(Ahmad Baihaqi)
Udara pengap. Mendung menyelimuti langit di
atas jalan Panggung nomor 36 kawasan Ampel Surabaya sore itu (18/12/15).
Di depan sebuah toko berarsitektur kuno, mataku tertuju
pada seorang tukang parkir yang sejak tadi memperhatikan kami. Ia adalah
karyawan ibu Layla, pemilik toko, perempuan yang sudah berumur 72 tahun
yang akan kami temui.
Beberapa saat kemudian kami dibawa ke
dalam, melewati lorong di samping toko. Di belakang, setelah melewati
berbagai pintu, kami dipersilahkan duduk di tempat yang biasa digunakan
menerima tamu. Beberapa buah kursi kayu ukiran tempo dulu, berderet
melingkar dengan meja mungil di tengahnya.
Sebuah teko berbahan kuningan, nangkring di atas meja, dengan cangkir-cangkir kecil berbahan serupa berjejer di depannya.
"Inilah rumah saya, Tuhan menitipkan amanah yang luar biasa yang harus
saya jaga dan syukuri" kata ibu Layla sesaat setelah ia menemui kami. Saya dan kakak hanya tersenyum. Lalu mereka berdua melanjutkan pembicaraan.
Kunci sukses itu hanya satu, yakni jujur dalam berusaha. Tidak berbuat
curang dan tidak adil pada sesama terutama rekan bisnis" ujar bu Layla
setelah kami tanya kunci kesuksesan usahanya.
Dulu, Ibu Layla
adalah seorang PNS di lingkungan pemerintah kabupaten di sekitar
Surabaya. Namun ia memilih berhenti jadi PNS karena tidak suka dengan
kepala dinas selaku atasannya, yang menghalalkan segala cara untuk
mendaptkan duit.
Ibu Layla kemudian berjualan batik. Awalnya ia
membeli beberpa potong batik Madura, batik Solo dan Pekalongan. Ia
terinspirasi Batik Danar Hadi yang sukses. Dari berjualan batik,
ia mulai mendapat banyak keuntungan. Hingga pada tahun kedua, ia sudah
bisa membeli rumah sederhana di kawasan jalan Panggung ini. Hampir 30
persen, rumah-rumah yang berderet di sepanjang jalan panggung kini sudah
menjadi miliknya.
Baginya harta adalah titipan, Allah tidak akan
memberikan titipannya kepada orang yang dianggap belum bisa memegang amanah. Jadi
jangan berputus asa, usaha dan doa harus terus dilakukan. Begitu pesannya.
Kedatangan kami ke rumah ibu Layla, dalam rangka menyewa tanahnya di
perempatan Taman Dayu Pandaan untuk pemancangan tiang reklame. Tapi ini
tidaklah penting.
Saya lebih tertarik pada sosok Ibu Layla.
Perempuan senja yang masih semangat berusaha. Menurutnya, ia hanya
menggunakan waktu sedikit untuk tidur. Selebihnya untuk ibadah dan
memantau perkembangan usahanya. Ia baru bisa tidur jam 1 dini
hari dan bangun jam 3 pagi. Ia kembali tidur kembali pada jam 6 sampai
jam 7 pagi. Jam 8 ia keluar rumah, mencari rejeki halal dengan memantau
berbagai usahanya mulai toko permata, penukaran valuta asing, gerai
batik, dan SPBU di dua lokasi di Surabaya utara.
Usaha yang ia
bangun dari kecil, mengantarkan ke puncak kesuksesan. Ia tak hanya kaya
dalam hal materi, tapi kekayaan batin melebihi dari kekayaan yang tampak
nyata di depan mata.
Setiap hari Jumat, ibu Layla meminta
pegawainya menyiapkan uang pecahan seribu dan dua ribu rupiah dalam
jumlah besar untuk dibagikan ke pengemis, pengamen dan fakir miskin yang
datang ke tokonya. Ibu beranak satu ini juga meminta pembantunya memasak
lebih banyak dibanding hari-hari biasa untuk dibagikan ke panti asuhan.
Sore mulai beranjak petang, kami harus berpamitan. Saya beruntung
dipertemukan Tuhan dengan Ibu Layla, tidak saja karena bisa mengorek
kisah suksesnya, tapi wejangan-wejangan yang menyejukkan selalu ia sampaikan
sebagai penenang dan penyemangat menjalani kehidupan.
Pamekasan, 21 Desember 2015
Tidak ada komentar:
Posting Komentar