(Karya: Laili Ivana)
Lain ladang lain belalang. Lain lubuk lain ikannya.
Peribahasa itu sangat tepat untuk menggambarkan dua pengajar asing di sekolah
tempat saya mengajar. Mereka merupakan peserta program pertukaran
pengajar dari Amerika. Yang satu, Laura namanya. Anaknya cantik, lugu,
sopan, dan ramah. Sosok Laura, sempat membikin teman-teman guru lain keheranan.
Pandangan kami tentang orang Amerika yang individualis, gesit, cuek, gaul, dan
tak suka basa-basi seakan terbantahkan dengan hadirnya Laura. Boleh
dibilang, Laura lebih njawani dari kami yang orang Jawa.
Setiap hari, Laura memakai baju
batik. Tutur katanya halus. Perangainya lemah lembut bak Putri Solo. Selalu
duluan menyapa dan mengajak salaman setiap bertemu orang. Salamannya dengan
membungkukkan badan lebih rendah dari yang diajak bersalaman. Laura cepat akrab
dengan semua civitas akademika. Laura telah memberi kesan yang hampir sempurna
bagi masyarakat sekolah kami.
Perpisahan tiba, Laura dilepas
dengan tangis haru. Semua sayang sama Laura. Laura pun merasa berat
meninggalkan kami. Pelukan erat yang mencekat kata-kata, mengoyak air mata
kami. Tapi, program sudah berakhir. Laura harus kembali. Limpahan cindera mata
dari teman-teman sempat mengagetkannya. Saking banyaknya sampai bagasinya overload.
Aku juga membuatkan puisi untuknya. Begini bunyinya.
LauraKau telah mengisi indah hari kami
Kau telah melukis cinta di hati
Kau nada yang meresonansi
Kau bunga yang mewarnai
Ku yakin, nanti kau akan tersiksa rindu
Indonesia akan mengganggu harimu..
Ingatlah,
Keindahan alamnya
Keramahan manusianya
Keragaman budayanya
Kelezatan dan keunikan masakannya
Tak akan kau temukan
Di belahan lain dunia
Kalau kau tak tahan dengan kerinduan
Kembalilah kau ke mari
Kami terima kau kembali
Dengan sepenuh hati
Kau sudah bagian dari kami
Laura pulang, pengajar lain datang
menggantikannya. Sama-sama dari Amerika. Program yang mendatangkannya juga
sama. Stefani namanya. . Penampilan dan karakternya”AMRIK beneran”.Guru-guru
menyambutnya dengan senang hati. Terbawa suasana romantisme Laura sepertinya.
Saking antusiasnya, Stefani
dihujani berbagai pertanyaan; Mulai soal usia, berapa kali ke Indonesia,
orangtua, pendidikan, kota asal, sampai hal-hal kecil-kecil yang menyangkut personality,
bahkan privacy. Pak Wahyu, salah seorang guru yang cukup senior
mencoba bercanda. “Stefani, apa sudah punya pacar?” “Saya sudah punya, “
jawab Stefani. “ Ah, sebenarnya mau saya jadikan mantu. Tapi gak papa
juga sih, kan pacarnya orang sana. Statusnya masih pacaran toh, belum
nikahan. “ Wajah Stefani sepontan memerah.
Beberapa hari kemudian, Bu Rini (counter
part n co teacher/guru pendamping Stefani) memberitahukan ke semua guru,
bahwa dirinya ditegur oleh penyelenggara program pertukaran pengajar di
Jakarta. Khususnya tentang privacy dan perbedaan budaya. Bagi
Stefani, pacaran adalah hal yang privat. Tidak untuk diobrolkan dan tidak untuk
diguyonkan. Dia juga kurang berkenan ketika diajak bersalaman dengan dua
tangan. Padahal, dalam budaya Jawa, bersalaman dengan dua tangan menunjukkan
penghormatan. Bagi Stefani, itu tidak sopan.
Stefani sangat tidak suka ditanya
tentang umur, urusan pribadi, dan urusan-urusan di luar pekerjaan dia sebagai
pengajar. Jangan harap mendapat jawaban yang memuaskan terhadap pertanyaan
basa-basi, misalnya “Pulang nanti, mau pergi ke mana, dan sama siapa”. Bagi
Stefani, urusan-urusan di luar pekerjaan tidak untuk dibicarakan dengan rekan
kerja. Ada pemisahan jelas antara rekan kerja, teman, sahabat, dan pacar.
Usut punya usut, perbedaan
perilaku dan sikap antara Laura dan Stefani karena latar belakang yang berbeda.
Meski sama dari Amrik, tetapi Laura masih punya darah Asia. Ibunya keturunan
Jepang. Darah ASIA mengalir dalam diri Laura dan cukup dominan dalam mewarnai
penampilan serta karakternya. Sedangkan Stefani, memang Amerika tulen.
Itulah teman, Lain ladang
lain belalang. Lain orang, lain pula karakteristiknya. Meski berasal dari
negara yang sama, banyak faktor yang bisa membuatnya berbeda. Karena itu, sikap
dan perilaku kita dalam menghadapinya (terutama orang asing) juga harus
berbeda. Perbedaan adalah sebuah keniscayaan Perlu kejelian untuk menangkapnya.
Agar kita bisa tepat mengambil koordinat sikap dalam menghadapinya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar