“Bu, Inez berangkat dulu ya!” seru Inez pada ibunya yang sedang menyiram tanaman di depan rumah.
“Seragam untuk besok sudah kamu siapkan?” tanya ibunya.
“Ah, gampang, Bu. Bisa diatur nanti!”
Ibunya hanya bisa geleng-geleng melihat tingkah laku Inez.
Hari Minggu ini Inez bersama teman-temannya pergi tamasya ke Jatim Park yang terletak tak terlalu jauh dari rumahnya.
Selesai menyiram bunga, ibu Inez menuju kamar Inez untuk mengecek seragam dan kaos kaki yang akan dipakai Inez besok di sekolah. Benar saja, 3 pasang kaos kaki yang masih kotor menumpuk di sudut kamar bersama dengan seragam yang juga kotor.
Sambil menarik napas panjang, ibu Inez mengambil seragam kotor milik Inez, tapi tak seperti biasanya, kali ini ibu Inez membiarkan saja kaos kaki-kaos kaki tersebut tetap di tempatnya. Ibunya ingin memberi pelajaran pada Inez.
Inez memang anak yang jorok dan malas. Ibunya berkali-kali mengingatkan supaya meletakkan pakaian kotor di tempatnya, tapi Inez tetap bandel. Kamarnya dipenuhi baju-baju kotor yang berserakan.
Keesokan paginya, Inez mencari-cari kaos kakinya.
“Mana ya kaos kakiku yang warna putih? Kok yang ada hanya warna hitam saja?” gerutu Inez sambil mengaduk-aduk isi lemari. Beberapa menit kemudian, dia belum juga menemukan kaos kaki yang dicari.
Dengan panik, Inez memanggil ibunya, “Bu, Ibu tahu tidak di mana kaos kakiku yang warna putih?”
“Salahmu sendiri, kemarin ibu kan sudah mengingatkan. Ibu kan sudah bilang, bahwa tugasmu adalah mencuci sendiri kaos kakimu. Ibu memberimu tanggung jawab tersebut, supaya kamu bisa menjadi anak yang tertib dan bertanggung jawab."
“Aduh, Bu, sekarang aku tidak ada waktu untuk mendengarkan ibu. Aku harus cepat-cepat, keburu terlambat!” sahut Inez sambil berjalan kembali ke kamarnya.
Tiba-tiba dia teringat di mana letak kaos kaki-kaos kakinya berada! Dengan panik, Inez segera menghampiri sudut kamarnya di belakang pintu. Dilihatnya kaos kaki-kaos kakinya masih menumpuk di situ. Semuanya masih dalam keadaaan kotor terkena lumpur karena hujan.
Cepat-cepat Inez mengambil sepasang, kemudian segera mencucinya. Diperasnya kaos kaki itu, kemudian diamatinya. Sudah bersih, tapi masih basah.
Tanpa berpikir panjang, dipakainya kaos kaki yang masih basah tersebut. Dingii..in, tapi bagaimana lagi, Inez harus segera sampai di sekolah.
Sesampainya di sekolah, Inez menghembuskan napas lega. Untung dia tidak terlambat.
Tapi, jangan senang dulu, Nez…
Beberapa menit kemudian, bel pun berbunyi dan bu Ida, guru kelas Inez memasuki kelas.
Beliau mengumumkan bahwa hari ini diadakan pengukuran berat badan dan tinggi badan di UKS. Secara bergiliran, masing-masing kelas akan menuju UKS. Sepatu harus dilepas, supaya hasil pengukuran benar.
Tak berapa lama kemudian, giliran kelas Inez pun tiba. Satu persatu siswa menuju UKS. Bu Ida meminta anak-anak melepas sepatu supaya bisa segera melakukan pengukuran.
Inez melepas sepatunya. Tiba-tiba muncul bau yang sangat tidak sedap dari arah kakinya. Olala, rupanya kaos kakinya yang basah menimbulkan bau yang tidak enak setelah dipakaikan sepatu.
Teman-temannya mulai mengernyitkan hidung dan menoleh ke sana ke mari mencari asalnya bau yang tidak sedap itu.
"Aduh, bau kaos kaki siapa ini? Baunya minta ampun, pasti satu tahun tidak dicuci," celutuk salah seorang temannya.
Teman-temannya tertawa sambil menutup hidungnya. "Iya, bau kaos kaki siapa sih, jorok sekali."
Akhirnya ketahuanlah oleh teman-temannya kaos kaki siapa yang menimbulkan bau tersebut. Semua teman-temannya berdiri menjauhi Inez sambil berbisik dan tertawa terkikik-kikik.
Inez tidak berani mendekat pada teman-temannya. Ia duduk menyendiri. Inez menyesal tidak menghiraukan nasihat ibunya untuk selalu langsung mencuci kaos kakinya setiap kali habis pakai. Akibatnya, dia tidak mempunyai persediaan kaos kaki bersih.
Inez maluuu sekali. Mukanya merah padam. Ini akan menjadi peristiwa yang tidak akan pernah terlupakan, sekaligus menjadi pelajaran yang berharga baginya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar