(M.
Falikhul Isbah)
Kita
pernah meniti licinnya
Batang
kehidupan
Kita
pernah terkepung para
omnivora
pemangsa keadaan
Menyembunyikan
jiwa putih
di
balik hijaunya daun kebaikan
Dalam
kepompong ini
Kita
tidak berdiam diri
Namun
bergerak meraup
wawasan
Dalam
kepompong ini
Kita
menutup mata menyumbat
telinga
Namun
hati dan jiwa terbuka
Dalam
kepompong ini
kata
lukaterkunci gurauan
kata
suka sebentang lautan
Kita
tak pernah berhenti
Tak
juga pernah kibarkan
bendera
putih
Sampai
waktu menjamah jiwa
Sampai
takdir menelanjangi kita
Menjelma
sesuatu yang indah
Menjadi
sesuatu yang berharga
Tidak ada komentar:
Posting Komentar