Siti
Ani
Diah
Nining
Lila
Intro lagu: Ambilkan Bulan Bu
Anak-anak berseragam sekolah bermain-main sebelum bel masuk kelas. Seorang anak dengan pakaian bebas dan lusuh ikut bermain di halaman sekolah. Selang beberapa waktu, bel pun berbunyi. Semua anak berseragam mulai berbaris untuk masuk kelas kemudian keluar panggung. Anak tak berseragam, sebut saja Siti, tersingkir berada di sisi panggung lainnya sembari melihat siswa-siswa masuk kelas dengan wajah melas & berharap.
Setelah semua siswa keluar panggung, Siti beranjak ingin melihat proses belajar di dalam kelas. Namun, ia teringat bahwa ia harus menjual barang daganga
nnya agar mendapatkan uang untuk biaya hidup keluarganya.
Siti : Pisang goreng, tape goreng … Pisang gorengnya, pak? (dia meletakkan dagangannya di bawah sambil menyiapkan uang receh untuk kembalian)
(Masuk Ani dengan membawa alat musik buatannya dari kayu yang diberi tutup botol yang digepengkan)
Ani : Bagaimana, Ti? Sudah ada yang laku?
Siti : Alhamdulillah, sudah ada beberapa yang laku. Kamu sendiri bagaimana, An?
Ani : Sepi, Ti. Tadi diperempatan banyak polisi yang berjaga-jaga. Mereka biasanya mengusir para pengamen. Aku takut dan capek dikejar-kejar Satpol PP.
Siti : Sudahlah, An, mungkin belum rejekinya kamu mendapat hasil yang banyak.
Ani : Ah, mereka sukanya menggusur dan mengusir orang saja.
Siti : Bukan, mereka cuma melaksanakan tugasnya saja … Pak, pisang gorengnya, enak dan murah!
Ani : Lho, kamu ini kok malah membela mereka? Kamu sendiri, kan pernah tertangkap oleh mereka. Akibatnya, kamu malah dimasukkan panti sosial, ya kan?
Siti : Iya, tapi di panti sosial itu, aku mendapatkan nasihat bahwa anak-anak seusiaku harusnya belajar di sekolah, bukan berada berjualan di jalan. Hal itulah yang menggugah hatiku. Aku ingin sekali sekolah. Belajar seperti anak-anak yang lain.
Ani : Iya, siap sih yang tidak ingin memakai seragam, membawa tas, belajar menulis dan membaca, serta bermain dengan teman-teman yang banyak?
Siti : Makanya itu, aku setiap pagi selalu melewati sekolah, berharap ada seseorang yang mengajakku masuk ke kelas.
Ani : Heh, berharap … harapan yang semu.
Siti : Bukan … bukan harapan semu. Tapi aku yakin, pasti nanti ada dan terwujud!
Ani : Ah, sudahlah. Kita hanya anak orang miskin yang hanya bisa bermimpi menggapai bintang di langit. Semakin tinggi kita menggapainya, semakin tinggi bintang itu berada. Nah, tuh, jalanan sudah mulai ramai. Semoga saja banyak pengemudi yang dermawan.
Siti : Baiklah, hati-hati, ya, An!
(Ani beranjak pergi ke luar panggung sambil bernyanyi sepenggal lagu kesukaannya disusul Siti sambil menawarkan dagangannya)
--- 0 ---
Bel sekolah berdentang nyaring pertanda waktu istirahat bagi para siswa menikmati kue dan minuman yang dibawanya dari rumah. Diah, Nining, dan Lila memasuki panggung dengan membawa kotak makanannya. Dari wajahnya terpancar keceriaan.
Diah : Ning, kamu dibawakan apa oleh ibumu?
Nining : Aku dibawakan nasi, ayam goreng, dan kecap. Kalau kamu?
Diah : Kalau aku, nasi, tempe kecap dan perkedel jagung kesukaanku. Kalau kamu Lil?
Lila : Gak banyak, Cuma nasi goreng buatan ibuku.
Nining : Wah, dari baunya rasanya enak, nih. Coba lihat, Lil!
Lila : (sambil menunjukkan kotak makanannya) Nih! Mau tukaran lauknya?
Nining : Hah, begitu kamu bilang cuma nasi goreng? Ada sosis, ada potongan naget, ada kacang polong, dan … wih! Ini sih, menu istimewa. Boleh, kalau mau sedikit tukaran lauk. Kamu mau apa dari punyaku?
Lila : Kecapnya aja sedikit. Kamu mau juga, Di?
Diah : Aku tukar dengan tempe kecap, boleh ngga?
Lila : Boleh.
(Tiba-tiba masuk Siti ke pinggir panggung dengan membawa dagangannya. Dia memperhatikan ketiga siswa itu dengan wajah berharap cemas)
Nining : Eh, lihat tuh! Ada anak jual gorengan. Dia melihati kita terus dari tadi.
Diah : Biarkan saja! Anak kumuh begitu kok diperhatikan. Nanti hilang selera makanku. Kita pindah saja, yuk?
Lila : Sebentar … kelihatannya dia ingin sesuatu dari kita.
(Kemudian Lila menghampiri Siti tapi dicegah oleh teman-temannya)
Diah : Eh, Lil, jangan! Gak usah ke sana, Nanti kita ikutan kumuh!
Lila : Ah, jangan bilang begitu. Dia manusia juga kan?
Nining : Apa sih, maunya anak itu? Kok suka-sukanya melototi kita? Memangnya, kita ini badut?
(Lila hanya geleng-geleng kepala melihat respon kedua temannya itu. Tapi, dia tidak perduli dengan omongan mereka. Dia tetap berjalan menghampiri Siti)
Lila : Siapa namamu?
Siti : Siti
Lila : Namaku Lila. Kedua temanku itu, yang rambutnya diikat namanya Diah dan yang memegang kotak makanan itu namanya Nining. Kenapa kamu jualan? Apa kamu tidak sekolah?
Siti : (tertunduk malu) Tidak, aku tidak sekolah. Orang tuaku tidak punya biaya. Untuk makan sehari-hari, aku harus berjualan.
Lila : Memangnya orang tuamu kerja apa?
Siti : Bapakku tidak bekerja setelah kecelakaan dua tahun lalu dan ibuku hanyalah buruh cuci pakaian.
(Tiba-tiba Diah memanggil)
Diah : Lil, kemari! Jangan lama-lama berdekatan dengannya. Nanti kamu kena tetanus, lo.
Lila : Eh, teman-teman kemarilah. Ada yang perlu kalian lihat.
Diah : Nggak, ah.
Nining : Aman tidak di situ?
Lila : Sudahlah, kalian jangan menghina dia. Kemarilah agar kalian tahu sesuatu yang berharga bagi kalian. Ayo, cepat kemari!
(Dengan sedikit enggan, Diah dan Nining menghampiri Lila dan Siti)
Lila : Nih, kenalkan, namanya Siti.
(Keduanya canggung mengulurkan tangannya)
Lila : Ayolah, jabatlah tangannya seperti kalian menjabat tanganku.
(Akhirnya keduanya terpaksa menjabat tangan Siti yang telah mengulurkan tangannya dengan menunduk malu)
Siti : Siti (diucapkan pelan)
Diah : Diah (dengan gerakan tangan hampir seperti menyentuh dengan perasaan jijik)
Nining : Nining (disertai cibiran bibir)
Lila : Maafkan kedua temanku ini. Mereka tidak mengerti dirimu yang sesungguhnya.
Siti : Tidak apa-apa. Aku sudah terbiasa, kok.
Diah : Sudah cukup kenalannya. Kita harus bersiap-siap untuk ulangan nanti.
Nining : Iya, aku masih belum hafal peta buta. Ibu kota Argentina dan Kanada letaknya di mana, ya?
Siti : Ibukota Argentina itu Lima. Kalau Kanada itu Canberra.
Lila : Hah, kamu kok tahu? Padahal kamu kan tidak pernah membaca buku pelajaran?
Siti : Aku membaca kok. Aku membaca dari kertas-kertas bungkus ini (sambil menunjukkan sobekan kertas dari tempat dagangannya).
Lila : Hebat! Aku tidak percaya kalau kamu anak yang bodoh. Memangnya kamu tidak ingin bersekolah seperti kami?
Siti : (tiba-tiba matanya memancarkan harapan dan suara bernada mantap) Ingin, ingin sekali. Selama ini aku juga membaca surat kabar dari para pengasong di perempatan jalan itu.
Diah : Iya, kalau pelajaran IPS, dengan membaca surat kabar dan majalah sudah bisa tahu kota-kota di dunia. Tapi, kalau pelajaran matematika, kan harus punya buku matematika. Bisakah kamu menyebutkan lima bilangan prima?
Siti : Bilangan prima adalah bilangan yang tidak habis dibagi dua kecuali dengan bilangan itu sendiri. Contohnya 3, 5, 7, 11, 17, dan seterusnya. Perkecualian untuk bilangan 2.
Lila : Apa kataku! Makanya, kalian jangan memandang orang dari kulit luarnya saja. Kalau begitu, bagaimana kalau kamu ikut kami main. Nanti kamu saya pinjami buku bacaanku. Bagaimana?
(Diah dan Nining mengangguk dengan pandangan tak percaya kepada Siti. Mereka bermain hingga bel masuk berbunyi)
Lila : Maaf, ya. Kami harus masuk kelas dulu. Nanti kita ketemu lagi sepulang sekolah. Bagaimana?
Siti : Iya, tidak apa-apa. Nanti aku tunggu di pintu gerbang sekolah ini. Sampai ketemu nanti, ya?
(Lila, Diah, dan Nining keluar panggung. Tinggal Siti yang masih memperhatikan mereka bertiga masuk kelas. Tiba-tiba datang Ani sambil lari ketakutan)
Ani : Siti, lari! Ada Satpol PP! Ayo!
(Siti terkejut dari angan-angannya hingga barang dagangannya terjatuh berserakan. Kemudian dia berusaha memunguti kue-kuenya dengan tergesa-gesa)
Ani : Sudah! Biarkan saja kue-kue itu. Nanti kamu tertangkap Satpol PP kalau tidak sembunyi!
Siti : Tidak! Aku tidak mau lari lagi. Aku capek … aku lelah bersembunyi dari kejaran Satpol PP. Kue-kue ini adalah tanggung jawabku. Kue-kue ini adalah aliran darah adik-adikku. Aku tidak mau lari! (sembari menangisi kuenya yang jatuh berserakan)
Ani : Kalau kamu tidak sembunyi, kamu akan tertangkap dan tidak bisa berjualan lagi. Terus siapa yang akan menghidupi adik-adikmu?
Siti : Aku … aku … aku ingin sekolah agar aku bisa bekerja menghidupi keluargaku, menyekolahkan adik-adikku …. (sembari menangis ketakutan).
(Tiba-tiba terdengar suara langkah kaki yang semakin cepat dan mendekat)
Ani : Hah, mereka sudah dekat! Ayo, sembunyi! Kalau tidak mau aku tinggal kamu!
Siti : (dengan nada sedikit mereda) Sudahlah, kamu saja yang lari dan bersembunyi. Aku akan menghadapi para petugas itu. Aku pasrah …. Ibu maafkan aku! Maafkan aku ibu (sambil memeluk tempat dagangannya dan menangis tersedu-sedu).
(Ani kemudian beranjak pergi dan bersembunyi. Tiba-tiba terdengar suara orang menjerit disertai bunyi benda yang keras. Siti terdiam sejenak kemudian menoleh ke belakang dan berlari ke luar panggung meninggalkan barang dagangannya. Lalu terdengar suara Siti berteriak memanggil Ani)
Siti : Aniii ….
--- 0 ---
(Sejenak kemudian Siti masuk panggung dengan menangis)
Siti : (sambil tertatih-tatih dan terisak) Ani … mengapa kamu harus mengalaminya? Apa salahmu? Kita hanya anak-anak yang mencoba bertahan hidup. Tapi mengapa harus kita yang menghadapi hal ini? Siapa yang akan menggantikanmu? Aku tidak punya teman lagi sebaik dirimu. Ani … temanku …
(Muncul Lila, Diah, dan Nining menghampiri Siti)
Lila : Siti, ada apa denganmu? Aku tadi mencari dan menunggumu di gerbang sekolah, tapi kamu tidak muncul-muncul.
Diah : Hah, kenapa tanganmu? Bajumu?
Nining : Siti, kamu terluka?
(Sejenak Siti melihat wajah ketiga teman barunya mulai dari Nining hingga Lila. Lalu dia berdiri dan memeluk Lila).
Lila : Siti, kamu tidak apa-apa, kan? Kamu tidak terluka, kan?
Siti : Tidak, aku tidak apa-apa (sambil mengusap air matanya).
Diah : Lalu, kenapa tangan dan bajumu?
Siti : Ini adalah darah teman seperjuanganku, teman baikku. Dia … dia telah meninggal tertabrak mobil ketika berusaha lari dari kejaran petugas.
Nining : Innalillahi wa innailaihi rojiun.
Diah : Lalu, kamu?
Siti : Aku sudah mencegahnya untuk lari. Aku sudah pernah mengatakan kepadanya, bahwa para petugas itu akan membawa kami ke tempat kami seharusnya berada, yaitu di sekolah, bukan di jalan (sambil menangis sesenggukan).
Lila : Sudahlah, Siti. Mungkin sudah takdir temanmu untuk disegerakan berada di sisi Allah. Kita doakan saja dia akan damai di sisi-Nya.
Nining : Iya, kamu jangan bersedih lagi. Kamu tidak akan sendiri, masih ada kami di sini.
Diah : Iya. Kami bisa menjadi teman baikmu.
Lila : Sudahlah, hapus air matamu. Kami sebenarnya membawa kabar baik untukmu. Tadi di sekolah, kami menceritakan dirimu kepada guru kami. Dan kami diminta membawamu untuk menghadap ke Kepala Sekolah kami. Sekarang kita ditunggu oleh beliau.
Nining : Iya, ternyata di sekolah kami ada beasiswa BOS bagi anak orang tidak mampu agar bisa tetap sekolah tanpa dipungut biaya sepeser pun.
(Wajah Siti tiba-tiba berubah dan terheran tidak percaya)
Siti : Benar?
Diah : Benar! Suerr! (sambil mengacungkan dua jarinya)
(Siti memperhatikan wajah Diah, Nining, dan Lila. Ketiganya mengangguk dengan senyum ceria)
Lila : Ayo, kita ke sekolah.
(Akhirnya semuanya beranjak keluar panggung)
Penutup: Nyanyian lagu Ku Bahagia
--- o SELESAI o ---
Muhammad Laila Ussarif, S.S.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar