Kamis, 03 Maret 2016

Lain Ladang Lain Belalang


(Karya: Laili Ivana)

Lain ladang lain belalang. Lain lubuk lain ikannya. Peribahasa itu sangat tepat untuk menggambarkan dua pengajar asing di sekolah tempat saya mengajar.  Mereka merupakan peserta  program pertukaran pengajar dari  Amerika. Yang satu, Laura namanya. Anaknya cantik, lugu, sopan, dan ramah. Sosok Laura, sempat membikin teman-teman guru lain keheranan. Pandangan kami tentang orang Amerika yang individualis, gesit, cuek, gaul, dan tak suka basa-basi  seakan terbantahkan dengan hadirnya Laura. Boleh dibilang, Laura lebih njawani dari kami yang orang Jawa. 
Setiap hari, Laura memakai baju batik. Tutur katanya halus. Perangainya lemah lembut bak Putri Solo. Selalu duluan menyapa dan mengajak salaman setiap bertemu orang. Salamannya dengan membungkukkan badan lebih rendah dari yang diajak bersalaman. Laura cepat akrab dengan semua civitas akademika. Laura telah memberi kesan yang hampir sempurna bagi masyarakat sekolah kami.
Perpisahan tiba, Laura dilepas dengan tangis haru.  Semua sayang sama Laura. Laura pun merasa berat meninggalkan kami. Pelukan erat yang mencekat kata-kata, mengoyak air mata kami. Tapi, program sudah berakhir. Laura harus kembali. Limpahan cindera mata dari teman-teman sempat mengagetkannya. Saking banyaknya sampai bagasinya overload. Aku juga membuatkan puisi untuknya. Begini bunyinya.
Laura
Kau telah mengisi indah hari kami
Kau telah melukis cinta di hati
Kau nada yang meresonansi
Kau bunga yang mewarnai

Ku yakin, nanti kau akan tersiksa rindu
Indonesia akan  mengganggu harimu..

Ingatlah,
Keindahan alamnya
Keramahan manusianya
Keragaman budayanya
Kelezatan dan keunikan masakannya
Tak akan kau temukan
Di belahan lain dunia

Kalau kau tak tahan dengan kerinduan
Kembalilah kau ke mari
Kami terima kau kembali
Dengan sepenuh hati
Kau sudah bagian dari kami


Laura pulang, pengajar lain datang menggantikannya. Sama-sama dari Amerika. Program yang mendatangkannya juga sama. Stefani namanya. . Penampilan dan karakternya”AMRIK beneran”.Guru-guru menyambutnya dengan senang hati. Terbawa suasana romantisme Laura sepertinya.
Saking antusiasnya, Stefani dihujani berbagai pertanyaan; Mulai soal usia, berapa kali ke Indonesia, orangtua, pendidikan, kota asal, sampai hal-hal kecil-kecil yang menyangkut personality, bahkan privacy. Pak Wahyu, salah seorang guru yang cukup senior mencoba bercanda. “Stefani, apa sudah punya pacar?”  “Saya sudah punya, “ jawab Stefani. “ Ah, sebenarnya mau saya jadikan mantu. Tapi gak papa juga sih, kan pacarnya orang sana. Statusnya masih pacaran toh, belum nikahan. “ Wajah Stefani sepontan memerah.  
Beberapa hari kemudian, Bu Rini  (counter part n co teacher/guru pendamping Stefani) memberitahukan ke semua guru, bahwa dirinya ditegur oleh penyelenggara program pertukaran pengajar di Jakarta. Khususnya  tentang privacy dan perbedaan budaya.  Bagi Stefani, pacaran adalah hal yang privat. Tidak untuk diobrolkan dan tidak untuk diguyonkan.  Dia juga kurang berkenan ketika diajak bersalaman dengan dua tangan. Padahal, dalam budaya Jawa, bersalaman dengan dua tangan menunjukkan penghormatan. Bagi Stefani, itu tidak sopan.
Stefani sangat tidak suka ditanya tentang umur, urusan pribadi, dan urusan-urusan di luar pekerjaan dia sebagai pengajar. Jangan harap mendapat jawaban yang memuaskan terhadap pertanyaan basa-basi, misalnya “Pulang nanti, mau pergi ke mana, dan sama siapa”.  Bagi Stefani, urusan-urusan di luar pekerjaan tidak untuk dibicarakan dengan rekan kerja. Ada pemisahan jelas antara rekan kerja, teman, sahabat, dan pacar.  
Usut punya usut, perbedaan  perilaku dan sikap antara Laura dan Stefani karena latar belakang yang berbeda. Meski sama dari Amrik, tetapi Laura masih punya darah Asia. Ibunya keturunan Jepang. Darah ASIA mengalir dalam diri Laura dan cukup dominan dalam mewarnai penampilan serta karakternya. Sedangkan Stefani, memang Amerika tulen.
 Itulah teman, Lain ladang lain belalang. Lain orang, lain pula karakteristiknya. Meski berasal dari negara yang sama, banyak faktor yang bisa membuatnya berbeda. Karena itu, sikap dan perilaku kita dalam menghadapinya (terutama orang asing) juga harus  berbeda. Perbedaan adalah sebuah keniscayaan Perlu kejelian untuk menangkapnya. Agar kita bisa tepat mengambil koordinat sikap dalam menghadapinya.                                 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar