(Karya: Moch. Cholis)
Kalau orang jawa bilang, saya itu suka niteni.
Entah apa padananan kata yang pas dalam bahasa Indonesia. Mungkin hampir setara
dengan kata ‘meneliti’. Kata niteni, memang berakar dari kata titen. Artinya,
teliti lan telaten.
Kebiasaan saya niteni ini akhirnya membuat
saya mempunyai teori-teori sendiri. Teori-teori itu kemudian saya terapkan
sendiri dan saya buktikan sendiri. Teori yang saya temukan misalnya soal gigi. Dulu,
saya sering sekali menggosok gigi. Sehari, bisa lima kali. Persis seperti yang
disarankan produsen pasta gigi dan dokter gigi. Namun, beberapa tahun
belakangan gigi saya banyak yang kropos. Berlubang di sana sini. Mudah sakit
gigi. Akhirnya, gigi saya banyak yang dicabut.
Setelah saya titeni,,mungkin penyebabnya
adalah menggosok gigi terlalu sering dengan pasta gigi yang berlebihan. Saya pun
beralih ke bata merah yang dilembutkan. Menyikat giginya memakai jari. Hasilnya,
saya sekarang hampir tidak pernah sakit gigi. Gigi saya tampaknya juga lebih
kuat. Tidak lagi mudah keropos.
Masih soal gigi, saya juga niteni bahwa gigi
yang sering digunakan mengunyah tidak gampang sakit. Logika saya mengatakan
bahwa dengan digunakan mengunyah makanan akan terjadi proses pembersihan gigi.
Bakteri-bakteri yang ngendon di gigi akan teangkat ikut dengan makanan.
Sudah asaya buktikan. Gigi saya, kanan dan kiri saya gunakan bergantian.
Bahkan, kalau ada gigi yang agak sakit, malah akan saya gunakan terus untuk
mengunyah. Biasanya, langsung sembuh.
Teori saya yang lain adalah soal kesehatan anak. Saya
niteni anak saya yang pertama. Usianya sekarang 13 tahun. Sejak bayi,
dia sangat “dilindungi”. Keluar harus pake sandal, sepatu,dan jaket lengkap. Biar tidak masuk angin
katanya. Mandi pagi harus dengan air hangat. Makan teratur, tidur teratur,
jarang main di luar. Dia sangat jarang
bersentuhan dengan debu dan kotoran. Mainannya sebatas permainan pabrikan.
Tapi, setelah saya titeni, anak saya yang
pertama itu malah ringkih dan mudah sakit. Ada perubahan cuaca, sakit. Keluar
malam, mudah masuk angin. Tak tahan banting. Kena debu sedikit, sesak napas.
Pendek kata, orang jawa menyebutnya gopok.
Pada anak saya yang kedua, cara mengasuhnya saya
ubah. Saya lepas dia. Debu-debu dia akrabi. Sering saya biarkan keluar tanpa
alas kaki sejak balita. Jaket sudah tidak terlalu dipedulikan, meski keluar
pake motor. Sukanya bermain pasir. Pernah, para tetangga geleng-geleng kepala
karena jam sebelas malam masih bermain pasir bersama adiknya.
Dia tidak
terlalu saya proteksi. Binatang-binatang yang bagi orang lain menjijikkan,
seperti ulat dan siput, dia pegangi. Kolam keruh penuh kecebong pernah dia
masuki dan dibuat mandi. Masuk kolam lele juga pernah dan tidak terjadi
masalah. Namun, kenyataannya, Sakitnya tidak pernah parah. Paling flu dan gatal-gatal.
Sedikit istirahat dan salep murahan, sudah menyembuhkan. Tidak seperti
kakaknya, dia lebih kuat, lebih tahan banting. Saya pun sampai pada kesimpulan
bahwa anak punya daya tahan tubuh dan daya adaptasi yang perlu terus dilatih
bukan diproteksi.
Soal makan dan tidur anak-anak, saya juga punya
teori sendiri. Awalnya, saya mengamati mengapa banyak anak yang susah makan.
Untuk makan saja butuh dikejar-kejar. Ada anak yang baru mau makan setelah
diiming-imingi hadiah atau diancam tidak diajak pergi. Ah, urusan makan saja
masa sampe butuh reward n punishment. Padahal, itu kebutuhan dasar manusia. T er la
lu.
Menurut saya, tubuh manusia sudah dibekali semacam
alarm sendiri untuk kebutuhan hidupnya. Lapar adalah alarm untuk makan. Haus
adalah alarm untuk minum. Ngantuk adalah alarm untuk tidur. Kebiasaan umum
orang tua adalah menyuapi anaknya tiga kali sehari. Pagi, siang, sore dan
malam. Akibatnya, alarm lapar anak jadi tidak berfungsi. Tumpul. Anak jadi
tidak pernah merasa lapar. Sebelum lapar dia sudah makan.
Begitu pula soal tidur. Banyak anak yang dipaksa
tidur sebelum ngantuk. Akhirnya, butuh perjuangan ekstra untuk menidurkannya.
Harus digendong atau diajak jalan-jalan dulu naik motor.
Kalau anak saya, tidak akan saya beri makan sebelum
dia minta makan. Tidak akan saya tidurkan sebelum dia tidur sendiri karena
kecapekan. Makan dan tidur jadi lebih sederhana. Kalau lapar, makan apa pun
enak. Kalau ngantuk, tidur beralas apa pun nyenyak. Saya pun tidak harus
bejuang berlebihan hanya untuk urusan makan dan tidur anak.
Iya ustadz..memang t e r l a l u
BalasHapus