
dengan purnama

Senja Berkata-kata


(Himmah Mufidah)

Senja merapat
Namun tak sempat ada kata
Langit mulai temaram
Kala hatimu rapuh
Menorehkan luka
Tanpa kata

Senja bergumam perlahan
Bersama temaram tanpa kata

Kamis, 24 Maret 2016

Celoteh Bulan



(Moch. Cholis)

Sengaja kutahan diri untuk tidak
mencuri pagi

Aku sadar
maksimal aku hanya bulan di tempat
ini

Bulan yang hanya menyimpan cahaya
mentari untuk dipantulkan kembali

Bulan yang boleh muncul ketika
mentari pergi

Tanah



(Agnes Krisantin K)

Gelap tak berhawa
Toh cacing kesuburan hidup
di dalamnya

Kosong tak bernyawa
Toh bakung tumbuh
di atasnya

Hitam tak enak dilihatnya
Toh darinya manusia dibentukNya

Rabu, 23 Maret 2016

Transisi Lukisan



(M. Falikhul Isbah)

Apa kau yakin dengan lukisanmu
Dari warna yang kau tuang
Dengan garis yang terbentang

Bagaimana kau yakin dengan lukisanmu
Dengan imaji yang tersamar
Dan nyata yang terpapar

Mengapa kau yakin dengan lukisanmu
Jika siang tergambar malam
Jika putih menjadi kelabu

Interospeksi



(M. Laila Ussarif)

Berhentilah sejenak saat hatimu
dikoyak setan

Berhentilah sejenak saat hatimu
dirundung mendung

Berhentilah sejenak saat hatimu
berbunga-bunga