Selasa, 25 Oktober 2016

Riba



(Moch. Cholis)

Masalah Riba memang jelas, dalam Islam Allah swt melarangnya. Riba dalam arti sistem _renten_. Orangnya disebut _Rentenir_.

Yang menjadi perdebatan di kalangan para ulama adalah soal bunga bank. *Apakah bunga bank sama dg riba?* Itu yg debateble. Mayoritas ulama memang mengharamkan bunga bank krn menganggapnya sama dg riba. Jika pun halal, krn adanya kondisi darurat, spt pembayaran ONH dll. Tapi, ada juga ulama2 spt Syekh Al-Azhar (univ kairo Mesir), Sayyid Muhammad Thanthawi, Dr. Ibrahim Abdullah an-Nashir, dalam buku Sikap Syariah Islam terhadap Perbankan, Dr.Alwi Shihab dalam wawancaranya dengan Metro TV bbrapa waktu lalu, dll.


Jika disimpulkan, setidaknya, ada 3 pendapat para ulama soal bunga bank dg dalil dan argumen masing2. Tentu juga sama2 berdasarkan Alquran dan hadis (namanya saja ulama agama).
1. *Haram* karena menganggap Bunga bank sama dengan riba.
2. *boleh* karena bunga dianggap tidak sama dengan riba yang diharamkan oleh syariat islam
3. Bunga bank haram tapi karena belum ada jalan keluar untuk mengindarinya, maka diperbolehkan dlm kondisi darurat.
Soal apakah orang yg memakai/meminjam/kredit perbankan pasti akan bermasalah hidupnya, fakta di lapangan mengatakan bermacam-macam.

*Profesi pegawai*
a. Ada teman pegawai yg bisa punya rumah dan perabotan macam2 krn hasil kredit dari bank dan sampai sekarang terus berlangsung. Kalau tidak kredit dia malah tidak punya apa2. Uang gajian selalu habis klo dipegang. Dengan kredit, dia dan keluarganya terpaksa _ngempet_, ngirit, makan seadanya, dll. Menurutnya, klo tdk kredit dan KPR dia tidak bisa spt sekarang. Dia tidak akan punya rumah untuk bernaung. Kendaraan untuk bekerja, biaya kuliah anak2, dll. Intinya, dia selalu pinjam bank dulu, kemudian _ngempet_ krn gajinya yg tidak seberapa itu dipotong untuk cicilan. Klo dia tabung sendiri, di samping lama, nilai uang terus turun, harga barang terus naik krn inflasi. Belum lagi, biasanya _gatel_ untuk _nyukiti_ celengan klo ada keperluan yg tdk begitu penting.

b. Ada juga pegawai yg terus2 disiksa kredit. Semuanya dikredit. Rumah, motor, panci, tupperware, dll. Tanpa pertimbangan besar gajinya. Akhirnya, besar gajinya gk nutut buat bayar cicilan krn juga ada kebutuhan sehari hari.  Krn sering gk bisa bayar, diuber uber debt collector.  Akhirnya, barangnya malah disita dan sekarang malah tidak punya apa2 sementara cicilan potong gajinya jalan terus.

*profesi pengusaha*
a. Ada yang awalnya usahanya sukses tanpa modal dari bank. Dia modal dari tabungan. Bisnis dirintis dari kecil. Berkembang, step by step, sampai besar. Datanglah pihak bank menawari modal usaha. Karena ingin usahanya  berkembang lagi, dia pinjam ke bank dg jaminan yg dia punya. Di luar dugaan, usahanya macet.
Bukannya berkembang, usahanya malah bangkrut dan asetnya habis. Sampai rumahnya disita.

b. Ada yg sukses memakai jasa uang bank untuk memodali usaha kulinernya. Dia bilang, tanpa bunga bang gk mungkin dia sukses spt sekarang. Ayahnya, yg blantik sapi juga awalnya ditolong dana dari bank sampai bisa sukses spt sekarang. Awalnya, si ayah jualan panci kriditan keliling ke kampung2. Kemudian, ada yg nawari bisnis sapi potong. Dg modal tabungannya dia beli sapi du pasar. Dagingnya dijual oleh istrinya. Di pasar sapi, dia melihat peluang. Rata2 waktu itu, krn jumlah sapi msh banyak, banyak pedagang yg menjual sapinya dg dihutangkan pada pembeli. Namun, harganya dinaikkan dari harga normal. Misal, harga normal 10 juta, kalo dihutang jadi 12 juta.  Dia hitung, selisih harga sapi kontan dan hutang jauh di atas rasio bunga bank. Akhirnya, dia pun hutang bank untuk membeli sapi scr kontan. Para pedagang sapi, waktu itu, senang sekali klo ada uang cash. Harga murah pun, dilepas asal lgsg dpt uang. Beruntunglah dia. Selisih keuntungannya lumayan. Usahanya berkembang sampai sekarang. Dari tidak punya apa apa, sampai lebih dari punya apa2. Dia pun berkesimpulan, " Tanpa modal dari bank, menurutnya usahanya tdk bisa jalan. Sampai sekarang, usaha bapak dan anak ini sangat tumbuh dan membesar.

Klo saya sendiri, memang menghindari kredit dari bank, baik untuk usaha maupun beli barang. Kecuali oper kredit, krn saya beli dan akad dg yg punya barang bukan dg bank. Alasan terbesarnya bukan soal halal haram. Ayah saya melarang. Ayah saya anti kredit. Anti arisan.  Klo tidak punya uang, mending makan dan menikmati apa yang ada. Mending jalan kaki drpd pakai motor kriditan.

Bagaimana dg Anda? Tentu jawabannya terserah Anda. Anda diberi Allah hak pilih dan sudah dibekali *akal dan hati* untuk memilih. Anda sendiri yg bertanggung jawab dg setiap pilihan Anda. Bertanggung jawab pada Tuhan Anda dan hidup Anda.  Setiap pilihan yg Anda buat sekecil apa pun akan berpengaruh besar pada kebahagiaan Anda, baik dunia maupun akhirat.

Wassalamualaikum wr wb...

Tidak ada komentar:

Posting Komentar