Kamis, 21 April 2016

Rembulan Yang Tersandera


(Moch. Cholis)

Di antara wajah sendu
Yang sedang menunggu ketukan palu
Ingin aku menjadi lautan
Yang menampung semua air mata
Yang belum, sudah, dan akan tumpah

Angin yang berhembus
Di sela-sela bulu kudukku
Membawa cerita berbagai keluh-kesah manusia

Nafas-nafas yang tersengal kelelahan
Berpacu dengan derita
Yang tak berkesudahan


Sisa-sisa api unggun yang terbakar
Terbang berkeliling
Mengetuk pintu-pintu rumah  punggawa istana

Rembulan sedang tersandera

Cahayanya rebah

Lemah diperkosa berjuta-juta raksasa
Bertaring haus darah
Yang menghisap-hisap
Sampai ke sumsum tulang korbannya

Seperti biasa, aku tak bias berbuat apa

Tidak ada komentar:

Posting Komentar