Senin, 07 Maret 2016

Adikku Sayang*



  Aku punya seorang adik. Umurnya baru 6 tahun lebih 1 bulan. Ya, dia barusan merayakan ulang tahunnya. Aku ingat saat itu ia sangat gembira ketika teman-temannya menyanyikan lagu selamat ulang tahun. Wajahnya berseri-seri dengan senyum dan tawa riang. Ah, hatiku juga ikut bergembira. Tak terasa sebentar lagi ia akan masuk sekolah.
Aku ingat ketika dia diajak ke sekolahku, dia berlari ke sana ke mari lalu bilang kepada ibu, “Aku mau sekolah di tempat kakak. Boleh, nggak, Ma?” Ibuku menjawab, “Boleh, tapi nanti kalau sudah cukup umur dan lulus TK Nol Besar.” Meski jawaban ibu hanya sekedar untuk menyenangkan adikku, tapi wajah adikku menyiratkan bahwa jawaban itu sudah cukup memuaskan baginya. Kadang ketika dia ikut menjemputku tapi bel belum berbunyi, dia selalu berdiri di depan pintu masuk kelasku. Kadang aku suka, kadang juga aku kesal dan malu. Tapi, untuk apa aku malu. Toh, dia adalah adikku yang punya rasa ingin tahu.

Kini dia sudah bisa membaca kalimat pendek-pendek dan berhitung dari angka satu sampai sepuluh. Bila bepergian ke suatu tempat dia suka sekali menghitung benda-benda yang dilihatnya. Mulai dari becak hingga sepeda motor: satu, dua, tiga, empat, lima, enam, tujuh, delapan, sembilan, sepuluh.
Suatu hari aku disuruh ibu menjaga adikku karena ada rapat PKK di rumah tetangga sebelah. Untungnya adik sudah mandi, jadi aku tidak perlu rept-repot memandikannya. Aku pun belum bisa mandi sendiri. Supaya adikku tidak menangis, aku keluarkan semua mainannya. Aku sendiri melihat film Sponge Bob di televisi. Tiba-tiba, pyaarrr ....! Ha, apa itu? Ternyata adikku telah basah kuyup oleh air minum dari teko gelas yang dia jatuhkan. Aduuh! Jika ibu tahu, aku pasti dimarahi habis-habisan! Sebelum aku dimarahi, aku marahi adikku. “Adik, kamu ini kenapa? Nakal! Kamu tidak bisa diam, ya. Mainanmu, kan ada di situ. Kenapa kamu mainan teko? Bagaimana bila pecahannya terkena kamu? Dasar nakal!” Aku cubit pahanya dan dia pun menangis keras. Wah, wah, gawat! Jangan-jangan ibu mendengar tangisan adik. “Diam! Sudah diam, kalau nangis terus nanti dibawa Gendruwo!” Eh, tidak mereda, malah tambah keras tangis adikku. Aduh, bagaimana ini? “Sudah, sudah, nanti tidak aku kasih coklat kesukaanmu kalau tambah nangis.” Tangis adik pun mereda. Ah, lega rasanya. Aku ajak dia ke ruang tengah dan kuberi coklat kesukaannya. Lalu aku membersihkan bekas pecahan teko yang bertebaran di dapur.
Adik, kamu ini selalu nakal, tidak bisa diam, dan suka cari perhatian. Tapi, tingkahmu yang lucu, tawamu yang lepas, bahkan tangismu tidak bisa lepas dari ingatanku. Semua itu selalu mewarnai hari-hariku. Ingatlah adikku saat engkau besar nanti. Bulan depan kamu sudah masuk sekolah. Sejak saat itu, kamu akan mengenal luasnya dunia ini, kamu akan punya banyak teman, bahkan kamu akan mengetahui bahwa hidup ini kejam sekaligus indah. Kamu akan merasakan persaingan dengan temanmu untuk mendapatkan nilai terbaik dari gurumu. Suatu saat kamu akan merasa butuh akan keberadaan seorang teman. Dari semua itu, kamu harus ingat adikku tercinta, bahwa hidup ini sangatlah indah. Kejam adalah pikiran manusianya. Kamu jangan takut dengan semua itu karena aku kakakmu selalu berada di sampingmu dan selalu ada saat kamu butuhkan. Aku akan melindungimu dari marabahaya yang mendatangimu. Adikku sayang, jadilah orang yang baik dan berguna bagi ayah ibu, keluarga, masyarakat, bangsa serta negara ini. Wujudkan impian kedua orang tua kita untuk menjadi manusia terbaik.
---o--- Muhammad Laila Ussarif ---o---

*Pernah digunakan sebagai naskah Lomba Seni Peran Anak Tingkat Kota Malang, dan meraih juara II tahun 2006-2007

1 komentar: