Oleh:
Laili Ivana
Apa sih gunanya belajar bahasa Indonesia?
Pertanyaan itu sering sekali saya dengar. Tidak hanya siswa, rekan-rekan pun
sering bertanya (lebih tepatnya meledek) seperti itu. Bahkan, orang yang baru kenal pun berani bertanya demikian ketika tahu profesi
saya guru bahasa Indonesia.
Saya akui, sebenarnya saya pun merasa “terjerumus” ketika kuliah di jurusanbahasa Indonesia. Pilihan
utama saya adalah bahasa Inggris. Namun, nasib berkata lain. Saya diterima di
jurusan bahasa Indonesia. Dengan berat hati, saya akhirnya masuk ke jurusan itu.
Memang, firman Allah SWT selalu benar. “Apa yang baikmenurut manusia belum tentu
baik menurut Allah, begitupun sebaliknya.”
Alhamdulillah, sampai saat ini, saya punya penghasilan daribahasa Indonesia
yang belum tentu saya dapatkan jika saya kuliah di jurusan lain.
Karena jasa bahasa Indonesia itulah, saya merasa berhutang
budi untuk meluruskan persepsi masyarakat yang selama ini cenderung
“meremehkan” pelajaran bahasa Indonesia. Persepsi miring terhadap bahasa
Indonesia, menurut saya, adalah salah satu dosa dari pendekatan struktural yang
diadopsi habis-habisan dalam pembelajaran bahasa Indonesia tempo dulu.
Pendekatan ini hanya melihat bahasa dari strukturnya. Mereka
yang mengalami pembelajaran bahasa Indonesia di era kurikulum 1984 atau sebelumnya
tentu sangat akrab dengan pende katan ini. Pelajaran bahasa Indonesia waktu itu
hanya berisi pencarian subjek, predikat, objek, kata kerja dan teori-teori tata
bahasa yang lain.
Produk dari pendekatan tersebut adalah manusia-manusia
yang hanya pandai mengutak-atik kalimat, menemukan rumus kalimat, dan mencari-cari
kesalahan kalimat atau kata yang diucapkan orang lain. Hasilnya, banyak siswa
yang tidak bias berbicara, menulis, menyimak, dan membaca meskipun sudah lulus
SMA, bahkan perguruan tinggi.
Ironisnya, tidakhanyasiswa, banyak guru yang masih tertatih-tatih dalam berbahasa
Indonesia yang baik dan benar. Saya pernah terkejut ketika dimintai tolongmembuat
teks pidato oleh teman saya sesama guru bahasa Indonesia.
Saya
yakin, tidak hanya beliau yang mengalami kesulitan dalam hal kemampuan berbahasa.Saya
pernah menemukanbeberapa guru yang
menulis satu paragraph saja satu jam tidak jadi. Ada juga yang memilih kabur ketika ditunjuk menjadi
pembawa acara apalagi berpidato. Bahkan, untuk menulis surat resmi pun, banyak
guru yang kesulitan atau melakukan kesalahan.
Seharusnya,
hal-hal seperti itulah yang menjadi urusan pelajaran bahasa
Indonesia. Pelajaran bahasa Indonesia seharusnya berisi latihan-latihan kemampuan
berbahasa. Yakni, berbicara, membaca, menulis, dan menyimak. Kemampuan berbicara
diantaranya berpidato, menjadi MC, menyampaikan sambutan, dll. Kemampuan membaca
termasuk membaca cepat, merumuskan ide bacaan, dan membuat ringkasan bacaan. Kemampuan
menulis meliputi, menulis artikel, surat, paragraph, dll. Kemampuan menyimak,
misalnya, menemukan inti informasi yang disimak dan merumuskan informasi yang
disimak.
Bila
masyarakat memahami bahwa kemampuan-kemapuan itu diajarkan dalam bahasa
Indonesia, saya yakin bahasa Indonesia akan menjadi pelajaran favorit. Tanpa bahasa
Indonesia, orang Indonesia tidak akan dapat berkomunikasi dengan baik. Apapun cita-cita
siswa, profesi apapun yang akan digelutinya kelak, tentu sangat membutuhkan kemampuan
berbahasa yang baik dan benar.
Direktur
sebuah perusahaan tentu membutuhkan kemampuan berbicara dalam memimpin rapat, memberikan
pidato atau sambutan. Pegusaha harus punya kemampuan berkomunikasi baik berbicara
maupun menulis dengan paragraph persuasi. Bahkan, banyak profesi yang langsung berhubungan dengan kemampuan bahasa
Indonesia. Misalnya, wartawan, pembawa acara, penyiar. Bagaimana? Masih meremehkan
bahasa Indonesia?
Va... tulisanmu keren banget👍👍👍
BalasHapusBerbahasalah dgn baik dan benar. Mungkin itu kuncinya ya iva
BalasHapus