Aku punya seorang adik.
Umurnya baru 6 tahun lebih 1 bulan. Ya, dia barusan merayakan ulang tahunnya.
Aku ingat saat itu ia sangat gembira ketika teman-temannya menyanyikan lagu
selamat ulang tahun. Wajahnya berseri-seri dengan senyum dan tawa riang. Ah,
hatiku juga ikut bergembira. Tak terasa sebentar lagi ia akan masuk sekolah.
Aku ingat ketika dia diajak ke
sekolahku, dia berlari ke sana ke mari lalu bilang kepada ibu, “Aku mau sekolah
di tempat kakak. Boleh, nggak, Ma?” Ibuku menjawab, “Boleh, tapi nanti kalau
sudah cukup umur dan lulus TK Nol Besar.” Meski jawaban ibu hanya sekedar untuk
menyenangkan adikku, tapi wajah adikku menyiratkan bahwa jawaban itu sudah
cukup memuaskan baginya. Kadang ketika dia ikut menjemputku tapi bel belum
berbunyi, dia selalu berdiri di depan pintu masuk kelasku. Kadang aku suka,
kadang juga aku kesal dan malu. Tapi, untuk apa aku malu. Toh, dia adalah
adikku yang punya rasa ingin tahu.
Kini dia sudah bisa membaca
kalimat pendek-pendek dan berhitung dari angka satu sampai sepuluh. Bila
bepergian ke suatu tempat dia suka sekali menghitung benda-benda yang
dilihatnya. Mulai dari becak hingga sepeda motor: satu, dua, tiga, empat, lima,
enam, tujuh, delapan, sembilan, sepuluh.
Suatu hari aku disuruh ibu
menjaga adikku karena ada rapat PKK di rumah tetangga sebelah. Untungnya adik
sudah mandi, jadi aku tidak perlu rept-repot memandikannya. Aku pun belum bisa
mandi sendiri. Supaya adikku tidak menangis, aku keluarkan semua mainannya. Aku
sendiri melihat film Sponge Bob di televisi. Tiba-tiba, pyaarrr ....! Ha, apa
itu? Ternyata adikku telah basah kuyup oleh air minum dari teko gelas yang dia
jatuhkan. Aduuh! Jika ibu tahu, aku pasti dimarahi habis-habisan! Sebelum aku
dimarahi, aku marahi adikku. “Adik, kamu ini kenapa? Nakal! Kamu tidak bisa
diam, ya. Mainanmu, kan ada di situ. Kenapa kamu mainan teko? Bagaimana bila
pecahannya terkena kamu? Dasar nakal!” Aku cubit pahanya dan dia pun menangis
keras. Wah, wah, gawat! Jangan-jangan ibu mendengar tangisan adik. “Diam! Sudah
diam, kalau nangis terus nanti dibawa Gendruwo!” Eh, tidak mereda, malah tambah
keras tangis adikku. Aduh, bagaimana ini? “Sudah, sudah, nanti tidak aku kasih
coklat kesukaanmu kalau tambah nangis.” Tangis adik pun mereda. Ah, lega
rasanya. Aku ajak dia ke ruang tengah dan kuberi coklat kesukaannya. Lalu aku
membersihkan bekas pecahan teko yang bertebaran di dapur.
Adik, kamu ini selalu nakal,
tidak bisa diam, dan suka cari perhatian. Tapi, tingkahmu yang lucu, tawamu
yang lepas, bahkan tangismu tidak bisa lepas dari ingatanku. Semua itu selalu
mewarnai hari-hariku. Ingatlah adikku saat engkau besar nanti. Bulan depan kamu
sudah masuk sekolah. Sejak saat itu, kamu akan mengenal luasnya dunia ini, kamu
akan punya banyak teman, bahkan kamu akan mengetahui bahwa hidup ini kejam
sekaligus indah. Kamu akan merasakan persaingan dengan temanmu untuk
mendapatkan nilai terbaik dari gurumu. Suatu saat kamu akan merasa butuh akan
keberadaan seorang teman. Dari semua itu, kamu harus ingat adikku tercinta, bahwa
hidup ini sangatlah indah. Kejam adalah pikiran manusianya. Kamu jangan takut
dengan semua itu karena aku kakakmu selalu berada di sampingmu dan selalu ada
saat kamu butuhkan. Aku akan melindungimu dari marabahaya yang mendatangimu.
Adikku sayang, jadilah orang yang baik dan berguna bagi ayah ibu, keluarga,
masyarakat, bangsa serta negara ini. Wujudkan impian kedua orang tua kita untuk
menjadi manusia terbaik.
---o--- Muhammad
Laila Ussarif ---o---
*Pernah
digunakan sebagai naskah Lomba Seni Peran Anak Tingkat Kota Malang, dan meraih
juara II tahun 2006-2007
Weee...pengalaman pribadi ya..bagusss
BalasHapus