Kamis, 03 Maret 2016

Sebuah Nama Sebuah Cerita

(Ahmad Baihaqi)

Malam itu, Jum'at legi. Undangan mulai berdatangan. Sebagian mereka sudah duduk melingkar di beranda. Malam tasyakuran hari ke 40 kelahiran bayi kembar ke dunia. Hari pengikraran menerima amanah Tuhan dalam tradisi masyarakat Madura.
Dua bocah merah lelap di atas nampan. Keduanya akan dibawa berputar saat undangan mulai kumandangkan barzanji, pujian atas keagungan Rosulullah shallallahu alaihi wasallam.
Dari dalam rumah, dari sudut kamar di mana dua bayi telentang di atas nampan, terdengar suara kepanikan. Satu bayi yang masih merah tiba2 tubuhnya panas dingin, mengigil sesaat barzanji telah menggema ke seluruh ruangan.
Raut wajah ibu memucat menahan cemas. kakak tertua, menyerbu dapur, menyikat air hangat dalam termos, mengambil lap, lalu merendamnya sebentar pada air hangat. Sesaat kemudian menempelkan pada dahi dan mengusapkan pada seluruh tubuh sang bayi. Tubuh bayi semakin panas diiringi jerit yang semakin keras. Barzanji semakin menggema, suaranya penuh sesak menggelegar ke seluruh ruangan.
Sementara bayi merah lainnya, semakin lelap bak didekap malaikat dari surga.
Berbagai praduga mulai bermunculan, diterbangkan angin hingga ke penjuru kampung. Bayi kembar selalu disertai jin. Makhluk halus tak rela melihat dua anak manusia tidur dalam satu nampan. Begitu desas-desus di kalangan warga keesokan harinya.
Bayi kembar harus diruwat, karena ari-ari nya yang satu tak kan ikhlas melepas. Ari-ari nya mengadu, bahkan mengganggu. Begitu suara warga yang lain memberi pandangan.
Namanya terlalu berat, Muhammad tidak cocok dilekatkan pada bayi mungil ini, kata kakek yang duduk di samping ibu, suatu pagi.
Sejak saat itu, dua bayi tersebut ditempatkan terpisah. Di ranjang kecil berbeda. Ari-ari nya yang dipendam di depan rumah disirami air bunga dan dipasangi lampu, dengan harapan bayi tak lagi diganggu.
Namun, nama Muhammad tak diganti. Bapak dan ibu tidak yakin nama ini jadi penyebab tubuh bayi menggigil saat pembacaan barzanji malam itu.
Waktu terus bergerak, menimbun serpihan-serpihan masa lalu anak-anak. Tak terasa, bayi mungil itu sudah tujuh tahun menapaki dunia. Panas tubuhnya yang pernah terjadi di hari ke 40, tak pernah terulang lagi. Hingga suatu malam, saat ia berangkat ke masjid di bulan maulid.
Masjid ramai jamaah termasuk anak-anak yang akan merayakan malam kelahiran Rosulullah Muhammad. Bocah tujuh tahun itu duduk di tengah, diapit kakak dan ayah. Shalawat nabi tiba-tiba menyeruak. Aroma bunga menebar ke seluruh isi masjid. Aroma harum seolah dikirim dari dalam surga. Lantunan shalawat semakin nyaring terdengar, dan tiba-tiba terdiam berganti gemuruh kepanikan; bocah tujuh tahun itu kembali menggigil, panas, tubuhnya terasa terbakar. Ayah dan kakak terpaksa pulang lebih awal, menggendong tubuh sang anak yang terus menggigil.
Di rumah, ibu semakin tak mengerti apa yang terjadi. Kamu kenapa nak? Kata ibu setelah bocah tujuh tahun itu terbaring di atas dipan. Tubuh kecilnya tak menjawab, pandangannya kosong menembus atap. Bocah itu akhirnya lelap dalam pelukan ibu.
Atas saran berbagai pihak dan jalan istikharah, di usia ke 17 tahun, bayi mungil yang dulu selalu menggigil tersebut diganti nama menjadi; Ahmad Baihaqi.
Allahumma shalli ala Muhammad


2 komentar: