Jumat, 11 Maret 2016

Hipnotis Khutbah Jumat


(Moch. Cholis)  
  “Tidur saat khutbah?Enak banget”.Itulah jawaban seorang teman ketika saya bertanya soal kebiasaannya tidur saat khutbah Jumat.Teman sayasatu ini memang hampir selalu tidur ketika khotib naik mimbar. Persis setelahdia mendengarAlhamdulillahAlladzy….. (kalimat pembuka).Dia baru bangun ketika khotib mengucapkan waladzikrullahi akbar (kalimat penutup). Kalimat-kalimat itu seolah mantra hipnotis. Mantra Romy Rafael (Hypnoterapis ternama) ketikaakan menidurkan ‘korban’nya.

Tidur saat khutbah tampaknya telah menjadi pandemi global.Cukup lama saya mengamati fenomena ini.Wabah ini menyerang tanpa pandang bulu. Masjid besar sekelas Istiqlal Jakarta atau Al Akbar Surabaya sampai masjid kecil di kampung atau pinggiran kota.
Kalau masjid kecil kampung masih maklum.Khotibnya sering diisi oleh badal (pengganti).Khutbahnya pun diambil dari buku kumpulan khutbah.Badal Khotib itu sebenarnya bukan berkhutbah tapi hanya membacakan khutbah..Intonasinya datar. Sangat Standar, tanpa ruh, dan tanparasa.

Anehnya, di masjid-masjid besar juga demikian.Padahal, khotib-khotibnya tentu sudah pilihan.Jam terbangnya tinggi. Bahkan tidak jarang yang punya labelgo international. Namun, ternyata, soal wabah tidur saat khutbah tidak jauh beda.

Fakta di atasmembuat saya merenung. Ada apa ya, dengan khutbah? Ada apa ya, dengan jamaah salat Jumat? Apakah khutbah jumat sudah tidak mengesankan?Apakah khutbah jumat sudah tidak dianggap penting?Apakah materi khutbah tidak kotekstual dan tidak menjawab permasalahan ummat?Atau, apakah khutbah Jumat dijalani hanya sekedar formalitas agar ibadah salat Jumat itu sah. Ratusan pertanyaan lain menyerang otak saya dan beberapa menuntut untuk dicari jawabannya.

Secara fiqh, khutbah Jumat memang merupakan bagian integral (rukun) dari ibadah salat Jumat.Tanpa dua khutbah, salat Jumat tidak sah.Asalkan dua khutbah Jumat dijalankan, salat Jumat tetap sah.Didengarkan atau tidak secara fiqh, tidak masalah.
Namun, dalam beragama, tentu tidak hanya hukum fiqih yang diperhatikan.Hukum fiqh merupakan hukum dasar formal. Beragama yang hanya mendasari ibadah dengan hukum Fikih akan sangat hambar tanpa makna. Hukum Fikih harus diintegrasikan dengan akhlak.Syariat harus dicari hakikat(makna nya) melalui thariqah(jalan yang berupa ilmu dan amaliah) dan akhirnya menjadi makrifat(pengetahuan dan pemahaman akan makna ibadah dan kepatuhan pada Tuhan).

Sebagai contoh, secara fiqih, salat disyaratkan menutup aurat.Aurat laki-laki adalah antara lutut dan pusar.Asalkan bagian antara lutut sampai pusar tertutup, maka salatnya sah.Namun, sopankah orang salat dengan hanya memakai celana pendek yang menutup bagian pusar sampai lutut?Solat dengan pakaian yang santun dan rapi merupakan bagian dari akhlak.Selain itu, salat juga harus didalami hakikatnya.Hakikat adalah makna yang terkandung di dalamnya, misalnya makna perintah salat, makna gerakannya, makna bacaannya, dll.Mengetahui hakikat salat menjadikan ibadah salat khusyuk dan penuh makna.Tidak hanya sekedar penggugur kewajiban belaka.

Kembali pada soal wabah tidur saat khutbah, Akar masalahnya harus segera dicari dan dipetakan. Jika dibiarkan berlarut-larut, bukan tidak mungkin, khotbah Jumat nantinya hanya akan berfungsi seperti dongeng pengantar tidur atau lagu Nina Bobo.
Dalam tulisan ini, penulis berusaha memetakannya dari sudut pihak-pihakyang terlibat dalam prosesi pelaksanaan ibadah salat Jumat.Setidaknya, ada tiga kelompok besar yang terlibat langsung dalam prosesi salat Jumat, yaitu (1) para jamaah salat Jumat (2) para khotib Jumat dan (3) takmir masjid. Agar lebih jelas, mari kita urut dan bahas satu per satu

1. Jamaah salat Jumat

Para jamaah salat Jumat, termasuk saya, nampaknya harus mulai menata hati untuk melakukan instrospeksi dan mereorientasi tujuan kita melakukan ibadah salat Jumat.Jika dilihat dari tujuannya, para jamaah salat Jumat dapat dikelompokkan atas tipe-tipe berikut ini.
a. Tipe ideal.
Tipe ini tentunya adalah tipe terbaik, (khowasulkhowas).Tipe seperti ini memang telah memfokuskan tujuan hidupnya untuk kebahagiaan akhirat. Orang seperti ini, jika datang waktu Jumat akan sangat bahagia dan tidak dibuat-buat. Dia menganggap bahwa hari Jumat adalah hari raya.Karena itu, layaknya hari raya, kegembiraannya sudah dimulai sejak malam harinya.Dia hidupkan malam Jumat dengan ibadah dan banyak membaca salawat kepada Nabi SAW.Pagi harinya, juga dipenuhinya dengan ibadah.

Dia berangkat ke masjid pagi-pagi sekali, bahkan mungkin yang pertama kali. Sebelum berangkat, dia mandi sunnah, memotong kuku, memotong rambut-rambut di badan yang disunnahkan untuk dipotong, memakai wangi-wangian, dan kesunnahan-kesunnahan lainnya. Orang seperti ini, saya yakin tidak akan tidur ketika khotib naik mimbar. Dia sadar betul bahwa apa yang akan keluar dari mulut khotib itu adalah kalamullah, hadis nabi, hikmah, nasihat, dan lain-lain. Karena itu, dia tidak akan berani tidur karena takut dianggap melecehkan syiar Islam. Dia menganggap bahwa apa yang disampaikan itu adalah penting bagi kehidupannya di dunia maupun di akhirat. Dia akan mendengarkan apa yang dikatakan khotib dengan saksama tanpa peduli siapa yang menyampaikannya, baik itu ulama besar atau ulama “kecil”. Undzur maa qiila wa laa tandzur man qaala. (lihatlah apa yg dikatakan, jangan melihat yang berbicara)

Tipe ini sudah memahami hakikat Allah memerintahkan salat jumah.Secara bahasa, ‘jumat’ artinya berkumpul.Allah swt memerintahkan manusia untuk berkumpul di masjid. Manusia membutuhkan sosialisasi dengan manusia yang lain. Di masjidlah tempat yang ideal untuk berkumpul. Dengan berkumpul di masjid, dengan sendirinya pembicaraan, aktivitas, dan obrolan akan terfilter dan terpilih otomatis karena masjid merupakan tempa ibadah. Berkumpul di masjid lebih mudah mengingat Allah dari pada di tempat lain.

Kalau kita tinjau dari bahasa Arab, awal hari sebenarnya hari Ahad (minggu).Ahad, artinya ‘hari ke satu’. Hari berikutnya adalah hari itsnain (senen) yang berarti ‘dua’..Selanjutnya tsulasa (selasa) yang berarti ‘tiga’. Dilanjutkan dengan arbia’ dari kata rabi’ (rebo) berarti ‘empat, Hari ke lima adalah khamis (kemis). Khamis artinya ‘lima’.Jika melihat urutan itu, maka hari kerja Cuma 5 hari dan dimulai dari hari ahad (minggu).Jadi minggu sampai kamis.
Hari berikutnya adalah hari jumat.Seperti yang saya katakan di atas, Jum’at artinya ‘berkumpul’.Maka sebenarnya Allah mengisyaratkan manusia memanfaatkan hari Jum’at untuk berkumpul dan beribadah bersama-sama di masjid.Berkumpul melakukan introspeksi setelah 5 hari bergelut dengan kesibukan duniawi.Untuk itulah, setiap mengawali khutbahnya, khatib selalu mengingatkan jamaah untuk memperbarui lagi tingkat keimanan dan ketaqwaannya kepada Allah swt.Dikhawatirkan, setelah bekerja dan bergelut dengn urusan dunia yang menyita tenaga, waktu, dan pikiran, manusia mengalami dekadensi iman dan taqwanya kepada Allah.Karena itulah, wasiat taqwa merupakan salah satu rukun khutbah.Tanpa wasiat taqwa, khutbah tidak sah.Understend? Tend…

Bagaimana dengan hari Sabtu?Hari Sabtu adalah hari ibadah dan instrospeksi personal secara mingguan.Kalau secara harian di sepertiga malam.Sehari dalam seminggu, yaitupada hari Sabtu, hubungan personal manusia dengan Tuhannya diberi ruang.Manusia membutuhkan hubungan privat dengan Tuhan. Dengan hubungan itu, manusia bisa curhat, meminta pertolongan, mengeluhkan permasalahan, mengaku dosa, dan hubungan2 privat lain antara manusia dengan Sang penciptanya. Dalam Agama Yahudi, dikenal dengan istilah yaumus Sabat.Artinya,Hari Sabtu. Hari untuk ibadah. Dalam Alquran digambarkan bangsa yahudi yang dikutuk jadi kera karena melanggar ketentuan yaumaus sabat ini (Albaqarah 65-66 ). Allah memerintahkan bangsa Yahudi untuk tidak mencari ikan pada hari sabtu. Hari Sabtu, oleh Allah waktu itu dikhususkan sebagai hari untuk beribadah. Namun, mereka melanggar.dan tetap mencari ikan.Memang, pada hari Sabtu, ikan-ikan malah meluber tidak seperti hari biasa.Mereka tergoda.Tergiur dan akhirnya melanggar.Dikutuklah mereka jadi kera.Kisah tentang hari Sabat ini banyak terdapat dalam Alqura antara lain, qs 6:124, qs 4:154, qs:7:163.

Untuk ummat Yahudi waktu itu, hari Sabtu memang dikhususkan untuk aktivitas ibadah.Artinya, segala aktivitas selain ibadah harus dihentikan.Hal ini tidak berlaku untuk ummat Islam saat ini. Ummat Nabi Muhammad saw. Ummat Islam lebih mudah dan lebih luas.Ummat Islam bisa beribadah dalam setiap aktivitasnya.Caranya, dengan meniatkan semua aktivitasnya karena Allah swt.Atas dasar ketaatan padaNya dan hanya mencari rida-Nya. Pada hari Jumat pun, setelah melakukan salat jumat, ummat Islam diperintahkan untuk menyebar mencari karunia Allah swt (Qs:62:9-10).

2. Tipe lumayan.
Tipe ini adalah tipe “sedang-sedang saja”.Ibarat mie pangsit, tidak basah juga tidak kering.Nyemek-nyemek.Dia pergi ke masjid tidak terlalu pagi juga tidak terlalu siang.Dia sebenarnya tahu, kalau berangkat pagi dapat onta, jika agak siang dapat kambing, dan seterusnya.

Namun, tampaknya kesibukan urusan “dunia” masih dianggap lebih penting dari urusan akhirat.Asalkan khotib belum naik mimbar, hal itu dianggapnya masih bisa ditolelir.Biasanya, tipe seperti ini cenderung pilih-pilih khotib. Jika khotibnya ulama tenar, kebetulan gurunya, atau salah satu idolanya, dia akan perhatikan dengan saksama. Hal itu akan berbanding terbalik jika khotibnya dianggapnya ilmunya pas-pasan, yang disampaikan itu-itu saja, atau khotibnya membaca hanya dari buku kumpulan khutbah. Dalam situasi ini, tipe seperti ini cenderung akan tidur meskipun tidak terlalu ngantuk atau jika tidak, dia akan sibuk sendiri memutar tasbih untuk berdzikir daripada mendengarkan khutbah yang dianggapnya membosankan.

Hal ini umumnya dialami oleh kelas menengah.Terutama kelas menengah dalam hal ilmu agama. Lulusan pesantren atau orang-orang yang mulai belajar ilmu agama, dan orang-orang yang merasa sudah memiliki ilmu agama yang cukup, dan sebagian orang yang sejak kecil mengenyam pendidikan madrasah Ibtidaiyah, sampai Aliyah, atau bahkan sarjana agama yang merasa sudah mumpuni. Mereka tahu ilmu agama tetapi ilmu itu belum berhasil menghiasi jiwa mereka.Tipe ini, disarankan untuk menambah wawasan tentang ilmu tasawwuf atau yang berkenaan dengan pembersihan penyakit hati.


3. Tipe Umum.
Disebut tipe umum, karena tipe ini yang paling banyak dijumpai ketika salat Jumat dilangsungkan.Paling top, orang yang ada dalam tipe ini melaksanakan salat Jumat hanya sebagai pembebas dari kewajiban saja. Ada yang mengikuti salat Jumat karena malu sama teman atau tetangga yang semuanya salat Jumat. Ada juga yang memanfaatkan salat Jumat untuk istirahat setelah kerja keras setengah hari, agar nanti sehabis acara salat Jumat “segar” kembali.
Tipe inilah yang paling potensial untuk tidur saat salat khotbah Jumat.Mereka menganggap khotbah Jumat tidak penting.Saya pernah iseng bertanya kepada salah seorang jamaah tipe ini.“Ahh, paling isinya kalau gak halal ya haram, kalau gak surga ya neraka”, saya sudah tau kok, mana yang baik dan yang tidak baik buat saya.”Jawaban tersebut tentunya sudah dapat menggambarkan jalan pikir orang yang ada pada tipe ini dan juga dapat menjawab pertanyaan mengapa banyak orang tidur saat khutbah Jumat.

Padahal, jika diamati, posisi-posisi orang tidur saat khutbah sangat tidak indah, tidak sehat, dan dapat menjatuhkan muruah (wibawa) bagi orang yang “merasa” berwibawa.Yang umum terjadi adalah dia tidur dengan menyangga dua pipinya dengan dua tangan.Ada juga yang seperti orang berpikir keras, menyangga jidatnya dengan tangan kanan.Ada yang entah sadar atau tidak menyandarkan kepalanya ke pundak jamaah yang di sampingnya atau ke punggung jamaah di depannya meskipun tidak kenal.

Yang sudah sampai pada taraf kronis adalah jika dia tidur sambil mendengkur atau (maaf) sampai mengeluarkan air liur.Hal itu pernah terjadi dan pernah penulis saksikan sendiri. Bahkan, yang juga sering penulis lihat ada jamaah yang tiba-tiba jatuh saat berdiri akan salat jumat karena kakinya kesemutan saking lamanya dia tidur.

Setelah mengetahui beberapa tipe di atas, termasuk tipe manakah Anda? Kalau saya, tipe ke tiga. He he

Seperti dikemukakan di atas, selain para jamaah, khotib Jumat juga dapat menjadi “tersangka” dalam kasus wabah tidur saat khutbah ini.Memang, tidak adil rasanya jika tudingan hanya diarahkan pada para jamaah.Para khotib juga selayaknya mawas diri dan membenahi kualitasnya. Jika para khatib mampu mengemas khutbahnya dengan baik, bermutu, dan menarik, maka hal itu tentu sedikit banyak dapat menjadi penawar “bisa kantuk” yang ditebarkan setan pada waktu khotib naik mimbar.

Apa saja yang perlu dilakukan khatib agar khutbahnya lebih menggigit dan menarik? Uraian tentang itu akan penulis paparkan dalam episode selanjutnya. Selamat Menunggu! 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar