(Moch. Cholis)
“Tidur saat khutbah?Enak banget”.Itulah
jawaban seorang teman ketika saya bertanya soal kebiasaannya tidur saat khutbah
Jumat.Teman sayasatu ini memang hampir selalu tidur ketika khotib naik mimbar.
Persis setelahdia mendengarAlhamdulillahAlladzy….. (kalimat pembuka).Dia
baru bangun ketika khotib mengucapkan waladzikrullahi akbar (kalimat penutup).
Kalimat-kalimat itu seolah mantra hipnotis. Mantra Romy Rafael (Hypnoterapis
ternama) ketikaakan menidurkan ‘korban’nya.
Tidur saat khutbah
tampaknya telah menjadi pandemi global.Cukup lama saya mengamati fenomena
ini.Wabah ini menyerang tanpa pandang bulu. Masjid besar sekelas Istiqlal
Jakarta atau Al Akbar Surabaya sampai masjid kecil di kampung atau pinggiran
kota.
Kalau masjid kecil
kampung masih maklum.Khotibnya sering diisi oleh badal (pengganti).Khutbahnya
pun diambil dari buku kumpulan khutbah.Badal Khotib itu sebenarnya bukan
berkhutbah tapi hanya membacakan khutbah..Intonasinya datar. Sangat Standar,
tanpa ruh, dan tanparasa.
Anehnya, di
masjid-masjid besar juga demikian.Padahal, khotib-khotibnya tentu sudah pilihan.Jam
terbangnya tinggi. Bahkan tidak jarang yang punya labelgo international.
Namun, ternyata, soal wabah tidur saat khutbah tidak jauh beda.
Fakta di atasmembuat
saya merenung. Ada apa ya, dengan khutbah? Ada apa ya, dengan jamaah salat
Jumat? Apakah khutbah jumat sudah tidak mengesankan?Apakah khutbah jumat sudah
tidak dianggap penting?Apakah materi khutbah tidak kotekstual dan tidak
menjawab permasalahan ummat?Atau, apakah khutbah Jumat dijalani hanya sekedar formalitas
agar ibadah salat Jumat itu sah. Ratusan pertanyaan lain menyerang otak saya
dan beberapa menuntut untuk dicari jawabannya.
Secara fiqh, khutbah Jumat
memang merupakan bagian integral (rukun) dari ibadah salat Jumat.Tanpa dua
khutbah, salat Jumat tidak sah.Asalkan dua khutbah Jumat dijalankan, salat
Jumat tetap sah.Didengarkan atau tidak secara fiqh, tidak masalah.
Namun, dalam beragama,
tentu tidak hanya hukum fiqih yang diperhatikan.Hukum fiqh merupakan hukum
dasar formal. Beragama yang hanya mendasari ibadah dengan hukum Fikih akan
sangat hambar tanpa makna. Hukum Fikih harus diintegrasikan dengan akhlak.Syariat
harus dicari hakikat(makna nya) melalui thariqah(jalan yang
berupa ilmu dan amaliah) dan akhirnya menjadi makrifat(pengetahuan dan
pemahaman akan makna ibadah dan kepatuhan pada Tuhan).
Sebagai contoh, secara
fiqih, salat disyaratkan menutup aurat.Aurat laki-laki adalah antara lutut dan
pusar.Asalkan bagian antara lutut sampai pusar tertutup, maka salatnya
sah.Namun, sopankah orang salat dengan hanya memakai celana pendek yang menutup
bagian pusar sampai lutut?Solat dengan pakaian yang santun dan rapi merupakan
bagian dari akhlak.Selain itu, salat juga harus didalami hakikatnya.Hakikat
adalah makna yang terkandung di dalamnya, misalnya makna perintah salat, makna
gerakannya, makna bacaannya, dll.Mengetahui hakikat salat menjadikan ibadah
salat khusyuk dan penuh makna.Tidak hanya sekedar penggugur kewajiban belaka.
Kembali pada soal wabah
tidur saat khutbah, Akar masalahnya harus segera dicari dan dipetakan. Jika
dibiarkan berlarut-larut, bukan tidak mungkin, khotbah Jumat nantinya hanya
akan berfungsi seperti dongeng pengantar tidur atau lagu Nina Bobo.
Dalam tulisan ini,
penulis berusaha memetakannya dari sudut pihak-pihakyang terlibat dalam prosesi
pelaksanaan ibadah salat Jumat.Setidaknya, ada tiga kelompok besar yang
terlibat langsung dalam prosesi salat Jumat, yaitu (1) para jamaah salat Jumat
(2) para khotib Jumat dan (3) takmir masjid. Agar lebih jelas, mari kita urut
dan bahas satu per satu
1. Jamaah salat Jumat
Para jamaah salat
Jumat, termasuk saya, nampaknya harus mulai menata hati untuk melakukan
instrospeksi dan mereorientasi tujuan kita melakukan ibadah salat Jumat.Jika
dilihat dari tujuannya, para jamaah salat Jumat dapat dikelompokkan atas
tipe-tipe berikut ini.
a. Tipe ideal.
a. Tipe ideal.
Tipe ini tentunya
adalah tipe terbaik, (khowasulkhowas).Tipe seperti ini memang telah
memfokuskan tujuan hidupnya untuk kebahagiaan akhirat. Orang seperti ini, jika
datang waktu Jumat akan sangat bahagia dan tidak dibuat-buat. Dia menganggap
bahwa hari Jumat adalah hari raya.Karena itu, layaknya hari raya,
kegembiraannya sudah dimulai sejak malam harinya.Dia hidupkan malam Jumat
dengan ibadah dan banyak membaca salawat kepada Nabi SAW.Pagi harinya, juga
dipenuhinya dengan ibadah.
Dia berangkat ke masjid
pagi-pagi sekali, bahkan mungkin yang pertama kali. Sebelum berangkat, dia
mandi sunnah, memotong kuku, memotong rambut-rambut di badan yang disunnahkan
untuk dipotong, memakai wangi-wangian, dan kesunnahan-kesunnahan lainnya. Orang
seperti ini, saya yakin tidak akan tidur ketika khotib naik mimbar. Dia sadar
betul bahwa apa yang akan keluar dari mulut khotib itu adalah kalamullah, hadis
nabi, hikmah, nasihat, dan lain-lain. Karena itu, dia tidak akan berani tidur
karena takut dianggap melecehkan syiar Islam. Dia menganggap bahwa apa yang
disampaikan itu adalah penting bagi kehidupannya di dunia maupun di akhirat.
Dia akan mendengarkan apa yang dikatakan khotib dengan saksama tanpa peduli
siapa yang menyampaikannya, baik itu ulama besar atau ulama “kecil”. Undzur
maa qiila wa laa tandzur man qaala. (lihatlah apa yg dikatakan, jangan
melihat yang berbicara)
Tipe ini sudah memahami
hakikat Allah memerintahkan salat jumah.Secara bahasa, ‘jumat’ artinya
berkumpul.Allah swt memerintahkan manusia untuk berkumpul di masjid. Manusia
membutuhkan sosialisasi dengan manusia yang lain. Di masjidlah tempat yang
ideal untuk berkumpul. Dengan berkumpul di masjid, dengan sendirinya
pembicaraan, aktivitas, dan obrolan akan terfilter dan terpilih otomatis karena
masjid merupakan tempa ibadah. Berkumpul di masjid lebih mudah mengingat Allah
dari pada di tempat lain.
Kalau kita tinjau dari
bahasa Arab, awal hari sebenarnya hari Ahad (minggu).Ahad, artinya ‘hari ke
satu’. Hari berikutnya adalah hari itsnain (senen) yang berarti ‘dua’..Selanjutnya
tsulasa (selasa) yang berarti ‘tiga’. Dilanjutkan dengan arbia’ dari kata rabi’
(rebo) berarti ‘empat, Hari ke lima adalah khamis (kemis). Khamis artinya
‘lima’.Jika melihat urutan itu, maka hari kerja Cuma 5 hari dan dimulai dari
hari ahad (minggu).Jadi minggu sampai kamis.
Hari berikutnya adalah
hari jumat.Seperti yang saya katakan di atas, Jum’at artinya ‘berkumpul’.Maka
sebenarnya Allah mengisyaratkan manusia memanfaatkan hari Jum’at untuk
berkumpul dan beribadah bersama-sama di masjid.Berkumpul melakukan introspeksi
setelah 5 hari bergelut dengan kesibukan duniawi.Untuk itulah, setiap mengawali
khutbahnya, khatib selalu mengingatkan jamaah untuk memperbarui lagi tingkat
keimanan dan ketaqwaannya kepada Allah swt.Dikhawatirkan, setelah bekerja dan bergelut
dengn urusan dunia yang menyita tenaga, waktu, dan pikiran, manusia mengalami
dekadensi iman dan taqwanya kepada Allah.Karena itulah, wasiat taqwa merupakan
salah satu rukun khutbah.Tanpa wasiat taqwa, khutbah tidak sah.Understend?
Tend…
Bagaimana dengan hari
Sabtu?Hari Sabtu adalah hari ibadah dan instrospeksi personal secara mingguan.Kalau
secara harian di sepertiga malam.Sehari dalam seminggu, yaitupada hari Sabtu,
hubungan personal manusia dengan Tuhannya diberi ruang.Manusia membutuhkan
hubungan privat dengan Tuhan. Dengan hubungan itu, manusia bisa curhat, meminta
pertolongan, mengeluhkan permasalahan, mengaku dosa, dan hubungan2 privat lain
antara manusia dengan Sang penciptanya. Dalam Agama Yahudi, dikenal dengan
istilah yaumus Sabat.Artinya,Hari Sabtu. Hari untuk ibadah. Dalam
Alquran digambarkan bangsa yahudi yang dikutuk jadi kera karena melanggar
ketentuan yaumaus sabat ini (Albaqarah 65-66 ). Allah memerintahkan
bangsa Yahudi untuk tidak mencari ikan pada hari sabtu. Hari Sabtu, oleh Allah
waktu itu dikhususkan sebagai hari untuk beribadah. Namun, mereka melanggar.dan
tetap mencari ikan.Memang, pada hari Sabtu, ikan-ikan malah meluber tidak
seperti hari biasa.Mereka tergoda.Tergiur dan akhirnya melanggar.Dikutuklah
mereka jadi kera.Kisah tentang hari Sabat ini banyak terdapat dalam Alqura
antara lain, qs 6:124, qs 4:154, qs:7:163.
Untuk ummat Yahudi
waktu itu, hari Sabtu memang dikhususkan untuk aktivitas ibadah.Artinya, segala
aktivitas selain ibadah harus dihentikan.Hal ini tidak berlaku untuk ummat
Islam saat ini. Ummat Nabi Muhammad saw. Ummat Islam lebih mudah dan lebih
luas.Ummat Islam bisa beribadah dalam setiap aktivitasnya.Caranya, dengan
meniatkan semua aktivitasnya karena Allah swt.Atas dasar ketaatan padaNya dan
hanya mencari rida-Nya. Pada hari Jumat pun, setelah melakukan salat jumat,
ummat Islam diperintahkan untuk menyebar mencari karunia Allah swt
(Qs:62:9-10).
2. Tipe lumayan.
Tipe ini adalah tipe
“sedang-sedang saja”.Ibarat mie pangsit, tidak basah juga tidak kering.Nyemek-nyemek.Dia
pergi ke masjid tidak terlalu pagi juga tidak terlalu siang.Dia sebenarnya
tahu, kalau berangkat pagi dapat onta, jika agak siang dapat kambing, dan
seterusnya.
Namun, tampaknya
kesibukan urusan “dunia” masih dianggap lebih penting dari urusan
akhirat.Asalkan khotib belum naik mimbar, hal itu dianggapnya masih bisa
ditolelir.Biasanya, tipe seperti ini cenderung pilih-pilih khotib. Jika
khotibnya ulama tenar, kebetulan gurunya, atau salah satu idolanya, dia akan
perhatikan dengan saksama. Hal itu akan berbanding terbalik jika khotibnya
dianggapnya ilmunya pas-pasan, yang disampaikan itu-itu saja, atau khotibnya
membaca hanya dari buku kumpulan khutbah. Dalam situasi ini, tipe seperti ini
cenderung akan tidur meskipun tidak terlalu ngantuk atau jika tidak, dia akan
sibuk sendiri memutar tasbih untuk berdzikir daripada mendengarkan khutbah yang
dianggapnya membosankan.
Hal ini umumnya dialami
oleh kelas menengah.Terutama kelas menengah dalam hal ilmu agama. Lulusan
pesantren atau orang-orang yang mulai belajar ilmu agama, dan orang-orang yang
merasa sudah memiliki ilmu agama yang cukup, dan sebagian orang yang sejak
kecil mengenyam pendidikan madrasah Ibtidaiyah, sampai Aliyah, atau bahkan
sarjana agama yang merasa sudah mumpuni. Mereka tahu ilmu agama tetapi ilmu itu
belum berhasil menghiasi jiwa mereka.Tipe ini, disarankan untuk menambah
wawasan tentang ilmu tasawwuf atau yang berkenaan dengan pembersihan penyakit
hati.
3. Tipe Umum.
Disebut tipe umum,
karena tipe ini yang paling banyak dijumpai ketika salat Jumat
dilangsungkan.Paling top, orang yang ada dalam tipe ini melaksanakan salat
Jumat hanya sebagai pembebas dari kewajiban saja. Ada yang mengikuti salat
Jumat karena malu sama teman atau tetangga yang semuanya salat Jumat. Ada juga yang
memanfaatkan salat Jumat untuk istirahat setelah kerja keras setengah hari,
agar nanti sehabis acara salat Jumat “segar” kembali.
Tipe inilah yang paling
potensial untuk tidur saat salat khotbah Jumat.Mereka menganggap khotbah Jumat
tidak penting.Saya pernah iseng bertanya kepada salah seorang jamaah tipe
ini.“Ahh, paling isinya kalau gak halal ya haram, kalau gak surga ya neraka”,
saya sudah tau kok, mana yang baik dan yang tidak baik buat saya.”Jawaban
tersebut tentunya sudah dapat menggambarkan jalan pikir orang yang ada pada
tipe ini dan juga dapat menjawab pertanyaan mengapa banyak orang tidur saat
khutbah Jumat.
Padahal, jika diamati,
posisi-posisi orang tidur saat khutbah sangat tidak indah, tidak sehat, dan
dapat menjatuhkan muruah (wibawa) bagi orang yang “merasa” berwibawa.Yang umum
terjadi adalah dia tidur dengan menyangga dua pipinya dengan dua tangan.Ada
juga yang seperti orang berpikir keras, menyangga jidatnya dengan tangan
kanan.Ada yang entah sadar atau tidak menyandarkan kepalanya ke pundak jamaah
yang di sampingnya atau ke punggung jamaah di depannya meskipun tidak kenal.
Yang sudah sampai pada
taraf kronis adalah jika dia tidur sambil mendengkur atau (maaf) sampai
mengeluarkan air liur.Hal itu pernah terjadi dan pernah penulis saksikan sendiri.
Bahkan, yang juga sering penulis lihat ada jamaah yang tiba-tiba jatuh saat
berdiri akan salat jumat karena kakinya kesemutan saking lamanya dia tidur.
Setelah mengetahui
beberapa tipe di atas, termasuk tipe manakah Anda? Kalau saya, tipe ke tiga. He
he
Seperti dikemukakan di
atas, selain para jamaah, khotib Jumat juga dapat menjadi “tersangka” dalam
kasus wabah tidur saat khutbah ini.Memang, tidak adil rasanya jika tudingan
hanya diarahkan pada para jamaah.Para khotib juga selayaknya mawas diri dan
membenahi kualitasnya. Jika para khatib mampu mengemas
khutbahnya dengan baik, bermutu, dan menarik, maka hal itu tentu sedikit banyak
dapat menjadi penawar “bisa kantuk” yang ditebarkan setan pada waktu khotib
naik mimbar.
Apa saja yang perlu dilakukan khatib agar khutbahnya lebih menggigit dan menarik? Uraian tentang itu akan penulis paparkan dalam episode selanjutnya. Selamat Menunggu!
Tidak ada komentar:
Posting Komentar