Selasa, 01 November 2016

GURU BARU CAZA

(Agnes Krisantin Kusumawardani)

   Ada guru baru di sekolah Caza. Cantik, lembut, dan sabar. Ternyata cara mengajar beliau pun menyenangkan, sehingga semakin disukai oleh siswa. Teman-teman Caza segera berebut mencari perhatian sang guru. Mereka semua ingin bisa dekat dengan sang guru. Tak terkecuali Caza.
   Suatu hari, teman sekelas Caza yang bernama Guntur datang pagi-pagi di sekolah sambil membawa bungkusan besar. Teman-temannya sangat penasaran
   "Wah, apa yang kamu bawa itu?"
   "Hehe, lihat aja sendiri nanti " jawab Guntur.
   Tak berapa lama bel masuk pun berbunyi. Para siswa segera berbaris dengan rapi. Caza, sang ketua kelas memimpin barisan. Satu persatu, murid pun memasuki kelas.
   Bu Dewi, sang guru baru akhirnya memasuki kelas.
   Tiba-tiba Guntur maju ke depan kelas sambil membawa bungkusan yang besar itu.
   Bu Dewi yang sedang merapikan buku terlihat kaget. "Ada apa, Guntur?"
   "Eh, anu Bu. Ibu saya menitipkan ini buat Bu Dewi, oleh-oleh dari Jogja."
   "Lho, kenapa harus repot-repot? Apa ini?"
   "Ini makanan khas Jogja, Bu."
   "Oh," Hanya itu yang dikatakan Bu Dewi. "Terimakasih, Guntur. Kamu boleh kembali ke tempat dudukmu."
   Guntur pun kembali dengan perasaan bangga.
   Caza melihat itu semua dengan perasaan sedih, karena dia tidak memiliki apa-apa yang bisa diberikan pada bu Dewi.
   Sejak saat itu, teman-teman yang lain ikut-ikutan memberikan bingkisan untuk bu Dewi. Hampir etiap hari, ada saja yang membawa bingkisan.
   Suatu hari, Caza memberanikan diri meminta uang pada ibunya.
   Ibunya bertanya "Untuk apa, Caz?"
   "Eh, Caza ingin membelikan sesuatu untuk bu Dewi, Bu."
   Ibunya mengerutkan kening. "Apakah gurumu ulang tahun?
   "Tidak sih, tapi teman-teman Caza semua memberi sesuatu untuk bu Dewi."
   Ibunya semakin mengerutkan kening.
   "Bu Dewi baik dan menyenangkan, makanya kami semua ingin menyenangkan hatinya."
   Ibunya menahan senyum, "Caz, bukan begitu caranya untuk mendapat perhatian. Itu namanya menyuap. Kalau kamu ingin mendapat perhatian dari beliau , kamu harus jadi murid yang baik dan bertanggung jawab. Kerjakan tugas-tugas dari beliau tepat waktu, laksanakan tugasmu sebagai ketua kelas dengan penuh tanggung jawab."
   Keesokan harinya di sekolah, sewaktu istirahat sedang berlangsung, Caza bermain bola dengan teman-temannya. Pertandingan berlangsung seru. Teman-teman yang tidak bermain, menonton di pinggir lapangan sebagai suporter.
   Tapi tiba-tiba Guntur yang sedang asyik bermain bola melihat seorang guru yang sibuk memunguti buku-buku yang terjatuh berserakan di depan kelas.
   "Hei, coba lihat! Bu Dewi dalam kesulitan tuh. Cepat tolong beliau!" Guntur menyuruh Siska.
   "Ye, kok bukan kamu sendiri sih yang membantu!" seru Siska.
   "Aku kan sedang bermain bola, kamu kan tidak!"
   "Aku kan jadi suporter!" Siska tidak mau kalah.
   Caza yang mengetahui bahwa ada guru yang dalam kesulitan segera menghampiri  walaupun dia sedang menggiring bola.
   "Bu, mari saya bantu."
   Bu Dewi menoleh, dan tersenyum lega ketika ada yang menolongnya. "Terimakasih ya, Caz. Untung ada kamu. Bukunya banyak sekali, rupanya ibu tak kuat membawanya."
   "Mari saya bantu bawakan sampai ruang guru." Bu Dewi bersama Caza menuju ruang guru sambil membawa tumpukan buku.
   Tak berapa lama, bel masuk pun berbunyi.
   Bu Dewi memasuki kelas. Setelah murid-murid mengucapkan salam, bu Dewi duduk. Belum sempat bu Dewi berbicara, seorang murid maju ke depan. Di tangannya ada bingkisan kecil.
   Teman-temannya yang lain segera penasaran, kali ini apa yang akan diberikan pada guru favorit mereka.
   "Ada apa, Siska? tanya bu Dewi. Bu Dewi mengerutkan kening begitu mengetahui Siska mengulurkan bingkisan itu. Bu Dewi menghela napas, sambil berkata, "Terima kasih ,Siska. Tapi maaf, bu Dewi tidak bisa menerimanya. Bawa bingkisan ini kembali ya."
   Siska kembali duduk dengan tertunduk tak mengerti.
   "Anak-anak yang ibu kasihi, ibu sangat menghargai perhatian kalian pada ibu. Tapi maafkan ibu, mulai sekarang ibu tidak bisa menerima bingkisan dalam bentuk apapun. "
   Bu Dewi berhenti sejenak, kemudian meneruskan. "Istirahat pertama tadi, ibu lihat kalian sedang asyik bermain bola ya?"
   "Iya, Bu" jawab anak-anak serentak.
   "Senang ya, bermain bola?"
   "Oh, tentu, Bu. Bermain bola adalah hobi kami" jawab Guntur dengan semangat.
   Bu Dewi menghela napas, "Ibu sampai tidak berani minta tolong pada kalian, karena takut kalian terganggu. Dari sekian banyak anak, cuma satu yang tergerak hatinya menolong ibu,
yaitu Caza."
   Anak-anak mulai ciut hatinya. Mereka menundukkan kepala, tak terkecuali Caza.
   Bu Dewi melanjutkan, "Sikap seperti itulah yang Ibu inginkan dari kalian. Mau menolong sesama yang membutuhkan, dan bahkan mengesampingkan kepentingan sendiri. Kalau kalian memberi banyak kado buat bu Dewi dengan tujuan agar bu Dewi senang dan lebih memperhatikan kalian, cara yang kalian gunakan itu salah. Dan sekarang, Caza, kemari, Nak"
   Caza pun maju ke depan, dan berdiri di samping bu Dewi. Bu Dewi melanjutkan, "Anak yang seperti inilah yang Ibu harapkan, dia bersedia menolong ibu walaupun saat itu sedang asyik bermain bola."
   Wajah Caza memerah penuh rasa bangga.(end)
                              
       

Tidak ada komentar:

Posting Komentar