(Agnes Krisantin Kusumawardani)
“Bu, Inez berangkat dulu ya!” seru Inez pada ibunya yang sedang menyiram tanaman di depan rumah.
“Seragam untuk besok sudah kamu siapkan?” tanya ibunya.
“Ah, gampang, Bu. Bisa diatur nanti!”
Ibunya hanya bisa geleng-geleng melihat tingkah laku Inez.
Hari Minggu ini Inez bersama teman-temannya pergi tamasya ke
Jatim Park yang terletak tak terlalu jauh dari rumahnya.
Selesai menyiram bunga, ibu Inez menuju kamar Inez untuk
mengecek seragam dan kaos kaki yang akan dipakai Inez besok di sekolah.
Benar saja, 3 pasang kaos kaki yang masih kotor menumpuk di sudut kamar
bersama dengan seragam yang juga kotor.
Sambil menarik napas panjang, ibu Inez mengambil seragam
kotor milik Inez, tapi tak seperti biasanya, kali ini ibu Inez
membiarkan saja kaos kaki-kaos kaki tersebut tetap di tempatnya. Ibunya
ingin memberi pelajaran pada Inez.
Inez memang anak yang jorok dan malas. Ibunya berkali-kali
mengingatkan supaya meletakkan pakaian kotor di tempatnya, tapi Inez
tetap bandel. Kamarnya dipenuhi baju-baju kotor yang berserakan.
Keesokan paginya, Inez mencari-cari kaos kakinya.
“Mana ya kaos kakiku yang warna putih? Kok yang ada hanya
warna hitam saja?” gerutu Inez sambil mengaduk-aduk isi lemari. Beberapa
menit kemudian, dia belum juga menemukan kaos kaki yang dicari.
Kepompong 98
Ruang Kreasi dan Berbagi
Selasa, 01 November 2016
KABUT HAGENG WINANGOEN
(Agnes Krisantin Kusumawardani)
Bagian I
Malam itu bulan bersinar terang. Hanya sesekali awan tipis
membelai perlahan. Tapi seakan enggan untuk menodai kecemerlangan cahaya
bulan, sang awan pun segera menarik dirinya dan kembali mengembara di
lautan angkasa.
Sosok lelaki tinggi kecil itu menghela napas panjang.
Sambil menyenandungkan tembang yang sangat indah berpadu dengan desau
angin malam yang semilir ;
"Wengi wis lumingsir jero
Tumiyung mangulon mapag tekane gagat raina
Mung swarane jangkrik sesahutan ngumbar lelagon
Nepsu-nepsu panguripan uwal saka nala
Gumanti impen-impen kang endah mbuntel panjangka urip
Cahya warna abang rampak-rampak
Pratandha ngjak jalma miwiti makarya
Ngobahake raga
Ngudi rejeki ngluru pangupajiwa
Sakwuse madhep kiblat
Ing tengahing pedhut manjing subuh
Nyeyuwun nugrahaning kang Maha Rat"..
"Wengi wis lumingsir jero
Tumiyung mangulon mapag tekane gagat raina
Mung swarane jangkrik sesahutan ngumbar lelagon
Nepsu-nepsu panguripan uwal saka nala
Gumanti impen-impen kang endah mbuntel panjangka urip
Cahya warna abang rampak-rampak
Pratandha ngjak jalma miwiti makarya
Ngobahake raga
Ngudi rejeki ngluru pangupajiwa
Sakwuse madhep kiblat
Ing tengahing pedhut manjing subuh
Nyeyuwun nugrahaning kang Maha Rat"..
Aduhai indahnya tembang itu. Maknanya seakan lebur dengan
suasana malam itu. Kalau sudah begini, apalagi yang dicari manusia.
Hanya keserakahan semata yang membutakan terhadap segala karunia yang
terpampang di depan mata.
Lagi-lagi lelaki itu menghela napas.
GURU BARU CAZA
(Agnes Krisantin Kusumawardani)
Suatu hari, teman sekelas Caza yang bernama Guntur datang pagi-pagi di sekolah sambil membawa bungkusan besar. Teman-temannya sangat penasaran
"Wah, apa yang kamu bawa itu?"
"Hehe, lihat aja sendiri nanti " jawab Guntur.
Tak berapa lama bel masuk pun berbunyi. Para siswa segera berbaris dengan rapi. Caza, sang ketua kelas memimpin barisan. Satu persatu, murid pun memasuki kelas.
Bu Dewi, sang guru baru akhirnya memasuki kelas.
Tiba-tiba Guntur maju ke depan kelas sambil membawa bungkusan yang besar itu.
Bu Dewi yang sedang merapikan buku terlihat kaget. "Ada apa, Guntur?"
"Eh, anu Bu. Ibu saya menitipkan ini buat Bu Dewi, oleh-oleh dari Jogja."
"Lho, kenapa harus repot-repot? Apa ini?"
"Ini makanan khas Jogja, Bu."
Langganan:
Komentar (Atom)