Selasa, 01 November 2016

KABUT HAGENG WINANGOEN

(Agnes Krisantin Kusumawardani)

Bagian I
Malam itu bulan bersinar terang. Hanya sesekali awan tipis membelai perlahan. Tapi seakan enggan untuk menodai kecemerlangan cahaya bulan, sang awan pun segera menarik dirinya dan kembali mengembara di lautan angkasa.
Sosok lelaki tinggi kecil itu menghela napas panjang. Sambil menyenandungkan tembang yang sangat indah berpadu dengan desau angin malam yang semilir ;
"Wengi wis lumingsir jero
Tumiyung mangulon mapag tekane gagat raina
Mung swarane jangkrik sesahutan ngumbar lelagon
Nepsu-nepsu panguripan uwal saka nala
Gumanti impen-impen kang endah mbuntel panjangka urip
Cahya warna abang rampak-rampak
Pratandha ngjak jalma miwiti makarya
Ngobahake raga
Ngudi rejeki ngluru pangupajiwa
Sakwuse madhep kiblat
Ing tengahing pedhut manjing subuh
Nyeyuwun nugrahaning kang Maha Rat"..
Aduhai indahnya tembang itu. Maknanya seakan lebur dengan suasana malam itu.  Kalau sudah begini, apalagi yang dicari manusia. Hanya keserakahan semata yang membutakan terhadap segala karunia yang terpampang di depan mata.
Lagi-lagi lelaki itu menghela napas.

Sebentar lagi purna sudah tugasnya. Anak lelakinya sudah cukup dewasa untuk menggantikannya.
Akan tetapi, sepertinya raut wajah lelaki itu menyiratkan kekhawatiran. Bukan kekhawatiran akan alam yang sudah baku bentuk dan kinerjanya. Akan tetapi kekhawatiran akan sang anak yang sudah besar tapi belum dewasa benar.
Sang lelaki beranjak dari tempatnya duduk. Teras pendopo seakan menari nari ditimpa bayangan sinar lampu obor yang dipermainkan angin.
Tak berapa jauh dari sana, hanya sepuluh depa saja jaraknya, seorang pemuda tampan bersembunyi di atas pohon. Alis indahnya berpaut, membentuk segaris bentangan hitam yang berlekuk. Akan tetapi kedua alis yang indah itu menaungi sepasang mata yang sangat tajam. Tajam bukan karena kecerdasannya, akan tetapi tajam karena ambisinya yang terlalu besar akan sesuatu.
"Apa yang romo lakukan? Kenapa beliau tidak mempersiapkan untuk upacara penobatan? Malahan duduk melamun di sini? Atau jangan-jangan romo mengurungkan niatnya..."
Alis indah itu semakin melengkung mempertautkan bentuknya yang indah.
Setelah mengepalkan tangan dia berjumpalitan turun ke tanah.
                                      ***
Pagi itu sedikit mendung. Akan tetapi tidak menyurutkan tekad Bagus untuk berlatih. Dengan menyebut asma Gusti ingkang Maha Kuasa... dia melatih pernapasan. Ilmu pernapasan sangat penting dalam menjaga kebugaran dan ilmu kanuragannya. Dari situlah oksigen mengalir dalam setiap denyut nadinya, mengalir menuju otot-otot tubuhnya, menghasilkan tenaga yang dahsyat.
Setelah bertahun-tahun menjadi murid Eyang Semaraputra, cukuplah baginya untuk memiliki kepandaian dalam ilmu kanuragan. Bahkan bisa dibilang, Bagus bakal menjadi sosok yang disegani di dunia kanuragan.
Eyang Semaraputra adalah seorang pertapa yang tinggal di puncak gunung Lawu. Beliau mengabdikan hidupnya untuk Sang Hyang Widhi, menolong orang orang yang tertindas.
Suatu hari, saat Eyang Semaraputra mencari umbi2 dan daun2an untuk dimasak, beliau mendengar suara tangis seorang anak kecil. Telinganya yang telah terlatih mengikuti arah suara itu. Secepat kilat, sampailah beliau di hadapan seorang anak umur 7 tahun berpakaian compang camping.
"Hai anak kecil, apa yang kau lakukan di sini dan mengapa kau menangis?"
Anak kecil itu terkejut, akan tetapi yang cukup membuat Eyang Semara kagum adalah kemampuan anak itu menguasai diri. Dengan segera anak itu menjawab, "Mohon ampun Eyang, orang tua saya dibunuh orang. Sewaktu saya pulang dari ngarit, rumah saya porak poranda dan bapak ibu saya meninggal", sambil tersedu sedu anak itu bercerita. "Sekarang saya sebatang kara, tidak punya siapa siapa lagi".
Terbitlah rasa iba di hati Eyang Semara. Segera beliau memutuskan untuk mengajak anak tersebut ikut dengannya.
Tanpa berpikir panjang, anak itupun mengiyakan. Malah dia sangat bersyukur ada orang yang mau mengasuhnya.
Sampai sekarang, 14 tahun kemudian, Bagus telah tumbuh menjadi seorang pemuda yang gagah. Tutur kata dan halus budinya semakin menambah tampan wajahnya. Pembawaannya yang jujur dan tegas, semakin menambah pesonanya. Tapi dasar Bagus adalah orang yang lugu, dia seakan tidak sadar akan pesonanya itu.
Di suatu sore yang sejuk, eyang Semaraputra memanggil Bagus, "Ke sinilah Le, aku ingin bicara denganmu."
"Inggih, Eyang."
"Kamu tahu, kenapa kamu aku suruh menghadap aku?" Bagus hanya menggelengkan kepala. "Kamu sudah dewasa, Le, sedang aku sudah tua. Sudah tiba waktu bagimu untuk berkelana mengabdikan ilmumu untuk sesama."
"Apa maksud Eyang?"
"Pergilah, Bagus. Pergilah ke arah utara. Di sana kamu akan menemukan banyak pengalaman hidup yang berguna"
Bagus bimbang sejenak. Dia tidak ingin meninggalkan eyang yang telah mendidik dan merawatnya, yang telah membesarkannya layaknya anaknya sendiri. Tapi dia juga tak hendak membantah beliau. Maka dengan berat hati, Bagus pun berkata, "Baik, Eyang. Saya mohon doa restu dari Eyang selalu, supaya saya dapat mengemban amanat ini dengan sebaik-baiknya.
Keesokan harinya, pagi pagi benar, Bagus sudah siap untuk memulai kehidupan yang sebenar-benarnya. Dengan dua potong baju sederhana dan bekal makanan secukupnya, Bagus berpamitan pada eyang Semaraputra.
Eyang Semaraputra melepas kepergian Bagus dengan penuh keiklasan hati. Tak adalah guna menangisi kepergian orang yang kita kasihi, karena semua yang ada di dunia bukanlah hak kita. Kepunyaan Ingkang Mubeng Dumadi lah sejatinya.
Eyang Semaraputra kembali melanjutkan semedinya. Dengan mengambil napas panjang, beliau menangkupkan kedua tangan di depan dada. Tak berapa lama, kembali meleburlah beliau pada Sang Penciptanya dunia... Hamba hanyalah hamba sahaja... terjadilah pada diri hamba menurut kehendak Engkau..
Malam telah larut, Bagus memutuskan berhenti untuk  melepas lelah. Sampailah dia di sebuah dusun yang cukup besar. Karen a telah larut, maka dusun tersebut cukup sepi. Tapi dengan ilmu kepandaian Bagus yang tinggi, maka sayup-sayup Bagus mendengar suara canda tawa para pria. Akan tetapi, yang membuat Bagus sontak berdiri, adalah ketika didengarnya jeritan memohon dr seorang wanita, terlebih kemudian diikuti oleh tawa kurang ajar beberapa pria.
Naluri Bagus yang selalu mengedepankan menolong sesama yg membutuhkan mengantar tubuh Bagus menuju asal suara tadi. Tak berapa lama, sampailah Bagus pada sebuah warung. Seorang wanita tengah diperlakukan tidak pantas oleh para pemuda tadi.
Darah mendidih dalam tubuh Bagus. Ingin rasanya melayangkan pukulan yang mematikan pada pemuda-pemuda bejat itu. Tapi Bagus teringat pada wejangan eyang Semara ; ‎"Dadio banyu, ojo dadi watu". Dengan bentuknya yang cair, maka ia terasa lembut jika sampai di kulit kita. Berbeda dengan watu (batu). Batu memiliki zat yang keras. Pertanyaannya,  kuat manakah air atau batu? Kita tidak bisa menusuk air dengan belati. Tetapi batu bisa pecah dengan dengan air. Artinya, meski terlihat lemah, namun air memiliki kekuatan yang dahsyat. Tetes demi tetes air, akan mampu menghancurkan batu. Dari filosofi tersebut, kita bisa belajar bahwa hidup di dunia ini kita seharusnya lebih mengedepankan sifat lemah lembut bak air. Dunia ini penuh dengan permasalahan. Selesaikanlah segala permasalahan itu dengan meniru kelembutan dari air.  Kalau kita meniru kerasnya batu dalam menyelesaikan setiap permasalahan di dunia ini, maka akan timbul permasalahan baru..."
Wejangan eyang Semara tak urung membuat Bagus mengurungkan niatnya membunuhi bajingan-bajingan tadi.
"Hai kisanak sekalian. Gadis ini sepertinya enggan diperlakukan seperti itu. Tidakkah lebih baik kalau kisanak sekalian berhenti mengganggu gadis ini?" Tegur Bagus.
Para pemuda itu serentak menoleh ke arah suara. Saking asyiknya "menggoda" perempuan itu, sampai mereka tidak mengetahui ada orang yang datang.
Salah satu pemuda itu, yang berparas paling tampan di antara teman2nya dan terlihat yang paling berada karena baju mewah yang dikenakannya, menuding Bagus dan berkata, "Hai siapa kamu? Apa hakmu melarangku? Apa hakmu berkata seperti itu pada putra seorang wedana! Kamu sudah bosan hidup ya?!"
"Mohon ampun Raden, tapi sudah sewajarnya apabila sesama manusia saling mengingatkan apabila ada yang berbuat kesalahan."
Perempuan yang tadi diganggu segera melepaskan diri dari cengkeraman salah satu pemuda itu dan serta merta bersembunyi di balik tubuh Bagus.

"Hahahaha, dasar bocah kampung kere! Mau cari mampus kamu ya?"
Pemuda tadi langsung melancarkan tendangan telak pada Bagus. Bagus yang memang sudah digembleng sedemikian rupa oleh Eyang Semaraputra, dengan mudah saja mengelak dari serangan tersebut. Baginya, gerakan serangan tadi masih lamban dan kasar.
Dia sengaja menunggu serangan berikutnya, tidak ingin melancarkan serangan apapun pada pemuda tampan itu.
Pemuda itu me rasa gusar karena tendangannya tadi dengan mudah bisa dielakkan oleh pemuda tampan yang asing baginya ini. Dengan gemas, ia memberi aba-aba pada teman-temannya untuk mengeroyok Bagus.
Biarpun dikeroyok empat orang sekaligus, mudah saja bagi Bagus untuk menghindar. Dengan sekali sabet dengan buntalan bekalnya, dia bisa membuat  pengeroyoknya terpental ke belakang sampai sejauh 5 meter. Namun Bagus sudah memperhitungkan bahwa sabetannya tidak akan melukai para pengeroyoknya. Hanya angin saja yang mendorong pengeroyoknya jatuh terjengkang. Secepat kilat Bagus membopong gadis itu untuk melarikan diri. Dia ingin menyelamatkan gadis itu sekaligus menghindarkan diri dari pertikaian lebih lanjut.
Larinya yang secepat kilat membuat pengeroyoknya hanya melongo tak bisa berbuat apa-apa.
                                 ***
Wedana Koesnohudoyo mondar mandir di pendopo. Sudah dua hari dua malam ini Tedja tidak pulang. Memang selama ini cukup sering Tedja tidak pulang, hanya saja besok adalah penobatannya  untuk menjadi seorang wedana, menggantikan dirinya. Sebenarnya, dirinya sendiri tidak terlalu yakin kelak Tedja bisa memimpin rakyatnya dg baik. Tedja selama ini adalah seseorang yang tamak dan egois. Kesejahteraan rakyat pastilah bukan prioritiasnya.
Tapi anak itu sangat menginginkan kedudukan wedana. Dan Koesnohudoyo adalah seorang bapak yang sangat menyayangi anaknya. Yah itulah kelemahan manusia, seringkali dibutakan oleh cinta, tak tahu mana yang terbaik untuk si "dia".
Segala sesuatu yang terjadi di dunia ini adalah atas ijin dari Yang Maha Kuasa. Biarpun menurut akal manusia suatu hal seharusnya tidak terjadi, namun jika Tuhan yang berkehendak, maka suatu hal yang sekiranya buruk, pasti ada hikmah terselip di baliknya.
Begitupun dengan situasi di wilayah kawedanan Koesnohudoyo, sang putra yang terkenal buruk di mata masyarakat naik tahta menggantikan ayahnya.
Atas permintaan Tedja, perayaan penobatan dirinya dirayakan secara besar-besaran. Pendopo kawedanan disulap menjadi tempat pesta yang indah. Musik mendayu terdengar sepanjang waktu,  hidangan-hidangan lezat terhidang silih berganti, tak menyisakan ruang kosong pada meja hidang. Wanita-wanita ledek bertebaran di ruangan itu, saling menggoda para tamu pria. Seolah telah lupa pada akhir dunia, segala dosa seakan sah-sah saja.
Sedang mantan wedana Koesnohudoyo sendiri memilih untuk mengasingkan diri dari dunia, mencoba mendekatkan diri pada Sang Illahi, mengondisikan lereng Gunung Lawu sebagai rumahnya sampai titik akhir hayatnya. Dia merasa telah gagal membentuk Tedja menjadi pemuda yang baik akhlaknya. Sebagai manusia kecil, yang bisa dia perbuat hanyalah ndedunga, merasa bahwa hanya tangan Tuhanlah yang mampu mengubah sifat dan perilaku sang putra.
                 ****
Bagus menurunkan gadis itu dari gendongannya. Setelah berlari sekitar 3 kilometer jauhnya, melewati hutan yang cukup lebat, sampailah Bagus di pinggir sebuah sungai kecil. Tempat yang cocok untuk melepas penat.
Bulan purnama yang tak rela sinarnya tertutupi oleh rindangnya pohon, mencoba selalu bergeser mencari celah supaya sinarnya sampai ke tanah.
"Mohon maaf, saya terpaksa menggendong Adik. Kita harus menghindar sesegera mungkin dari pemuda berandal tadi. Apakah kamu baik-baik saja?" Bagus mengamati gadis itu, mencari-cari kalau-kalau ada bagian tubuh yang terluka.
Tapi alangkah fatal akibatnya... yang terlihat dengan matanya adalah sebuah pemandangan indah, yang terindah yang pernah dia lihat seumur hidupnya.
Wajah yang bulat telur dengan janggut lebah menggantung, mata lebar berbentuk kacang almond, alis lebat berbentuk lembut sempurna, dan bibirnya... bibirnya begitu indah.
Bagus sangat asing dengan perasaan yang dirasakannya saat ini. Sebuah perasaan yang luar biasa.. luar biasa bahagia, seakan tak ingin berpisah, ingin selalu dekat dengannya, menyentuh tangannya, menggandeng dia ke manapun pergi.
Dari pihak perempuan pun ternyata tak jauh beda. Baru pertama kali ini dia melihat seorang pemuda yang begitu mempesonanya. Letak tinggalnya yang di kota praja, membuat dia sering bertemu dengan pria tampan sebelumnya. Akan tetapi ada yang berbeda dari pria di hadapannya ini.
Ada kelemahlembutan pada wajah tampannya, ada kebijaksanaan dan perlindungan dalam mata tajamnya, ada kejujuran tercetak di lekuk bibir indahnya.
Murni menggigit bibirnya, dia merasa gelisah, ada sensasi aneh sewaktu berdekatan dengannya. Perasaan ingin selalu dilindungi oleh pria penolongnya ini. Dan perasaan-perasaan aneh lainnya...
                                 ***
Dua sejoli terlihat sedang berkejaran di tepian hutan. Tawa riang terdengar, menularkan kebahagiaan bagi yang mendengarnya. Bagaimana tidak, kemurnian cinta mereka menyebar di atmosfer udara, menelusup ke dalam pembuluh darah, menuju jantung, sehingga berdegup penuh gairah hidup.
Ya, mereka berdua adalah Bagus dan Murni. Sepasang muda mudi yang baru saja menjalin kasih. Cinta murni di antara mereka, tak pelak membuat mereka semakin terikat satu sama lain.
Bagus mengajarkan ilmu bela diri pada Murni, supaya Murni memiliki bekal dalam menghadapi dunia yg penuh bahaya ini. Dengan telaten dia mengajari Murni berbagai ilmu kanuragan yang dia miliki.
Murni ternyata sangat cerdas dan ulet, mampu menjalani latihan-latihan dengan tabah dan penuh kesungguhan. Tak membutuhkan waktu yang terlalu lama untuk menyerap hampir semua ilmu yang dimiliki Bagus.
Suatu pagi yang dingin, ketika mereka sedang asyik berlatih, mereka dikejutkan oleh suara ranting yang patah karena terinjak sesuatu yang cukup berat. Segera mereka menghentikan latihan dan menajamkan pendengaran mereka.
Terdengar suara rintihan disertai desakan lembut seseorang untuk terus berjalan.
Bagus dan Murni saling berpandangan. Suara tadi seperti suara orang yang sedang kesulitan. Tanpa berkata apapun, mereka segera berlari menuju asal suara tadi. Cepat saja mereka sampai, dan mengintai melalui celah dedaunan semak.
Dua orang laki-laki separuh baya terlihat duduk di sebuah batang pohon besar yg tumbang melintang di tepi hutan. Salah seorang dari mereka terlihat kesakitan sambil memegang perutnya. Terlihat darah mengalir dari sela-sela jari tangannya, sementara seorang yang lain terlihat sedang mengumpulkan tenaga dalam untuk menyalurkan energinya pada rekannya yang sedang kesakitan dan terlihat kehilangan banyak darah itu. Diusap-usapkannya kedua tapak tangan, kemudian ditempelkannya pada tubuh rekannya yang terluka.
Orang yang terluka itu menegakkan punggungnya. Dia memejamkan mata sambil mengatur napas untuk menerima tenaga dalam yang bisa menyembuhkan lukanya. Napas yang pada mulanya tersengal-sengal kini sudah mulai teratur.
Bagus yang sedari tadi memperhatikan, tetap bersembunyi di balik lebatnya dedaunan. Ternyata kedua orang itu bukanlah orang lemah, melainkan orang yang memiliki ilmu kanuragan yang cukup tinggi. Hanya saja Bagus masih menerka-nerka, kedua orang tersebut termasuk buruk atau baikkah, di pihak yang benar ataukah yang salah, mengingat kedua orang tersebut baru saja terlibat perkelahian yang hampir merenggut nyawa salah satunya.
Bagus yang masih dalam pikirannya sendiri tiba-tiba dikejutkan oleh suara tawa yang mwnggelegar. Tawa itu begitu nyaring, seakan-akan sanggup merontokkan jantung orang yang berada di dekatnya.
"Hahaha, jangan harap kau bisa melarikan diri dariku, hai para penghianat!". 
Kedua orang itu segera berdiri memasang kuda-kuda. Sambil memandang berkeliling, mencari sosok yang memiliki suara seram tadi. Tapi suara menyeramkan itu tak jua terlihat sosoknya.
Tiba-tiba berkelebatlah bayangan hitam dalam gerakan cepat yang tidak disangka-sangka, menghampiri kedua orang yang terluka tadi. Sebuah tendangan hebat langsung mendarat di dada salah satu orang yang terluka. Sungguh sikap yang tidak terpuji dalam dunia persilatan, menyerang orang dengan sembunyi-sembunyi, menunjukkan sikap yang tidak sportif sama sekali.
Orang yang mendapat serangan langsung terjengkang dan terlempar hingga dua depa.  Darah segar mengalir dari mulutnya, dia tak bergerak lagi. Mati.
Melihat rekannya terkapar, tersulutlah kemarahannya, "Hai, Bajul Ijo, kau orang licik, kau tak pantas hidup! Wajar jika kau jadi anteknya, sama-sama kelakuan kalian!"
Mendengar itu, marahlah Bajul Ijo. Dia adalah orang yang selama ini sangat ditakuti. Saat dia lewat, semua orang langsung membungkukkan badan dan gemetar. Orang yang memiliki anak gadis, segera menyembunyikan anak gadisnya supaya tidak menjadi korban kebiadaban Bajul Ijo. Bajul Ijo terkenal sakti, akan tetapi dia samasekali tidak sakti dalam melawan nafsu duniawi. Dirinya menjadi budak setan dan dia sama sekali tidak keberatan.
Selama ini tidak ada yang berani menentangnya. Jadi ketika ada orang yang dengan terang-terangan menghinanya, marah besarlah dia.
"Hai, kau tidak pantas hidup!" teriaknya. Teriakan itu bukanlah teriakan biasa. Teriakan itu mengandung tenaga sihir yang mampu mengguncang jantung dan memecah pembuluh darah bagi yang berada di sekitarnya.
Ki Legowo segera menyadari adanya unsur sihir dalam teriakan itu. Segera dia memejamkan mata dan mengerahkan tenaga dalamnya. Akan tetapi, sihir itu sangat kuat. Tubuhnya sedikit terguncang menahan serangan pihak lawan.
Begitupun Bagus dan Murni yang berada di tempat persembunyian. Jarak yang tidak terlalu jauh dari Bajul Ijo membuat Bagus dan Murni berada dalam gelombang sihir Bajul Ijo. Namun Bagus adalah seorang yang sangat digdaya. Kesaktian yang diturunkan oleh sang guru teramat luar biasa. Akibatnya tenaga dalam yang dimilikinya tak terkalahkan. Mudah saja baginya mengenyahkan pengaruh sihir itu, akan tetapi lain halnya dengan Murni. Ilmu Murni masih mentah, belum terasah, dan tidak semua ilmu Bagus bisa diturunkan pada Murni karena tubuh Murni terlalu rentan untuk sanggup menerima kesaktian yang luar biasa itu.
Murni terlihat terguncang hebat, tatkala Bajul Ijo mulai merapal mantra. Segera Bagus menyalurkan tenaga dalamnya pada punggung Murni melalui tangan kirinya. Seketika itu juga tubuh Murni terlihat tenang dan stabil.
Akan tetapi lain halnya dengan lawan Bajul Ijo, yaitu Ki Legowo. Dari kedua telinga dan hidungnya mulai mengeluarkan darah. Melihat itu, Bagus segera melakukan perlawanan pada Bajul Ijo. Sudah bisa terbaca, siapa di pihak benar, siapa di pihak salah. Dari sikap-sikap yang ditunjukkan Bajul Ijo, terlihat bahwa dia seorang yang buruk tabiatnya. Sedangkan, dari pihak lawan, walaupun Bagus mendengar bahwa Bajul Ijo menyebut dia pengkhianat, tapi, menuruti suara hatinya, pihak lawan itulah yang patut dibela.
Bagus mulai memejamkan mata. Dia mengucapkan doa memuja Sang Hyang Widhi. Dikerahkannya sebagian tenaga dalamnya. Ia ingin mengukur kekuatan lawan terlebih dahulu, supaya tenaga tidak terbuang sia-sia.
Bajul Ijo tersentak kaget. Ia merasakan hawa dingin yang menyerang yang berusaha menembus sihir panasnya. Segera dipercepatnya rapalnya, dan dikerahkannya seluruh tenaga dalamnya. Tapi hawa dingin itu terus menyeruak. Pelan saja hawa dingin itu menembus, tapi seakan tanpa kesulitan berarti, hawa dingin itu membuyarkan seluruh mantra sihirnya. Bajul Ijo berteriak kaget sambil melompat berguling ke belakang.
Matanya melotot ke arah Ki Legowo. Disangkanya Ki Legowolah orang yang berhasil mengalahkannya. Tapi melihat keadaan Ki Legowo yang sudah payah, tidak mungkin sepertinya. Matanya mencari-cari dengan liar. Ada ketakutan sekaligus rasa penasaran akan siapa yang sudah mengalahkannya. Dia, Bajul Ijo, seorang sakti mandraguna, selama ini belum pernah ada yang bisa menandinginya. Dia adalah orang yang paling sakti di seluruh muka bumi ini. Tidak seharusnya dia terjungkal ke belakang seperti tadi!
Kenyataan itu membuat Bajul Ijo terguncang. Tidak disangkanya ada orang yang bisa menghalau ajiannya yang paling dahsyat. Hal ini pasti tidak benar. Pasti ada yang salah. Mungkin karena cuaca yang tidak mendukung, pasti karena ada seekor ular yang tadi merambat di pahanya, sehingga konsentrasinya terpecah.
Begitulah, untuk menutupi kenyataan, seseorang cenderung mencari-cari alasan yang terkadang bahkan tidak masuk logika. Dengan kesombongan yang sudah mencapai taraf klimaks, dia sudah lupa bahwa, di atas langit masih ada langit.
"Siapa Kau? Beraninya mengganggu Bajul Ijo! Ayo tunjukkan dirimu!"
Bagus merasa sudah saatnya untuk menunjukkan diri. Sambil meminta Murni untuk tetap di tempat, dia berjalan perlahan menuju tempat di mana Bajul Ijo dan Ki Legowo berada.
Dilihatnya seorang pemuda, paling umur kepala dua baru diinjaknya. Tampan memang. Tapi bajunya kampungan sekali. Dari bahan belacu!
"Hahaha!" tawa Bajul Ijo kembali memenuhi tempat itu. Girang sekali dia, melihat lawannya tadi hanyalah seorang pemuda tengil yang baru seperempat abad.
Dasar orang sombong, jadinya ya cenderung meremehkan. Dan acapkali hanya menilai segala sesuatu dari tampilan luarnya saja.
"Ke sini kau bocah ingusan. Akan kuajari kau cara silat yang sesungguhnya, bukannya main pedang-pedangan yang biasa kau lakukan!" Bajul Ijo tertawa tergelak sambil melancarkan pukulan dahsyat yang mengarah pada dada kiri Bagus.
Bagus sengaja tak bergeming menerima pukulan tersebut. Dia sudah mengetahui betul kekuatan lawan. Sengaja dibiarkannya pukulan itu mengenai dada kirinya.
"Duk!" suaranya keras sekali. Kalau pukulan itu mengenai orang lain, pastilah sudah remuk tulang dadanya. Tapi di tubuh Bagus, justru si pemukul lah yang remuk tulang tangannya.
Terbelalaklah Bajul Ijo. Dia kaget luar biasa. Tangan kanannya sakit tiada terkira. Tapi lebih sakit lagi hatinya, bagaimana bisa dia kalah.. dengan orang yang jauh lebih muda pula.
Bajul Ijo memanglah seorang pengecut. Segera dia berkelebat melarikan diri sebelum nyawanya terentang di tangan pemuda itu
Bagus sengaja tak mengejar orang itu. Dia ingin melihat keadaan orang yang melarikan diri dari Bajul Ijo tadi. Dihampirinya, dan diperiksanya denyut nadi. Bersyukur masih ada tanda-tanda kehidupan.
Orang itu tergeletak tak berdaya. Ilmu sihir yang dikerahkan Bajul ijo tadi membuat kerusakan pada organ-organ tubuhnya. Bagus segera menempelkan tangan kanannya pada dada orang yang sedang sekarat itu. Dia mengerahkan tenaga dalamnya untuk menyembuhkan luka dalam yang diderita. Ajaib sekali. Orang itu mulai sadar dan terbatuk-batuk. Dia memuntahkan segumpal darah berwarna hitam yang mengandung racun sihir. Perlahan-lahan dibukanya matanya.
Dipandangnya Bagus. Sungguh pemuda yang tampan. Di sebelahnya ada seorang gadis yang tak kalah rupawan. Pasangan yang serasi. Dua insan manusia itu tersenyum sambil menanyakan keadaannya.
"Terimakasih, sungguh saya mengucapkan terimakasih yang tak terhingga pada Saudara berdua, yang sudi menolong saya. Nama saya Legowo. Saya hendak dibunuh karena saya dan beberapa teman bermaksud menggulingkan tahta wedana Hageng Winangoen yang baru, yaitu Tedjawibawa. Dia menggantikan ayahnya yang mengundurkan diri, yang ingin melepaskan diri dari keduniawian dan bertapa.
"Kenapa Kisanak bermaksud menggulingkan tahta beliau? Bukankah itu perbuatan buruk yang dilakukan oleh seorang pengkhianat?" Murni tak bisa menahan diri bertanya.
Orang itu menghela napas, "Wedana Tedja tidak memerintah kawedanan Hageng Winangoen dengan baik. Dia suka memeras rakyat. Rakyat diharuskan membayar upeti yang mahal. Jika tidak, maka akan dijatuhi hukuman yang sangat berat. Kerja rodi. Selain itu korupsi merajalela. Para petinggi maupun bawahan tidak ada yang bekerja dengan jujur. Kejahatan pun ikut menyebar. Perampokan dan pemerkosaan terjadi hampir setiap hari. Orang yang mengejar kami adalah salah satu penasihat wedana, bernama Bajul Ijo.
Maka kini mengertilah Bagus. Suara hatimya mengatakan kebenaran. Yang dia tolong memang seorang pengkhianat, tapi pengkhianat dari kebatilan dan keangkaramurkaan. Pengkhianat yang memperjuangkan kepentingan rakyat banyak, bukan kepentingan pribadi dan golongan.
bersambung bagian II

Tidak ada komentar:

Posting Komentar