Kamis, 03 Maret 2016

Nur Layla Baghja

(Ahmad Baihaqi)

Udara pengap. Mendung menyelimuti langit di atas jalan Panggung nomor 36 kawasan Ampel Surabaya sore itu (18/12/15). Di depan sebuah toko berarsitektur kuno, mataku tertuju pada seorang tukang parkir yang sejak tadi memperhatikan kami. Ia adalah karyawan ibu Layla, pemilik toko, perempuan yang sudah berumur 72 tahun yang akan kami temui.

Beberapa saat kemudian kami dibawa ke dalam, melewati lorong di samping toko. Di belakang, setelah melewati berbagai pintu, kami dipersilahkan duduk di tempat yang biasa digunakan menerima tamu. Beberapa buah kursi kayu ukiran tempo dulu, berderet melingkar dengan meja mungil di tengahnya.
Sebuah teko berbahan kuningan, nangkring di atas meja, dengan cangkir-cangkir kecil berbahan serupa berjejer di depannya.


"Inilah rumah saya, Tuhan menitipkan amanah yang luar biasa yang harus saya jaga dan syukuri" kata ibu Layla sesaat setelah ia menemui kami. Saya dan kakak hanya tersenyum. Lalu mereka berdua melanjutkan pembicaraan.

Kunci sukses itu hanya satu, yakni jujur dalam berusaha. Tidak berbuat curang dan tidak adil pada sesama terutama rekan bisnis" ujar bu Layla setelah kami tanya kunci kesuksesan usahanya.

Dulu, Ibu Layla adalah seorang PNS di lingkungan pemerintah kabupaten di sekitar Surabaya. Namun ia memilih berhenti jadi PNS karena tidak suka dengan kepala dinas selaku atasannya, yang menghalalkan segala cara untuk mendaptkan duit.

Ibu Layla kemudian berjualan batik. Awalnya ia membeli beberpa potong batik Madura, batik Solo dan Pekalongan. Ia terinspirasi Batik Danar Hadi yang sukses. Dari berjualan batik, ia mulai mendapat banyak keuntungan. Hingga pada tahun kedua, ia sudah bisa membeli rumah sederhana di kawasan jalan Panggung ini. Hampir 30 persen, rumah-rumah yang berderet di sepanjang jalan panggung kini sudah menjadi miliknya.

Baginya harta adalah titipan, Allah tidak akan memberikan titipannya kepada orang yang dianggap belum bisa memegang amanah. Jadi jangan berputus asa, usaha dan doa harus terus dilakukan. Begitu pesannya.
Kedatangan kami ke rumah ibu Layla, dalam rangka menyewa tanahnya di perempatan Taman Dayu Pandaan untuk pemancangan tiang reklame. Tapi ini tidaklah penting.

Saya lebih tertarik pada sosok Ibu Layla. Perempuan senja yang masih semangat berusaha. Menurutnya, ia hanya menggunakan waktu sedikit untuk tidur. Selebihnya untuk ibadah dan memantau perkembangan usahanya. Ia baru bisa tidur jam 1 dini hari dan bangun jam 3 pagi. Ia kembali tidur kembali pada jam 6 sampai jam 7 pagi. Jam 8 ia keluar rumah, mencari rejeki halal dengan memantau berbagai usahanya mulai toko permata, penukaran valuta asing, gerai batik, dan SPBU di dua lokasi di Surabaya utara.

Usaha yang ia bangun dari kecil, mengantarkan ke puncak kesuksesan. Ia tak hanya kaya dalam hal materi, tapi kekayaan batin melebihi dari kekayaan yang tampak nyata di depan mata.

Setiap hari Jumat, ibu Layla meminta pegawainya menyiapkan uang pecahan seribu dan dua ribu rupiah dalam jumlah besar untuk dibagikan ke pengemis, pengamen dan fakir miskin yang datang ke tokonya. Ibu beranak satu ini juga meminta pembantunya memasak lebih banyak dibanding hari-hari biasa untuk dibagikan ke panti asuhan.

Sore mulai beranjak petang, kami harus berpamitan. Saya beruntung dipertemukan Tuhan dengan Ibu Layla, tidak saja karena bisa mengorek kisah suksesnya, tapi wejangan-wejangan yang menyejukkan selalu ia sampaikan sebagai penenang dan penyemangat menjalani kehidupan.

Pamekasan, 21 Desember 2015

Tidak ada komentar:

Posting Komentar