(Moch. Cholis)
Udunen kali ini tidak sesederhana seperti udunen2 yg pernah saya alami. Seperti pesawat siluman F 16, datangnya tidak terdeteksi. Berawal dari bintik kecil di area betis yang awalnya tampak manis. Muncul seperti gadis lugu nan ayu. Tidak ada sama sekali tanda2 bahwa dia membawa bom atom atau virus yg bisa meledak tiba2.
Seperti biasa, ketika muncul bintik kecil tanda2 udun itu, upaya preventif saya lakukan. Kalo dulu saya tempeli *upil* spt nasihat orang2 tua dulu. Tapi krn zaman semakin maju dan tuntutan modernitas, maka saya coba tutupi dg plester. Asumsi sy bahwa yang penting tidak memberi kesempatan pada si udun kecil untuk bernapas. Cara ini telah berhasil menjinakkan setidaknya setengah lusin bibit ranjau udun yang tertanam di badan saya.
Namun, hal ini tidak berlaku di udun satu yang manis ini. 3 hari tersekap dlm plester, sptnya dia akan juga kalah. Tapi ternyata tidak. Dia malah menghimpun kekuatan. Bak tentara kamikaze Jepang, di hari ke empat, udun yg awalnya manis itu berubah menjadi merah darah. Bengkaknya membengkakkan hampir setengah wilayah betis. Kelenjar2 tubuh ikut diserang. Di bagian pangkal paha dia menanam benjolan. Ternyata, si udun kecil tidak sendirian. Dia membawa tiga saudaranya yg awalnya disembunyikan.
Ada tiga titik mata udun. Berkumpul di satu tempat. Menyerang satu tempat. Darah merah, putih, dan nanah membentuk gundukan besar yang siap meledak. Area bengkaknya 5 kali lipat dari kawah puncaknya. Prosentasenya Lebih besar dibanding kawah bromo dg kaki bukit penopangnya.
Tubuh jadi demam. Berdiri pun susah. Jika berdiri dari tidur, Aliran darah dari atas tubuh yg turun menuju kaki akan terasa sangat sakit. Cekot2. Cenut2. Bahkan bisa membuat kaki kehilangan kuda2nya dan kemudian jatuh. Seluruh organ tubuh seakan dibuatnya ikut merasakan getarannya.
Ingat udun, jadi ingat ahok yg sekarang jadi common enemy ( musuh bersama) bagi ummat Islam. Tidak hanya kaki yang diserang yg sakit, seluruh tubuh ikut sakit. Seluruh tubuh berusaha mengkonfrontir musuh bersama itu. Mulut mengaduh. Tangan mengelus. Organ2 dalam memproduksi anti bodi untuk melawannya. Demikianlah seharusnya ummat Islam. Kata Nabi Saw. _kal jasadil waahid_ (seperti satu tubuh). Satu sakit yg Yg lain juga terasa sakit. Mohon doanya. Mohon maaf jika selama ini banyak salah.
Udun yg super besar ini sebenarnya adalah objek riset (niteni) pribadi. Riset dari asumsi pribadi saya yg berkeyakinan bahwa manusia itu diciptakan sudah lengkap. Sudah sempurna (_ahsani taqwiim_/_master piece_). Termasuk dlm hal pengobatan sakit fisik. Asumsi saya, di dalam diri manusia sudah ada anti bodi semua penyakit. Beberapa ahli mengatakan bhw sebenarnya, tubuh manusia adalah apotik yg paling lengkap. Namun, manusia tidak mampu memaksimalkannya karena sering menggunakan 'bantuan' dari luar tubuhnya. Terutama obat kimia. Akibatnya, tubuh manusia semakin manja dan ringkih. Organ2 tubuhnya kurang maksimal bekerja krn sering dibantu 'obat kimia'. 'Kemanjaan' tubuh tsb diperparah dg pola makan yg kacau. Pola hidup yg 'enak'. Jarang jalan kaki. Bersantai di depan tv. Apa2 pake remot. Fungsi kaki yg harusnya dipake jalan sudah tereduksi. Digantikan motor dan mobil. Kaki sudah jarang bersentuhan dg tanah, dg kerikil dan batu. Kaki diciptakan tanpa alas. Di kaki terdapat banyak titik2 refleksi yg berhubungan dg jaringan syaraf organ2 penting manusia.
Begitulah, selalu ada anomali di dunia ini. Kemajuan teknologi yg semakin mempermudah manusia juga berefek menurunkan daya hidup manusia pelan2. Menurut pengalaman menghadapi udun2 sebelumnya, sebenarnya sangat mudah. Satu lusin udun yg secara sporadis pernah menyerang berbagai daerah tubuh, mampu saya tundukkan dg mudah. Waktu udun pertama menyerang, saya berobat ke dokter spesialis. Hanya diliat, tanpa diraba, tanpa ditrawang langsung dikasih resep. _Oflox*c*n_ Manjur. Tidak sampai 3 hari. Tanpa njebrot, udun lenyap. Bersih tak berbekas.
Namun, Tidak sampai 2 minggu, muncul udun lagi di tempat lain. Tanpa ke dokter, saya beli _oflox*c*n_ lgsg ke apotik. Klo pake resep 35 rb/emplek. Klo tanpa resep 9 rb per emplek. Entah bagaimana ceritanya. Tentu sangat panjang. Gk mungkin dibahas di sini. Bisa lbh panjang dari kasus jessica Mirna. He he
Hal spt itu terus berulang. 2 minggu, muncul lagi. Kasih obat, lenyap. Sampai sekitar 3 kali putaran. Terakhir, muncullah udun kecil bersejarah ini. Saya kemudian bertekad untuk tidak pake obat. Ada prinsip yg saya pegang dan sedang saya teliti *Terkadang, pengobatan terbaik adalah dg tidak mengobati* Dalam hal psikologi dan kejiwaan, sdh sangat banyak bukti dan hasil yg memperkuat teori saya di atas. Terutama dari pengalaman org2 yg 'curhat'. (Kapan2 klo sempat saya tulis beberpa kisah uniknya).
Dalam hal penyakit fisik, baru kali ini saya coba _titeni_Hasilnya blm sampai pada kesimpulan. Beberapa rumusan masalah belum terjawab. Sampai saat ini, Rupanya si udun dendam. Saat ini sedang proses dituntas-tuntaskan. _Ditutuk-tutukno_. Saya mencoba kuat untuk tetap _say no to_ obat kimia yg masuk dlm tubuh. Saya coba pijat refleksi atas saran teman. Dipijatlah saya. Mulai jam 11 malam sampai hampir subuh. Sekitar 4 jam. Rekor pijat terlama seumur hidup saya. Biayanya 100 rb. Murah, harga teman. Hasilnya, lumayan enteng awalnya. Bagian2 tubuh lain, seperti diservis total. Namun, pada bagian udun efeknya tidak terlalu signifikan. Beberpa jam kemudian cekot2 dan cenut2 datang lagi.Tidak permisi.
Akhirnya, saran teman2 kepompong saya coba satu persatu. Dimulai dari penjebrotan. Alhamdulillah, meski kuat cuma separuh nanah yg keluar, saat ini sudah bisa jalan. Sakitnya waktu njebrot minta ampun. Jam 1 malam, menyiksa diri sendirian. Saya kira, lebih sakit dari melahirkan. Coba sendiri rasakan dan bandingkan jika tidak percaya...he he. Saat ini si udun sedang terkubur dlm baluran ramuan hitam _ichtiy*l_ Wajahnya semakin seram. Mengerikan. Seperti gundukan batu besar yg disiram aspal jalan..
Tidak ada komentar:
Posting Komentar