Disadur dari Naskah Timun Mas Karya YUDHI PRAYOGYONO
dengan penyesuaian
Para pemain :
1.Timun Emas :Kikana
2. Pak Karta :Sofya
3. Bu Karta :Nataya
4. Pak Salam :Alya
5. Raksasa :Risma
1.Timun Emas :Kikana
2. Pak Karta :Sofya
3. Bu Karta :Nataya
4. Pak Salam :Alya
5. Raksasa :Risma
6. Teman 1 :
Felly
7. Teman 2 :
Putri
8. Teman 3 :
Fida
Naskah dan Sutradara oleh MUHAMMAD LAILA USSARIF, S.S.
Di suatu
desa daerah antah-berantah tinggallah sebuah gubug kecil nan sederhana, yang
ditempati oleh seorang petani bersama istrinya yang bernama keluarga Pak Karta.Suatu
ketika Bu Karta sedang bercakap-cakap dengan suaminya perihal daerah pertanian
yang maju gemah ripah loh jinawi.
Bu Karta : “
Pak,sekarang sudah saatnya kita panen padi, mentimun, dan jagung.“
“
Alangkah bahagianya apabila kita……”
Pak Karta : “ Hssst
. . . (sambil menutup bibir istrinya dengan jari telunjuk)”
“
Jangan teruskan . . . .”
Bu Karta : “
Maksudku,kita harus memperbaiki rumah kita agar tidak roboh di kemudian hari “.
Pak Karta : “ Oh
. . . begitu maksudmu, baiklah aku setuju,nanti kalau hasil tanaman kita
sudah laku dan kita sudah mendapat uangnya.”
sudah laku dan kita sudah mendapat uangnya.”
Bu Karta : (Istrinya
menganggukkan kepala sambil menyiapkan makanan untuk suaminya)
“ Ya, pak.”
Pak Karta : “ Bu,sekarang
aku mau berangkat ke sawah sambil nengok kebun jagung apa
sudah selesai dipetik atau belum oleh Pak Salam.”
sudah selesai dipetik atau belum oleh Pak Salam.”
Bu Karta : “
Baiklah,Pak.Hati-hati di jalan ya, Pak.”
Pak Karta : “
Aku berangkat dulu ya, Bu.”
Tiba di perkebunan jagung Pak Karta segera menemui Pak
Salam yang sedang memungut jagung yang baru saja selesai dipetik.
Pak Karta : “
Hai ... Pak Salam apa sudah selesai memetik jagungnya?”
Pak Salam : “ Hai
…tentunya sudah, tinggal mengumpulkan saja.”
Pak Karta : “
Oh…ya sudah selesai.Sekarang tinggal diangkut ke kota untuk dijual.”
Pak Salam : “ Jadi
sekarang kita tunggu mobilnya datang,sambil menunggu bagaimana kalau kita adu
teka-teki?Yang tidak bisa jawab harus menyanyi atau menggendong temannya.”
Pak Karta : “
Baiklah, aku setuju.Siapa takut …!!!
Pak Salam : “
Sekarang aku duluan,ya…??”
Pak Karta : “
Okey…. Ayo cepat katakan!!!”
Pak Salam :
“Barang apa kalau dipegang badannya, kepalanya malah manggut-manggut
meskipun kepalanya dibenturkan ke tanah.”
meskipun kepalanya dibenturkan ke tanah.”
Pak Karta : “
Eee ... orang sedang gulat!“
Pak Salam : “ Salah
. . . !”
Pak Karta : “
Apa . . . ya?Aku menyerah!!”
Pak Salam : “
Orang sedang mencangkul! Nah, perhatikan ... (sambil memeragakan cara memegang cangkul) ... aku pegang badannya
nanti kepalanya manggut-manggut. Nah,kamu yang gendong aku atau nyanyi.”
Pak Karta : ”
Okeylah, aku akan menyanyi untukmu.” (menyanyikan
sebuah lagu)
Pak Salam : “ Haa
.... lagunya bagus, tapi suaramu bisa menyebabkan langit menangis.”
Pak Karta : “
Ha?! Hujan maksudmu? Ah, bisa-bisa saja kamu ini.”
Pak Salam : “
Hahaha (tertawa) .... Nah, sekarang
giliranmu untuk memberi pertanyaan.”
Pak Karta : “ Baiklah,
ini pertanyaan yang sulit.Pasti kamu tak bisa jawab. Dengarkan! Lehernya dicekik,
diangkat, tapi mengeluarkan kenikmatan. Hayo ... apa itu?”
Pak Salam : “ Wah!
Ini tak masuk akal, mestinya kalau dicekik akan mati, ini kok malah jadi nikmat?!”
Pak Karta : “ Ya!
Ayo coba apa? ...
Pak Salam : “
Apa, ya?”
Pak Karta : “
Menyerah?”
Pak Salam : “ Ya,
deh, aku menyerah.”
Pak Karta : “
Kendi! Ini lihat, ya ... (memeragakan)
aku cekik lehernya lalu (glek .... glek ...)Nikmaaat…!
Pak Salam : “ Oh,
iya benar.”
Pak Karta : “ Nah,
sekarang giliranmu menyanyi untukku atau gendong aku.”
Pak Salam : “
Ehmm .... (tiba-tiba mobil pengangkut
sayuran datang) Ah, itu mobilnya sudah datang. Ayo, kita angkut jagungnya
ke atas mobil.”
Pak Karta : “
Wah, ini namanya save by the car.
Kalau begitu kamu hutang hukuman nyanyi untukku.”
Pak Salam : “
Iya.”
Setelah selesai mengangkuti jagung ke atas mobil, mereka pun pulang ke rumah masing-masing. Pada malam hari di rumah setelah makan malam, Bu Karta dan Pak Karta sedang duduk di ruang keluarga. Mereka berbincang-bincang tentang kejadian yang dialami Bu Karta.
Bu Karta : “
Pak ....tadi aku sempat tertidur,dalam tidurku aku bermimpi ingin punya anak.Kemudian
aku disuruh berdoa minta anak, lalu tiba-tiba ada orang yang menyanggupi
memberi anak.”
Pak Karta : “ Bune,
itu kan hanya mimpi,bunga tidur. Sebenarnya kamu itu hanya ingin punya
anaksampai-sampai terbawa mimpi segala.”
Bu Karta : “ Kalau
ingin punya anak, iya, Pak. Kita sudah berkeluarga sekian tahun, tapi masih
belum dikarunia jabang bayi. Namun,aku yakin pak kalau ini benar-benar terjadi.
Bagaimana sekarang kalau kita coba saja,siapa tahu ada yang mendengar doa kita,
lalu langsung dikabulkan.”
Pak Karta : “
Ah...kamu itu kalau ada maunya harus dituruti, dasar ngeyel!Baiklah,sekarang
kita coba berdoa bersama-sama, biar afdol doa kita.”
Bu Karta : “ Tapidoanya
dengan suara yang keras agar doa kita terdengar yang Maha Kuasa.”
Pak Karta dan Bu Karta kemudian menyiapkan posisinya
untuk berdoa sambil mengangkat tangan.
Pak Karta : “ Wahai
pemilik kehidupan,dengarkanlah permintaan kami, Kami minta anak yang lucu,
cantik, dan sangat menawan sebagai generasi penerus kami.”
Bu Karta : “
Amin.”
Tiba-tiba ada suara mengagetkan ....
S. Raksasa : “ Haa
...ha... ha ... haa … !” (hanya suara
saja)
Pak Karta dan Bu Karta kaget ketakutan. Bu Karta seketika
bersembunyi di belakang Pak Karta.
S. Raksasa : “
Aku datang diutus untuk memberi sesuatu bagi kalian.Tapi ada syaratnya,kalau
anak itu sudah besar harus kau berikan padaku lagi,bagaimana setuju? Kalau setuju
ketik bintang REG spasiR-A-K-S-A-S-A pager kirim ke213. Ha ... ha ... ha ....“
Pak Karta : (Dengan perasaan ketakutan dan gemetar)
“Ba ... baiklah, aku setuju.Apapun
permintaanmu, aku pasti memenuhi janji.”
permintaanmu, aku pasti memenuhi janji.”
S. Raksasa : “
Baiklah, aku akan datang kembali memberimu anak perempuan seperti yang kalian
minta,ha…ha..ha..!!” (perlahan suara itu
menghilang dan hening sesaat)
Pak Karta : “ Bune...suara
itu sudah tidak ada, keluarlah kamu,tadi itu siapa?Kok
suaranya aneh dan rumah kita bergetar.
suaranya aneh dan rumah kita bergetar.
Bu Karta : “
Iya, Pak. Aku sampai ketakutan. Bagaimana nanti kalau seandainya
kita tidak bisa menepati janji. Apa kita taruhannya, ya Pak?“
kita tidak bisa menepati janji. Apa kita taruhannya, ya Pak?“
Pak Karta : “ Ah,
itu nanti saja kita pikirkan,yang penting kita punya anak dulu.”
Bu Karta : “
Alangkah bahagianya kalau kita benar-benar punya anak, ya, Pak.”
Pak Karta : “
Tadi aku rasanya ingin melihat makhluk aneh itu,tapi aku tidak bisa bergerak,
Bu.”
BuKarta : “
Ya,sama juga, tapi yang penting besok kita tunggu apakah makhluk itu
datang lagi, ya, pak,terus membawa bayi untuk kita.”
datang lagi, ya, pak,terus membawa bayi untuk kita.”
Pak Karta : “
Semoga saja. Sekarang ayo kita tidur.”
Mereka segera beranjak ke tempat tidur. Esok hari ketika
Pak Karta dan Bu Karta sedang mempersiapkan peralatan untuk ke kebun, tiba-tiba
sang raksasa itu datang lagi ....
S. Raksasa : “ Ha,ha,ha
……. Aku datang sesuai dengan jadwal ha,ha, …..! Ini aku membawa anak yang cantik
untukmu, ha,ha,ha…..
Pak Karta : (dengan perasaan takut mondar-mandir ke
sana-ke mari)
“ Baik…terima kasih Pak atas pemberiannya.”
“ Baik…terima kasih Pak atas pemberiannya.”
S. Raksasa : “ Jangan
panggil aku Pak,sangat tidak cocok sekali panggilan itu untukku,ha!”
Pak Karta : “ Lalu
aku harus panggil apa?Tuan atau Mister?”
S. Raksasa : “
Mister? Memangnya aku ini misteri.Panggil saja aku Jo, Rak..sa..sa Jo!
Pak Karta : “ Baiklah,
Raksasa Jo. Mana anak yang kau janjikan?Apa sudah kau bawa?”
S. Raksasa : “ Ha
.ha.ha. sepertinya kau tidak sabaran ...Nanti kalau suaraku sudah hilang
kau keluarke depan rumahmu,Kau akan temukan anak itu. Tapi jangan lupa tiga bulan lagi aku datang untuk mengambil anak itu,ha,ha,ha.”
kau keluarke depan rumahmu,Kau akan temukan anak itu. Tapi jangan lupa tiga bulan lagi aku datang untuk mengambil anak itu,ha,ha,ha.”
Hening sejenak ....
Pak Karta : “ Bu,raksasa
itu sudah menghilang, sekarang kita ambil anak kita di depan rumah.”
Bu Karta : “
Ya, Pak!
(Mereka berdua
keluar panggung. kemudian terdengar suara dari luar panggung)
Bu Karta : “
Pak, anak itu ada di sini!
(Mereka berdua
masuk lagi ke panggung sambil membawa bayi)
Bu Karta : “
Hem ...cantik sekali, ya Pak!”
Pak Karta : “
Ya,bu cantik sekali.Kita harus memberi tahu kepada para tetangga,kalau
kitasudah punya anak perempuan yang cantik.”
Bu Karta : “
Sambil kita beritahu nama anak kita ya, Pak. Untuk itu,kita harus memberi
nama kepada anak kita.Bagaimana kalau namanya Timun Emas?Artinya timun berarti bisa membawa kesegaran bagi orang yang kehausan dan emas
berarti barang yang tak ternilai harganya.”
nama kepada anak kita.Bagaimana kalau namanya Timun Emas?Artinya timun berarti bisa membawa kesegaran bagi orang yang kehausan dan emas
berarti barang yang tak ternilai harganya.”
Pak Karta :
“Nama yang bagus sekali,apalagi bersamaan dengan musim buah mentimun
yang ada di desa kita.”
yang ada di desa kita.”
Pak Karta tak bosan-bosannya memandang,mencium serta
mengayun-ayunkan bayinya yang mungil itu,sambil mereka bergurau dengan anak
kesayangannya. Tiga bulan telah berlalu, hari demi hari berjalan begitu
cepatnya.Datanglah raksasa untuk melihat bayi yang dititipkannya tersebut.
S. Raksasa : “ Ha
... ha ... ha ... aku datang lagi mencari anakmu yang kutitipkan padamu,
rasanya aku ingin membawa kembali anak itu bukannya sekarang sudah
besar,ha ...ha ...ha ...”
rasanya aku ingin membawa kembali anak itu bukannya sekarang sudah
besar,ha ...ha ...ha ...”
Bu Karta :”Jangan
diambil dulu Raksasa Jo, ia masih kecil. Kalau kamu makan, tentu hanya
tak enak rasanya dan kamu tidak akan kenyang.”
tak enak rasanya dan kamu tidak akan kenyang.”
S. Raksasa : “Hemm
.... betul katamu,jadi kapan aku bisa bawa anak itu lagi.”
Bu Karta & : (bicara secara bersama-sama) “Sembilan
tahun lagi kamu datang ke sini.”
Pak Karta
S. Raksasa : “ Ha
... ha ...ha… memang kamu cerdas sekali ha ... ha ... ha ...Itu baru makanan
yang lezat untukku. Aku pesankan beri makan yang banyak agar anak itu besar
dan kenyal dimakan ha ... ha ... ha…!”
dan kenyal dimakan ha ... ha ... ha…!”
Pak Karta : “
Baiklah aku akan memelihara agar anak ini tidak sakit dan cepat besar!”
S. Raksasa : “
Okey,aku akan datang sesuai dengan janjimu,ha ... ha ... sampai jumpa ...!”
Pak Karta : (Setelah merasa raksasa pergi) “ Bune,mulai
sekarang kita harus waspada jangan sampai anak kita diambil oleh raksasa tanpa
sepengetahuan kita.”
Bu Karta :” Benar
pak,mulai sekarang anak kita tidak boleh main terlalu jauh dari rumah,agar kita
dapat mengawasi dengan mudah.”
Enam tahun berjalan,telah dilewati Timun Mas bersama kedua
orang tuanya dengan penuh kebahagiaandan keceriaan. Tibalah saatnya Timun Mas bermain
bersama teman-temannya.
Timun Mas : “
Ayo,teman-teman sekarang kita main jumpritan.”
Teman 1 :
“ Ayo,kita hompipah dulu siapa yang akan jaga.”
(Mereka
ber-hompimpah dan yang mendapat giliran pertama adalah Timun Mas)
Teman 2 : “
Ayo, Mun, sekarang kamu yang jaga.Cari kami sampai dapat, ya!”
Teman 3 : “
Jangan lupa hitung sampai 10 supaya kami bisa sembunyi.”
Timun Mas : “ Ya,
satu ... dua ... tiga ... (teman yang
lain langsung bersembunyi) ... sembilan ... sepuluh!” Di mana, ya kalian?
Putri! ... Feli! ... Fida!
Teman 3 :
“ Yah ... Mumun tangkas, bisa menemukan persembunyian kami.”
(Sejenak
kemudian Bu Karta muncul memanggil Timun Mas)
Bu Karta : “
Mumun,ayo pulang nak sudah sore! Dan kamu belum mandi.”
Timun Mas :” Ya,bu.Aku
sudah selesai, ayo teman-teman aku pulang duluan, ya!”
Teman 2 : “ Ya,
aku juga belum mandi, sebentar lagi kan juga waktunya mengaji di surau.”
Teman 1 : “ Ya
sudah, kita lanjutkan lagi permainan ini besok.”
Timun Mas memang anak penurut selalu patuh terhadap kedua
orang tuanya. Tidak pernah membantah apa yang diperintah oleh kedua orang
tuanya.Ia selalu diingatkan agar tidak bermain terlalu jauh dari rumah agar
tidak dibawa oleh raksasa.Suatu saat Timun Mas diajak bercakap-cakap oleh kedua
orang tuanya…
Bu Karta :
“Mun,kamu sekarang sudah besar tentu kamu harus tahu asal-usulmu. Dan kamu
harus mengerti apa yang perlu kamu lakukan .”
Timun Mas :”Ya,bu.Aku
akan dengarkan nasehat ibu,nasehat ibu sangatberarti untuk masa depan Mumun nantinya.”
Bu Karta :”Begini
ya Mun,beberapa tahun lalu sekitar enam tahun yang lalu,ibu dan
bapakmu minta seorang anak yang cantik,kemudian datang raksasamemberi anak bayi, yaitu kamu, untuk diasuh dan dibesarkan,sehinggananti kalau sudah besar harus diserahkan kembali kepada raksasa untuk….
(Ucapannya terhenti karena tak sampai hati untuk melanjutkan).
bapakmu minta seorang anak yang cantik,kemudian datang raksasamemberi anak bayi, yaitu kamu, untuk diasuh dan dibesarkan,sehinggananti kalau sudah besar harus diserahkan kembali kepada raksasa untuk….
(Ucapannya terhenti karena tak sampai hati untuk melanjutkan).
Timun Mas : ” Untuk
dimakan maksud ibu!“
Bu Karta : “
Ya, Mun. Tapi bapak dan ibumu tidak rela kalau kau jadi santapan sang
raksasa itu.Makanya kamu ibu beritahu agar kamu dapat mempersiapkan
diri untuk menghindar agar tidak dimakan oleh sang raksasa.”
raksasa itu.Makanya kamu ibu beritahu agar kamu dapat mempersiapkan
diri untuk menghindar agar tidak dimakan oleh sang raksasa.”
Timun Mas :” Ya,bu.Sekarang
aku tahu dan aku tidak akan main jauh dari rumah ini,supaya kalau ada raksasa
aku langsung masuk rumah.”
Bu Karta :”Kamu
benar Mun. Sekarang kamu makan dulu, ya Nak.”
Timun :
”Baiklah, Bu.”
Tak terasa umur Timun Mas sudah mencapai 9 tahun,tiba
saatnya Bu Karta dan Pak Karta mempersiapkan diri untuk menghadapi raksasa.Ketika
Pak Karta, Bu Karta, dan Timun Mas sedang berada di dalam rumah, tiba-tiba
rumahnya bergetar dan muncul suara menggelegar.
S. Raksasa : ”Ha
... ha ... ha ... aku datang lagi …”
Pak Karta : “Bu,cepat
sembunyikan Mumun, jangan sampai ketahuan.”
S. Raksasa :”Ha
... ha ... ha ... ternyata kau berkhianat hai manusia. Ayo keluarkan anakmu!”
Pak Karta :(takut) ”Ba..ba..baiklah,akan kupanggilkan
anakku.”
Bu Karta :”Nah,
Mun sekarang kau harus mulai bertindak,larilah keluar lewat pintu belakangagar
kau tidak tertangkap, Ingat ... (memberikan
bungkusan) sebarkan satu persatu biji mentimun,duri,garam, dan terasi saat
kamu hampir tertangkap.Semuanya sudah ibu masukkan ke dalam kantong ini.”
Timun :”
Baiklah bu,pesan ibu akan Mumun laksanakan.”
Bu Karta :” Sekarang
cepatlah kamu lari keluar, nanti keburu raksasa marah sama bapakmu.”
(Timun Mas segera
berlari keluar panggung. Kemudian Raksasa masuk panggung. Pak Karta dan Bu
Karta kaget setengah mati)
Raksasa :”Hem,mana
makananku yang kutitipkan,aku sudah lapar.”
Pak Karta : “
Lho, bukannya raksasa itu besar dan menyeramkan?”
Bu Karta : “
Iya, Pak. Ini kok ...”
Raksasa : “
Aaahh ... itu kan raksasa dalam dongeng. Dan jangan lihat dari penampilanku
saja, tapi lihat apa yang sudah aku berikan kepada kalian! Ha ... ha ... ha
...”
Bu Karta :”Bagaimana
kalau aku saja sebagai ganti anakku.”
Raksasa :”Tidak
bisa,dagingmuterlalu alot-kotot karena kau terlalu tua untuk dimakan.”
(Tiba-tiba dari
kejauhan Timun Mas memanggil raksasa)
Timun mas :”Hai Raksasa,ini
aku ada di sini,kejar aku kalau bisa.”
Raksasa :”Kurang
ajar kau telah mempermainkan aku,awas kalau tertangkap pasti
langsung kumakan, ha ....ha ... ha…..”
langsung kumakan, ha ....ha ... ha…..”
Timun mas :”Ayo
kejar aku!” (keluar panggung dikejar oleh
raksasa. Pak Karta dan Bu Karta ikut menyusul keluar panggung)
(Timun Mas masuk
panggung dikejar oleh raksasa)
Timun Mas : “Kalau lapar,
nih aku beri makanan.” (sambil melempar biji
mentimun ke arah raksasa, lalu keluar panggung. Raksasa yang mengejar tidak
bisa keluar karena ada timun yang besar).
Raksasa :”Heemmm.....
ini baru makanan yang menyegarkan ...hap ...hap…
Mana dagingnya rasanya tidak puas kalau tanpa daging..hem..oh mana
Timun Mas tadi, kok sudah menghilang. Heemm, ternyata sudah jauh dariku.” (keluar panggung. Timun Mas masuk panggung)
Mana dagingnya rasanya tidak puas kalau tanpa daging..hem..oh mana
Timun Mas tadi, kok sudah menghilang. Heemm, ternyata sudah jauh dariku.” (keluar panggung. Timun Mas masuk panggung)
Timun Mas :” Ha...
dia sudah mulai mendekat,lebih baik senjataku kedua aku lemparkan
sekarang biar aku tidak ketangkap.” (melempar duri ikan, lalu keluar panggung)
sekarang biar aku tidak ketangkap.” (melempar duri ikan, lalu keluar panggung)
Raksasa :(masuk panggung) ” Hah ...ternyata jalan
ini sudah berubah menjadi jalan penuh duri yang tajam. Aduh! ...aku harus jalan
pelan-pelan agar kakiku tidak ditembus duri terlalu dalam. Aduh kakiku sakit
sekali… auh ... auh...”(keluar panggung
sambil kesakitan)
Timun Mas :(masuk panggung) ”Rasakan,hai raksasa
makanya sebelum kau makan aku,kau injak dulu duri yang aku beri itu. (bergaya melihat kejauhan) Ah, sudah
mulai dekat,sekarang senjataku yang ketiga,kamu harus rasakan. Nih, garam
untukmu.” (sambil melempar garam yang
dibawanya, lalu keluar panggung)
Raksasa :(masuk panggung) ”Hem ...aku sekarang
dipermainkan sama anak kecil. Ha ...ha ... ha ... apa ini yang ada di depanku? Hem..ternyata
lautan yang amat luas.Hemm, aku akan tetap mengejarmu Timun Mas, tunggu aku!
Bersiaplah untuk aku makan! Aduh, airnya dingin, hiii ....”
Timun Mas :(suara dari kejauhan) ” Hai ...raksasa
aku akan tunggu kamu di seberang. Ayo ... kejar aku!”
Raksasa :(bergaya seperti berenang)”Hep ...hep...hep
... aku tetap mengejarmu Timun Mas.” (keluar
panggung)
Timun Mas :(masuk panggung) ” Ah ...ternyata raksasa
itu masih bisa mengejarku. Aku harus tetap menghindar, meski senjataku tinggal
satu. Mudah-mudahan yang terakhir ini akan membuat raksasa itu binasa.Pada akhirnya
tak bisa mengejarku.”
Raksasa :(masuk panggung) ” Hemm, rasanya aku bisa
menangkapmu,Timun Mas ...ha ...ha ... kau sudah mulai kehabisan tenaga Timun
mas. Ayo, apalagi yang kau lemparkan padaku anak gadis?Kau pasti tertangkap
anak manis. Ayo mendekatlah ...ha ...ha ...ha!!”
Timun Mas :”
Ternyata kau ulet juga raksasa,sekarang terimalah terasi dariku!”
(sambil melempar terasi ke arah raksasa yang kejam itu)
(sambil melempar terasi ke arah raksasa yang kejam itu)
Raksasa :“Benda
itu sudah tidak ada gunanya Timun Mas,lebih baik kau menyerah
saja dari pada kau kecapekan. Hah? Wah! ... Ternyata aku terkurung oleh lautan lumpur,rasanya aku tidak sanggup melangkah. Auw ...kakiku tak bisa kuangkat lagi. Wow ... Tolong! Badanku masuk ke lumpur yang sangat dalam ... Tolong akuTimun Mas!Aku tak jadi memakanmu apabila kau mau menolongku. Haep! Tolong…to ... long…looong…….!!!”
saja dari pada kau kecapekan. Hah? Wah! ... Ternyata aku terkurung oleh lautan lumpur,rasanya aku tidak sanggup melangkah. Auw ...kakiku tak bisa kuangkat lagi. Wow ... Tolong! Badanku masuk ke lumpur yang sangat dalam ... Tolong akuTimun Mas!Aku tak jadi memakanmu apabila kau mau menolongku. Haep! Tolong…to ... long…looong…….!!!”
Timun mas :”Hem
sekarang habislah riwayatmu sang raksasa yang rakus. Aku harus pulang dan
melaporkan pada ibu kalau aku sudah berhasil membinasakan raksasa yang jahat
itu.”
Pada akhirnya Timun Mas berhasil membinasakan raksasa
dengan bekal yang dibawa dari ibunya. Keberhasilan Timun Mas sampai terdengar
di seluruh penjuru wilayah kerajaan. Sampai akhirnya sang raja berkeinginan
untuk menjodohkannya dengan putra mahkota.
Demikian cerita ini mudah-mudahan dapat diambil
hikmahnya. Patuh terhadap nasehat kedua orang tua sangatlah ampuh untuk
mengalahkan segalanya dan dapat meraih segala yang kita cita-citakan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar