Kamis, 03 Maret 2016

Niteni



(Karya: Moch. Cholis)

Kalau orang jawa bilang, saya itu suka niteni. Entah apa padananan kata yang pas dalam bahasa Indonesia. Mungkin hampir setara dengan kata ‘meneliti’. Kata niteni, memang berakar dari kata titen. Artinya, teliti lan telaten.  
Kebiasaan saya niteni ini akhirnya membuat saya mempunyai teori-teori sendiri. Teori-teori itu kemudian saya terapkan sendiri dan saya buktikan sendiri. Teori yang saya temukan misalnya soal gigi. Dulu, saya sering sekali menggosok gigi. Sehari, bisa lima kali. Persis seperti yang disarankan produsen pasta gigi dan dokter gigi. Namun, beberapa tahun belakangan gigi saya banyak yang kropos. Berlubang di sana sini. Mudah sakit gigi. Akhirnya, gigi saya banyak yang dicabut.
Setelah saya titeni,,mungkin penyebabnya adalah menggosok gigi terlalu sering dengan pasta gigi yang berlebihan. Saya pun beralih ke bata merah yang dilembutkan. Menyikat giginya memakai jari. Hasilnya, saya sekarang hampir tidak pernah sakit gigi. Gigi saya tampaknya juga lebih kuat. Tidak lagi mudah keropos.
Masih soal gigi, saya juga niteni bahwa gigi yang sering digunakan mengunyah tidak gampang sakit. Logika saya mengatakan bahwa dengan digunakan mengunyah makanan akan terjadi proses pembersihan gigi. Bakteri-bakteri yang ngendon di gigi akan teangkat ikut dengan makanan. Sudah asaya buktikan. Gigi saya, kanan dan kiri saya gunakan bergantian. Bahkan, kalau ada gigi yang agak sakit, malah akan saya gunakan terus untuk mengunyah. Biasanya, langsung sembuh.
Teori saya yang lain adalah soal kesehatan anak. Saya niteni anak saya yang pertama. Usianya sekarang 13 tahun. Sejak bayi, dia sangat “dilindungi”. Keluar harus pake sandal, sepatu,dan  jaket lengkap. Biar tidak masuk angin katanya. Mandi pagi harus dengan air hangat. Makan teratur, tidur teratur, jarang main di luar.  Dia sangat jarang bersentuhan dengan debu dan kotoran. Mainannya sebatas permainan pabrikan.
Tapi, setelah saya titeni, anak saya yang pertama itu malah ringkih dan mudah sakit. Ada perubahan cuaca, sakit. Keluar malam, mudah masuk angin. Tak tahan banting. Kena debu sedikit, sesak napas. Pendek kata, orang jawa menyebutnya gopok.
Pada anak saya yang kedua, cara mengasuhnya saya ubah. Saya lepas dia. Debu-debu dia akrabi. Sering saya biarkan keluar tanpa alas kaki sejak balita. Jaket sudah tidak terlalu dipedulikan, meski keluar pake motor. Sukanya bermain pasir. Pernah, para tetangga geleng-geleng kepala karena jam sebelas malam masih bermain pasir bersama adiknya. 
 Dia tidak terlalu saya proteksi. Binatang-binatang yang bagi orang lain menjijikkan, seperti ulat dan siput, dia pegangi. Kolam keruh penuh kecebong pernah dia masuki dan dibuat mandi. Masuk kolam lele juga pernah dan tidak terjadi masalah. Namun, kenyataannya, Sakitnya tidak pernah parah. Paling flu dan gatal-gatal. Sedikit istirahat dan salep murahan, sudah menyembuhkan. Tidak seperti kakaknya, dia lebih kuat, lebih tahan banting. Saya pun sampai pada kesimpulan bahwa anak punya daya tahan tubuh dan daya adaptasi yang perlu terus dilatih bukan diproteksi.
Soal makan dan tidur anak-anak, saya juga punya teori sendiri. Awalnya, saya mengamati mengapa banyak anak yang susah makan. Untuk makan saja butuh dikejar-kejar. Ada anak yang baru mau makan setelah diiming-imingi hadiah atau diancam tidak diajak pergi. Ah, urusan makan saja masa sampe butuh reward n punishment.  Padahal, itu kebutuhan dasar manusia. T er la lu.
Menurut saya, tubuh manusia sudah dibekali semacam alarm sendiri untuk kebutuhan hidupnya. Lapar adalah alarm untuk makan. Haus adalah alarm untuk minum. Ngantuk adalah alarm untuk tidur. Kebiasaan umum orang tua adalah menyuapi anaknya tiga kali sehari. Pagi, siang, sore dan malam. Akibatnya, alarm lapar anak jadi tidak berfungsi. Tumpul. Anak jadi tidak pernah merasa lapar. Sebelum lapar dia sudah makan.
Begitu pula soal tidur. Banyak anak yang dipaksa tidur sebelum ngantuk. Akhirnya, butuh perjuangan ekstra untuk menidurkannya. Harus digendong atau diajak jalan-jalan dulu naik motor.
Kalau anak saya, tidak akan saya beri makan sebelum dia minta makan. Tidak akan saya tidurkan sebelum dia tidur sendiri karena kecapekan. Makan dan tidur jadi lebih sederhana. Kalau lapar, makan apa pun enak. Kalau ngantuk, tidur beralas apa pun nyenyak. Saya pun tidak harus bejuang berlebihan hanya untuk urusan makan dan tidur anak.

1 komentar: