Senin, 07 Maret 2016

Reorientasi Mapel Bahasa Indonesia*


Oleh: Laili Ivana

            Apa sih gunanya belajar bahasa Indonesia? Pertanyaan itu sering sekali saya dengar. Tidak hanya siswa, rekan-rekan pun sering bertanya (lebih tepatnya meledek) seperti itu. Bahkan, orang  yang baru kenal  pun berani bertanya demikian ketika tahu profesi saya guru bahasa Indonesia.
            Saya akui, sebenarnya saya pun merasa  “terjerumus”  ketika kuliah di jurusanbahasa Indonesia. Pilihan utama saya adalah bahasa Inggris. Namun, nasib berkata lain. Saya diterima di jurusan bahasa Indonesia. Dengan berat hati, saya akhirnya masuk ke jurusan itu. Memang, firman Allah SWT selalu benar. “Apa yang baikmenurut manusia belum tentu baik menurut  Allah, begitupun sebaliknya.” Alhamdulillah, sampai saat ini, saya punya penghasilan daribahasa Indonesia yang belum tentu saya dapatkan jika saya kuliah di jurusan lain.
            Karena jasa bahasa Indonesia itulah, saya merasa berhutang budi untuk meluruskan persepsi masyarakat yang selama ini cenderung “meremehkan” pelajaran bahasa Indonesia. Persepsi miring terhadap bahasa Indonesia, menurut saya, adalah salah satu dosa dari pendekatan struktural yang diadopsi habis-habisan dalam pembelajaran bahasa Indonesia tempo dulu.
            Pendekatan ini hanya melihat bahasa dari strukturnya. Mereka yang mengalami pembelajaran bahasa Indonesia di era kurikulum 1984 atau sebelumnya tentu sangat akrab dengan pende katan ini. Pelajaran bahasa Indonesia waktu itu hanya berisi pencarian subjek, predikat, objek, kata kerja dan teori-teori tata bahasa  yang lain.
            Produk dari pendekatan tersebut adalah manusia-manusia yang hanya pandai mengutak-atik kalimat, menemukan rumus kalimat, dan mencari-cari kesalahan kalimat atau kata yang diucapkan orang lain. Hasilnya, banyak siswa yang tidak bias berbicara, menulis, menyimak, dan membaca meskipun sudah lulus SMA, bahkan perguruan tinggi.
            Ironisnya, tidakhanyasiswa, banyak  guru yang masih tertatih-tatih dalam berbahasa Indonesia yang baik dan benar. Saya pernah terkejut ketika dimintai tolongmembuat teks pidato oleh teman saya sesama guru bahasa Indonesia.
Saya yakin, tidak hanya beliau yang mengalami kesulitan dalam hal kemampuan berbahasa.Saya pernah menemukanbeberapa  guru yang menulis satu paragraph saja satu jam tidak jadi.  Ada juga yang memilih kabur ketika ditunjuk menjadi pembawa acara apalagi berpidato. Bahkan, untuk menulis surat resmi  pun,  banyak guru yang kesulitan atau melakukan kesalahan.
Seharusnya, hal-hal seperti  itulah  yang menjadi urusan pelajaran bahasa Indonesia. Pelajaran bahasa Indonesia seharusnya berisi latihan-latihan kemampuan berbahasa. Yakni, berbicara, membaca, menulis, dan menyimak. Kemampuan berbicara diantaranya berpidato, menjadi MC, menyampaikan sambutan, dll. Kemampuan membaca termasuk membaca cepat, merumuskan ide bacaan, dan membuat ringkasan bacaan. Kemampuan menulis meliputi, menulis artikel, surat, paragraph, dll. Kemampuan menyimak, misalnya, menemukan inti informasi yang disimak dan merumuskan informasi yang disimak.
Bila masyarakat memahami bahwa kemampuan-kemapuan itu diajarkan dalam bahasa Indonesia, saya yakin bahasa Indonesia akan menjadi pelajaran favorit. Tanpa bahasa Indonesia, orang Indonesia tidak akan dapat berkomunikasi dengan baik. Apapun cita-cita siswa, profesi apapun yang akan digelutinya kelak, tentu sangat membutuhkan kemampuan berbahasa yang baik dan benar.
Direktur sebuah perusahaan tentu membutuhkan kemampuan berbicara dalam memimpin rapat, memberikan pidato atau sambutan. Pegusaha harus punya kemampuan berkomunikasi baik berbicara maupun menulis dengan paragraph persuasi. Bahkan, banyak profesi  yang langsung berhubungan dengan kemampuan bahasa Indonesia. Misalnya, wartawan, pembawa acara, penyiar. Bagaimana? Masih meremehkan bahasa Indonesia?
*Dimuat di Harian Jawa Pos, Jumat, 16 Januari 2009 sebagai salah satu nominasi lomba menulis artikel untuk guru

2 komentar:

  1. Va... tulisanmu keren banget👍👍👍

    BalasHapus
  2. Berbahasalah dgn baik dan benar. Mungkin itu kuncinya ya iva

    BalasHapus